Oknum Polisi Banting Mahasiswa, Kompolnas: Tak Boleh Ada Kekerasan Berlebihan

Carlos Roy Fajarta, · Kamis 14 Oktober 2021 11:30 WIB
https: img.okezone.com content 2021 10 14 337 2486114 oknum-polisi-banting-mahasiswa-kompolnas-tak-boleh-ada-kekerasan-berlebihan-OAncRiHt8h.jpg Oknum polisi banting demonstran mahasiswa di Tangerang (Foto: istimewa)

JAKARTA - Komisioner Kompolnas, Poengky Indarti meminta polisi untuk tetap humanis dalam menghadapi aksi unjuk rasa dan pembubaran massa.

"Dalam menangani aksi demonstrasi, sudah ada aturan terkait penggunaan kekuatan. Ada tahapan-tahapannya. Tetapi pada intinya setiap tindakan anggota Polri dalam melakukan pengamanan harus tetap menghormati hak asasi manusia, sehingga tidak boleh ada kekerasan berlebihan," ujar Poengky Indarti, Kamis (14/10/2021).

Ia menyebutkan Kapolda Banten sudah meminta maaf atas tindakan oknum anggota kepolisian yang membanting mahasiswa yang tengah melakukan demonstrasi di Tangerang.

"Hal ini perlu ditindaklanjuti dengan pemeriksaan terhadap oknum anggota yang melakukan kekerasan berlebihan. Kapolda sudah meminta maaf atas tindakan anggota. Hal tersebut perlu ditindaklanjuti dengan pemeriksaan terhadap oknum anggota yang melakukan kekerasan berlebihan," kata Poengky Indarti.

Kompolnas mendesak Polri untuk lebih dalam lagi untuk memberikan pendidikan terhadap anggotanya dalam menghadapi aksi demonstrasi dengan memikirkan aspek Hak Asasi Manusia seperti yang tercantum dalam Perkap 1 tahun 2009 tentang Penggunaan Kekuatan dan Perkap 8 tahun 2009 tentang Implementasi Standar dan Prinsip HAM dalam pelaksanaan tugas Polri.

Baca juga: Oknum Polisi Banting Mahasiswa, Istana: Kritik adalah Hak Konstitusional!

"Kasus Tangerang ini harus menjadi refleksi bahwa anggota di lapangan masih harus dibekali pengetahuan tentang HAM dan penanganan demonstrasi. Mindsetnya perlu diluruskan, bahwa dalam menghadapi demonstran, polisi harus bertindak bijaksana," tambah Poengky Indarti.

Baca juga: Viral Polisi Banting Mahasiswa, Komnas HAM Minta Transparansi Pemeriksaan Oknum Pelaku

Polisi, kata dia, jangan sampai terpancing jika ada provokasi di lapangan. Penggunaan kekerasan boleh dilakukan ketika tindakan demonstran anarkis membahayakan nyawa polisi dan masyarakat.

"Jika tidak membahayakan, arahkan saja agar para demonstran bisa menyampaikan tuntutan secara damai. Memang anggota yang bertugas adalah bintara-bintara muda yang mungkin seumuran dengan para pendemo. Sehingga bisa jadi masih emosional menangani para pendemo," lanjut Poengky Indarti.

Ia menyebutkan, pentingnya arahan pimpinan dalam mempersiapkan personil-personilnya yang bertugas dan pengawasannya di lapangan. Selanjutnya harus segera di evaluasi agar ada perbaikan.

"Meski pada masa PPKM level 3 masih belum boleh berdemonstrasi dan aksi dikatakan tanpa izin, tetapi dalam membubarkan aksi harus humanis. Kuncinya dalam melakukan tindakan harus proporsional," pungkas Poengky Indarti.

Sebagaimana diketahui unjuk rasa mahasiswa yang berujung salah satu oknum polisi membanting mahasiswa tersebut bermula ketika mahasiswa memaksa menemui Bupati Tangerang di depan kantor Bupati Tangerang, Rabu 13 Oktober 2021.

Masih dalam momen HUT ke-389 Kabupaten Tangerang tersebut aksi unjuk rasa kemudian berujung aksi saling dorong antara mahasiswa pendemo dengan polisi. Dalam kericuhan tersebut ada oknum anggota polisi membanting salah satu pendemo dengan inisial MFA yang terekam video dan viral di media sosial.

Baca juga: Insiden Polisi Banting Mahasiswa, Kapolresta Tangerang: Saya Minta Maaf

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini