Saat Pasukan Baret Merah Menyerbu Markas Mbah Suro, Dukun Sakti Pelindung PKI

Mohammad Adrianto S, Okezone · Rabu 13 Oktober 2021 07:35 WIB
https: img.okezone.com content 2021 10 12 337 2485294 saat-pasukan-baret-merah-menyerbu-markas-mbah-suro-dukun-sakti-pelindung-pki-vTu5507S5d.jpg Kopassus menyerbu markas mbah suro/ ilustrasi kopassus.mil.id

JAKARTA - Peristiwa 30 September merupakan sejarah kelam bagi bangsa Indonesia, dimana pada subuh berdarah tersebut, pasukan Cakrabirawa di bawah komando Letkol Untung menewaskan sejumlah Jenderal TNI Angkatan Darat dan seorang perwira.

(Baca juga: Dari Serda Ucok hingga Prabowo, Ini 5 Prajurit Kopassus yang Fenomenal)

Pasca peristiwa berdarah itu, pemerintah melancarkan perburuan besar-besaran terhadap anggota PKI. Siapapun yang dianggap sebagai anggota maupun simpatisan PKI menjadi target peburuan yang saat itu berlangsung di sejumlah daerah.

Salah satunya adalah di Cepu dan Ngawi, Jawa Timur, dimana terjadi kisah misterius yang datang saat proses perburuan anggota dan simpatisan PKI di daerah tersebut.

(Baca juga: Tri Budi Utomo, Jenderal Kopassus Pengaman Presiden Resmi Sandang Bintang Dua)

Melansir buku "Sintong Panjaitan Perjalanan Seorang Prajurit Para Komando", karya Hendro Subroto, saat itu sedang terjadi pemburuan atas seorang dukun bernama Mbah Mulyono Surodiharjo, yang dikenal sebagai dukun sakti dan sering mengobati orang sakit.

Pemerintah, khususnya pihak militer melihat Mulyono Surodiharjo, biasa disapa Mbah Suro, telah ditunggangi oleh PKI. Tidak tanggung-tanggung, Komando Pasukan Khusus (Kopassus) diterjunkan mencari Mbah Suro dan pengikutnya.

Mbah Suro, selain mampu mengobati orang sakit, diketahui memiliki ilmu sakti yang membuatnya kebal senjata. Mbah Suro bahkan mampu membuat pengikutnya memiliki kesaktian yang sama seperti dirinya

Sebelum menjadi dukun di sebuah desa bernama Desa Ninggil, Mbah Suro pernah menjadi lurah. Dirinya beralih menjadi dukun dan membuka praktik untuk mengobati orang sakit setelah beberapa lama turun menjadi lurah.

Saat itu, Mulyono Surodiharjo melakukan pergantian nama baru menjadi Mbah Suro juga diikuti dengan perubahan penampilan. Salah satunya adalah memelihara kumis tebal dan rambut panjang layaknya seorang dukun.

Mbah Suro kerap melakukan berbagai kegiatan berbau mistis dan menyebarkan kepercayaan Djawa Dipa. Tidak hanya itu, Mbah Suro juga sering memberi jampi-jampi atau mantera dan air kekebalan kepada para muridnya, terlebih untuk mereka yang dianggap meresahkan.

Pengikutnya percaya bahwa mereka menjadi kebal terhadap senjata tajam dan senjata api berkat ajaran Mbah Suro.

Untuk menangkap dan membubarkan praktek perdukunan Mbah Suro, Kopassus membuat strategi khusus untuk meringkus dirinya. Dalam bukunya, Hendro menuturkan bahwai Kopassus terpaksa menggunakan kekerasan karena gagal menggunakan jalan damai.

"Pangdam terpaksa memerintahkan agar penutupan dilakukan dengan jalan kekerasan, karena segala upaya jalan damai yang ditempuh telah menemui jalan buntu," tulis Hendro.

Penyerbuan padepokan Mbah Suro dilakukan Kodam VII/ Diponegoro beserta satu Kompi RPKAD (Sebelum berganti nama menjadi Kopassus) di bawah pimpinan Feisal Tanjung. Dengan penyerbuan itu, Mbah Suro pun berhasil ditaklukkan.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini