Prabu Siliwangi saat Muda Kerap Berkelana dan Jelajahi Hutan Belantara

Avirista Midaada, Okezone · Rabu 13 Oktober 2021 06:01 WIB
https: img.okezone.com content 2021 10 13 337 2485397 prabu-siliwangi-saat-muda-kerap-berkelana-dan-jelajahi-hutan-belantara-FC376XGJKH.jpg Raja Pajajaran, Prabu Siliwangi (foto: istimewa)

KERAJAAN PAJAJARAN mengalami puncak kejayaan saat dipimpin oleh Sri Baduga Maharaja. Sri Baduga memimpin Pajajaran, setalah menyatukan kedua kerajaan. Konon dua kerajaan yang disatukan yakni Kerajaan Galuh dan Kerajaan Sunda.

Sri Baduga Maharaja memang mendapat mandat memimpin dari dua kerajaan. Ayahnya Prabu Dewa Niskala, menyerahkan mandat mempunyai Kerajaan Galuh. Sedangkan mertuanya, Prabu Susuktunggal, memberikan kekuasaan kepada Sri Baduga Maharaja. Kedua kerajaan ini kemudian disatukan oleh Sri Baduga Maharaja yang bergelar Prabu Siliwangi.

Baca juga:  Profil Prabu Siliwangi, Raja Adil dan Bijaksana yang Bawa Kerajaan Pajajaran ke Era Keemasan

Namun konon sebelum memerintah dan memimpin sebagai raja, Sri Baduga Maharaja saat muda dikenal sebagai pengembara. Dikisahkan berdasarkan buku "Hitam Putih Pajajaran : dari Kejayaan Hingga Keruntuhan Kerajaan Pajajaran" tulisan Fery Taufiq El Jaquene, Sri Baduga Maharaja bernama asli Prabu Jayadewata terkenal sebagai ksatria pengembara yang berani terhadap siapa pun.

Sri Baduga muda memiliki kesukaan menjelajahi hutan sembari berburu binatang. Dalam hal ini ia terkenal memiliki ketangkasan jika dibandingkan dengan teman yang lainnya. Beranjak dewasa Sri Baduga menikah dengan Nyi Ambetikasih putri pamannya sendiri, yang bernama Ki Gedeng Sindangkasih, putra Mahaprabu Niskala Wastu Kancana dari Kerajaan Surantaka, yang saat itu pemerintahannya di Desa Kedaton, saat ini berada di Kecamatan Kapetakan, Cirebon.

 Baca juga: Kisah Prabu Siliwangi Satukan Dua Kerajaan Terbesar di Tanah Sunda

Kerajaan Surantaka pada masanya terkenal menjadi pengendali saham di Pelabuhan Muarajati, Cirebon yang berbatasan langsung dengan Kerajaan Sing Apura. Saat Ki Gede Sindangkasih wafat, Prabu Jayadewata akhirnya juga ditunjuk sebagai pengganti untuk melanjutkan memimpin kerajaan.

Pengangkatan Prabu Jayadewata ini berdasarkan pada sosok kebesaran mendiang buyutnya bernama Prabu Maharaja Lingga Buana yang gugur di Perang Bubat melawan Majapahit. Beliau mendapat gelar Prabu Wangi.

Bahkan ketika menyamar dengan nama Keukeubingan Rajasunu, ia adalah satu-satunya orang yang pernah mengalahkan Ratu Kerajaan Japura bernama Prabu Amuk Murugul, putra Prabu Susuktunggal, waktu sayembara memperebutkan Subang Larang putri Ki Gedeng Tapa, atau sering disebut Giridewata atau Ki Gedeng Jumajan Jati, penguasa Kerajaan Sing Apura.

Konon karena sadar masih satu kerabat, menjadikan Prabu Jayadewata atau Sri Baduga Maharaja diantarkan menemui ayah Prabu Amuk Murugul, yakni Prabu Susuktunggal, kakak sambung ibu Prabu Dewa Niskala, ayahnya Prabu Jayadewata di Kerajaan Sunda, yang sekarang terletak di Bogor.

Prabu Jayadewata atau Sri Baduga Maharaja kemudian dijodohkan dengan Nyai Kentring Manik Mayang Sunda, putri Prabu Susuktunggal, yang kemudian melahirkan Sanghyang Surawisesa. Kelak Sanghyang Surawisesa inilah yang dinobatkan menjadi pengganti Sri Baduga Maharaja di Pakuan Pajajaran dan Sang Surawosan, jadi adipati di daerah pesisir Banten atau biasa disebut Banten Girang.

Selain menikahi Nyai Kentring Manik Mayang Sunda, dikisahkan Prabu Siliwangi atau Prabu Jayadewata juga menikahi Ratu Istri Rajamantri yang merupakan putri dari Prabu Gajah Agung, putra Prabu Tajimalela atau biasa disebut Prabu Agung Resi Cakrabuana, putra Prabu Aji Putih atas perintah Prabu Suryadewata untuk mendirikan Kerajaan Sumedang Larang, pada tahun 900 Masehi.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini