Fakta Penggerebekan Pinjol Ilegal, Gaji Fantastis Tukang Teror Bikin Tercengang

Vanessa Nathania, Okezone · Sabtu 16 Oktober 2021 20:48 WIB
https: img.okezone.com content 2021 10 16 337 2487359 fakta-penggerebekan-pinjol-ilegal-gaji-fantastis-tukang-teror-bikin-tercengang-zXgw8ySkCo.jpg Pelaku pinjol ditangkap. (Foto: Ilustrasi/Dok Okezone.com)

JAKARTA – Banyaknya laporan masyarakat yang resah dengan pinjol ilegal membuat anggota kepolisian melakukan penggerebekan di sejumlah daerah. Salah satunya di sebuah ruko di Green Lake City, Kecamatan Cipondoh, Kota Tangerang, pada Kamis 14 Oktober 2021.

Selain di lokasi tersebut, penggerebekan juga dilakukan di Yogyakarta. Sebanyak 83 penagih utang pinjol ditangkap Polda Jabar.

Pengungkapan lokasi keberadaan pinjol itu sendiri diketahui dari hasil informasi masyarakat dan patroli siber. Apa saja fakta menarik dari kasus penggerebakan ini? Berikut ulasannya:

1. Ditetapkan Tersangka

Polisi menetapkan 3 orang tersangka dari kasus penggerebekan di Cipondoh. Satu dari ketiga tersangka merupakan direktur PT ITN. Inisial 3 pelaku yakni P, MAF, dan RW.

Sebelumnya, 32 orang karyawan PT ITN sudah dibawa ke kantor polisi untuk pemeriksaan lebih lanjut terkait dugaan kasus pinjol ini.

Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Pol Yusri Yunus mengatakan, pihaknya masih mendalami adanya kemungkinan tersangka baru.

Selain penangkapan dan penetapan tersangka, polisi juga membawa barang bukti berupa dokumen dan komputer untuk pengungkapan kasus pinjol ilegal tersebut.

2. Modus Penagihan yang Meresahkan

Berdasarkan hasil penyelidikan dan keterangan berbagai pihak, polisi mengungkapkan adanya modus penagihan yang meresahkan masyarakat, yaitu salah satunya dengan mengirimkan foto pornografi kepada orang yang mereka tagih.

MAF dan RW memiliki peranan yang sama, yaitu menagih para peminjam dan sama-sama melakukan modus yang meresahkan ini. Keduanya akan menggunakan foto pornografi yang seolah-olah milik korban untuk menagih utang mereka dan mengancam akan menyebarkannya.

Baca juga: Diteror dan Diancam Pinjol Ilegal? Segera Lapor Polisi! Jangan Takut

Menurut Yusri, aktivitas perusahaan ini sudah meresahkan masyarakat dengan menyebarkan privasi konsumen yang menggunakan jasa mereka. Selain itu, kolektor di perusahaan ini juga dinilai telah membuat stres masyarakat karena aksinya yang mengancam hingga menyebarkan konten pornografi.

3. Pasal Berlapis

Ketiga tersangka tersebut dijerat dengan Pasal 35 juncto Pasal 51 dan Pasal 27 juncto Pasal 45 UU ITE.

Sementara, selain tiga tersangka, puluhan karyawan yang lain hanya dikenai wajib lapor. 

“Untuk sementara tiga tersangka, sementara yang lain hanya wajib lapor," kata Yusri.

4. Gaji Fantastis

Selain di Cipondoh, polisi juga menangkap tujuh tersangka yakni RJ, JT, AY, HC, AL, VN, dan HH. Selain tujuh orang itu, Bareskrim sedang memburu satu Warga Negara Asing (WNA) ZJ yang diduga sebagai penyandang dana dari layanan penyebaran SMS ancaman tersebut. Tapi, polisi tak bisa menyebut asal mana WNA itu.

Penangkapan tujuh tersangka itu dilakukan di lima tempat kejadian perkara yang berbeda, yaitu, perumahan taman kencana Blok D1 No. 7 Cengkareng Jakarta Barat, perumahan long beach blok C No. 7 PIK Jakarta Utara, Green Bay Tower M 23 AS Pluit Penjaringan Jakarta Utara, Apartemen Taman Anggrek Tower 3 No. 29 B Jakarta Barat, Apartemen Laguna Tower B Lt. 28 No. 32 Pluit Penjaringan Jakarta Utara.

Dir Tipideksus Bareskrim Polri Brigjen Helmy Santika mengungkapkan bahwa, tujuh tersangka yang menebar teror ke korban pinjol itu, mendapatkan gaji sebesar Rp15-20 juta per bulannya. Bahkan, mereka juga mendapatkan tempat tinggal dan akomodasi sehari-hari di luar gaji.

"(Gajinya) antara Rp15-20 juta per bulan. Untuk tempat tinggal akomodasi disiapkan pendana tadi," kata Helmy dalam jumpa pers di Gedung Bareskrim Polri, Jakarta Selatan, Jumat (15/10/2021). 

5. Pengakuan Korban

Dedi, seorang korban yang terjerat pinjol PT ITN mengaku anaknya diintimidasi oleh perusahaan tersebut. Bentuk intimidasinya berupa ancaman sebagai buronan polisi hingga kemungkinan penculikan.

"Foto anak saya juga disebar ke relasi-relasi saya, dengan tulis-tulisan yang enggak-enggak," kata Dedi kepada wartawan di Kantor PT ITN pada Kamis (14/10/2021).

Semua bermula saat anak Dedi meminjam uang senilai Rp 2,5 juta ke salah satu aplikasi pinjol milik PT ITN di tahun 2019. Ketidakmampuan anak Dedi dalam membayar, membuat anaknya menjadi korban terror terus menerus. 

Bunganya juga dinilai tidak masuk akal karena berdasarkan pengalaman Dedi, anaknya harus membayar total Rp104 juta dari pinjaman sebelumnya Rp2,5 juta. "Anak saya katanya meminjam uang Rp2,5 juta, berbunga-bunga terus itu dari 2019 totalnya Rp104 juta saya bayar," ungkapnya. 

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini