Gubernur Lemhanas Laporkan Hasil PPRA LXII dan PPSA XXIII ke Presiden Jokowi

Fahreza Rizky, Okezone · Rabu 13 Oktober 2021 14:06 WIB
https: img.okezone.com content 2021 10 13 337 2485652 gubernur-lemhanas-laporkan-hasil-ppra-lxii-dan-ppsa-xxiii-ke-presiden-jokowi-TEptdXQmUQ.jpg Gubernur Lemhannas, Letjen TNI (Purn) Agus Widjojo (Foto : tangkapan layar)

JAKARTA - Gubernur Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhanas) Letjen TNI (Purn) Agus Widjojo memberi laporan kepada Presiden Joko Widodo (Jokowi) terkait dengan penyelenggaraan Program Pendidikan Reguler Angkatan (PPRA) LXII dan Program Pendidikan Singkat Angkatan (PPSA) XXIII Tahun Ajaran 2021.

Penyampaian laporan tersebut dilakukan di Istana Negara, Jakarta, Rabu (13/10/2021) yang dihadiri oleh perwakilan alumni PPRA LXII dan peserta PPSA XIII. Sedangkan peserta lainnya mengikuti kegiatan ini secara virtual.

Agus melaporkan, PPRA LXII berlangsung selama tujuh bulan, dibuka pada 26 Januari 2021 dan ditutup pada 31 Agustus 2021. Sedangkan PPSA XXIII berlangsung selama lima setengah bulan, dibuka pada 14 April 2021 Dan akan berakhir pada 14 Oktober 2021.

"Jumlah peserta PPRA adalah sebanyak 80 orang terdiri dari pejabat terpilih setingkat eselon II dan III dari TNI-Polri 49 orang. Sedangkan 31 orang berasal dari Mahkamah Agung, Kejagung, kementerian, LPNK, pemprov, pemkab/kota, KADIN, DPD, parpol dan ormas," papar Agus sebagaimana dilihat dari kanal Youtube Sekretariat Presiden.

Baca juga: Gubernur Lemhannas: Kami Merasa Perlu Dalami Pendekatan Soft Power

Lulusan Akademi Militer (Akmil) 1970 ini mengungkapkan pada tahun ajaran 2021 tidak ada peserta PPRA dari negara sahabat. Sementara itu, jumlah peserta PPSA XXIII sebanyak 60 orang, terdiri dari pejabat setingkat eselon I dan II yang berasal dari TNI-Polri (36 orang), dan 24 lainnya berasal dari MPR, kementerian, LPNK, partai politik hingga ormas.

"Selama pendidikan, berlangsung kegiatan yang dilaksanakan, antara lain pembelajaran jarak jauh (e-learning) yang memanfaatkan teknologi informasi selama satu setengah bulan. Kedua, pembelajaran on campus diisi dengan kegiatan penting di antaranya studi lapangan isu strategis nasional," jelas Agus.

Baca juga: Belajar dari Agus Widjojo, Tentara Perlu Jago Bahasa Inggris

Untuk peserta PPRA LXII yang kini telah menjadi alumni, mereka mengunjungi lima lokasi yakni ke PT Inalum (Sumatera Utara), PT Sulawesi Mining Investment (Sulawesi Tengah), PT Aneka Tambang (Maluku Utara), PT Adaro Energy (Kalimantan Selatan), dan Sirkuit Mandalika (Nusa Tenggara Barat). Kunjungan dilakukan pada 25 Juni 2021. Sedangkan peserta PPSA XXIII tidak ada program kunjungan lapangan.

PPRA LXII, kata Agus, juga menggelar seminar bertajuk "Modal Sosial Budaya menjadi Kekuatan Nasional dalam Pemulihan Ekonomi di Tengah Pandemi Covid-19." Sedangkan PPSA XXIII membuat seminar dengan judul "Roadmap Sistem Pendidikan Alternatid dalam Pusaran Pandemi dan Perkembangan Teknologi Meyambut Indonesia Emas 2045."

"Hasil seminar akan dipaparkan peserta kepada bapak Presiden," kata Agus.

Hasil Kajian Hilirisasi Mineral

Agus menuturkan, Lemhanas juga membuat kajian tentang hilirisasi mineral strategis dan logam tanah jarang guna mendukung pertumbuhan ekonomi nasional. Ada lima jenis mineral strategis yang jadi kajian utama katena keterdapatannya di nusantara, yakni nikel; bauksit; tembaga; timah; dan besi.

"Jika mineral strategis tersebut dikembangkan akan mampu menopang kebutuhan industri dalam negeri sehingga Indonesia tidak tergantung pada mineral dari luar negeri," ucap Mantan Wakil Ketua MPR Fraksi ABRI itu.

Baca juga: Buku Tentara Kok Mikir: Kunyah 40 Kali Makanan Jadi Kebiasaan Agus Widjojo

Agus mengungkapkan, Indonesia sebetulnya adalah negara yang memiliki cadangan nikel terbesar di dunia sebagaimana disampaikan Presiden Jokowi. Agus yakin dalam waktu tiga hingga empat tahun ke depan Indonesia bisa menjadi produsen utama produk barang jadi berbasis nikel, asalkan manajemen pengelolaannya baik.

"Melalui manajemen pengelolaan yang baik Indonesia akan menjadi produsen utama produk-produk barang jadi berbasis nikel seperti baterai listrik dan baterai kendaraan listrik," imbuhnya.

Baca juga: Agus Widjojo: Walau Ada Bencana Besar, Jangan Langsung Minta Tolong ke TNI

"Hilirisasi industri nikel akan meningkatkan nilai tambah biji nikel secara signifikan. Jika diolah menjadi sel baterai, nilainya bisa meningkat enam sampai tujuh kali lipat. Dan jika jadi mobil listrik akan meningkat lagi nilai tambahnya, yakni 11 kali lipat," tutup Agus.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini