Pakar Hukum Nilai Aksi Polisi Banting Mahasiswa Termasuk Pidana Penganiayaan

Jonathan Nalom, MNC Media · Kamis 14 Oktober 2021 05:26 WIB
https: img.okezone.com content 2021 10 14 337 2485966 pakar-hukum-nilai-aksi-polisi-banting-mahasiswa-termasuk-pidana-penganiayaan-hcrUp7Q0Te.jpg Polisi banting mahasiswa di Tangerang (Foto: Ist)

JAKARTA - Ketua Asosiasi Ilmuan Praktisi Hukum Indonesia (Alpha) Azmi Syahputra angkat suara soal kejadian penganiayaan seorang anggota kepolisian yang tertangkap kamera membanting satu mahasiswa. Azmi mengatakan tindakan tersebut termasuk dalam tindak pidana penganiayaan.

“Atas perbuatan ini tidak bisa hanya minta maaf, apalagi minta maafnya karena ada video dan ada yang memviralkan. Oknum polisi ini harus di proses hukum, diperiksa propam dan proses pidana penganiyaannya,” ujar Azmi dalam keterangannya, Kamis (14/10/2021).

“Bukan delik aduan kok, semestinya perkaranya tetap lanjut,” sambungnya.

Azmi mengatakan tindakan tersebut merupakan tindakan kekerasan yang yang tidak sesuai dengan penanganan unjuk rasa. Oknum polisi, kata Azmi, juga menerobos pagar hukum dan standard operasional prosedur (SOP).

Baca Juga: Insiden Pembantingan Mahasiswa, Polda Banten dan Polresta Tangerang Minta Maaf

“Tentang pedoman pengendalian massa maupun Peraturan Kapolri Nomor 1 Tahun 2009 tentang penggunaan kekuatan dalam Tindakan Kepolisian,” tambahnya.

Azmi juga menilai penanganan unjuk rasa seperti itu juga sangat berisiko pecah kepala. Bahkan, katanya, tubuh korban dalam video tersebut sempat terlihat kaku.

“Bahkan beresiko pula tulang belakang retak atau patah,” tutur Azmi.

“Dalam hukum pidana dapat dikualifikasi sebagai penganiyaan, karena dapat disamakan tindakan pelaku telah merusak badan kesehatan, sebab dengan sengaja membanting seseorang dan perbuatannnya tersebut menimbulkan sakit atau luka,” tegas Azmi.

Lebih lanjut menurutnya masih terdapat standar penanganan unjuk rasa yang lebih wajar. “Kalau sikap polisi cuma dorong dorongan atau adanya kendaraan taktis untuk pengurai massa, termasuk penembakan gas air mata sekalipun masih dianggap wajar, dapat dimaklumi, namun tindakan bantingan membahayakan, ini sangat salah,” tegasnya.

Azmi berharap pimpinan Polri juga dapat melakukan langkah cepat serta terarah dan melakukan evaluasi atas perbuatan anak buah pada jajaran masing-masing. Apalagi, tambah Azmi, ada kejadian-kejadian lain yang juga sudah menjadi catatan di mata masyarakat seperti di Luwu, Kejadian ibu pedagang sayur di pasar Gambir Deli Serdang, kejadian kakek yang membela diri dari rampok di Demak.

“Termasuk hari ini kejadian penanganan demo di Tangerang, tindakan ini menambah rentetan rasa makin luka rakyat dan dapat membuat image kepolisian menjadi tidak baik di masyarakat,” ujarnya.

“Padahal diketahui semangat Kapolri terus berusaha melakukan hal-hal terbaik dan inovatif buat Polri.” tandasnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini