Cerita Prabu Siliwangi Bikin Parit di Luar Benteng Ibu Kota Pajajaran

Avirista Midaada, Okezone · Jum'at 15 Oktober 2021 07:02 WIB
https: img.okezone.com content 2021 10 14 337 2486530 cerita-prabu-siliwangi-bikin-parit-di-luar-benteng-ibu-kota-pajajaran-iUqfjwtZZy.jpg Prabu Siliwangi (foto: istimewa)

PRABU SILIWANGI yang memerintah Kerajaan Pajajaran konon sempat membuat parit yang besar di luar benteng Pakuan. Parit ini konon digunakan untuk mengaliri drainase air di persawahan warga.

Benteng yang dikelilingi parit ini sendiri, sebagaimana dikutip dari buku "Hitam Putih Pajajaran : dari Kejayaan hingga Keruntuhan Kerajaan Pajajaran" tulisan Fery Taufiq El Jaquene, membentang dari Jembatan Bondongan sampai stasiun Batutulis, mengikuti rel kereta api sekarang.

 Baca juga: Cerita Kedekatan Prabu Siliwangi dengan Agama Islam dan Kesultanan Cirebon

Terdapat juga Gunungan dan Telaga Rena Mahawijaya yang letaknya berada di Bukit Badigul Rancamaya dan pada kaki Bukit Badigul. Telaga Rena Mahawijaya merupakan danau buatan yang diperuntukkan sebagai tempat upacara srada.

Seiring berkembangnya zaman, fungsi telaga ini tidak hanya sebagai tempat upacara, tetapi memiliki multifungsi yang implikasinya berdampak besar bagi kesejahteraan masyarakat. Wujud positif dari adanya Telaga Rena Mahawijaya adalah sebagai area penampungan air untuk membuat persediaan air ketiak musim kemarau datang.

 Baca juga: Melimpahnya Aset Kerajaan Pajajaran di Bawah Pimpinan Prabu Siliwangi

Sementara di ibu kota kerajaan Pakuan tinggal raja - raja Pajajaran dan warisan dari kerajaan terdahulu Sunda dan Galuh. Wilayah ini berada di dalam benteng yang tersusun kokoh untuk melindungi ibu kota Pakuan.

Potret raja yang menjadi simbolis masyarakat Sunda atas kebijaksanaan dalam memimpin rakyatnya adalah Sri Baduga Maharaja, atau lebih dikenal dengan sebutan Prabu Siliwangi.

Nama Siliwangi ini tercatat dalam naskah Siksasandang Karesian dan Carita Parahiyangan sebagai lakon pantun. Naskah tersebut tertulis Een koperen beeld (Praboe Siliwangi) in Telaga Bij Cheribon. Menurut tradisi lama, masyarakat Sunda terlalu segan atau tidak memperbolehkan menyebut seorang raja Kerajaan Pajajaran dengan sebutan Prabu Siliwangi.

Hingga sekarang masyarakat Sunda lebih mengenal Prabu Siliwangi dari pada Sri Baduga Maharaja, padahal nama kedua nama tersebut adalah satu orang yang menyandang asli dan gelar.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini