Kisah Pangeran Diponegoro Bertemu Sunan Kalijogo saat Bertapa di Gua

Avirista Midaada, Okezone · Selasa 12 Oktober 2021 07:05 WIB
https: img.okezone.com content 2021 10 11 337 2484803 kisah-pangeran-diponegoro-bertemu-sunan-kalijogo-saat-bertapa-di-gua-Qm5DtFZnl6.jpg Pangeran Diponegoro (foto: ist)

PANGERANG DIPONEGORO melakukan tindakan spiritual dengan melakukan tirakat dan menyepi beberapa waktu untuk metidasi. Hal ini dilakukan Pangeran Diponegoro saat berziarah ke beberapa tempat suci dan areal keramat, yang sering dikaitkan dengan Dinasti Mataram.

Dikutip dari buku "Takdir Riwayat Pangeran Diponegoro 1785 - 1855" karya Peter Carey, periode menyepi dan tirakat Pangeran Diponegoro sebagai bentuk kezuhudan dan mendekatkan diri kepada Sang Pencipta. Tindakan ini dilakukan untuk mundur sejenak dari dunia ramai, seperti yang dilakukan oleh seseorang yang sedang mempersiapkan diri untuk melaksanakan suatu tugas khusus yang penting di masa depan.

Baca juga:  Kesukaan Pangeran Diponegoro, Hisap Cerutu hingga Minum Anggur Putih

Tirakat ini memberi kepada seseorang masa jeda untuk menyendiri agar ia dapat membersihkan diri, dari segala macam pamrih. Konon selama tirakat di salah satu gua bernama Gua Song Kamal, di distrik Jejeran, selatan Yogyakarta, ada satu penampakan yang datang kepada Pangeran Diponegoro.

Sunan Kalijogo, merupakan satu dari sembilan Wali Songo menampakkan diri dalam rupa seorang laki-laki yang wajahnya bersinar bagai bulan purnama. Sang Sunan Kalijogo menyatakan, bahwa Diponegoro telah ditentukan Tuhan untuk menjadi raja di masa depan nanti. Setelah mengatakan demikian, konon penampakan itu langsung menghilang.

Baca juga:  Wisata Religi di Masjid Peninggalan Kyai Mojo, Ulama Kepercayaan Pangeran Diponegoro

Penampakan Sunan Kalijogo dan ramalannya bahwa Diponegoro bakal menjadi raja jelas sangat penting. Sang wali tak sekedar dihormati sebagai penasihat para raja di Jawa Tengah bagian selatan, dan pelindung spiritual Mataram. Tetapi cerita rakyat menjelaskan sebagai tokoh kunci Islamisasi di wilayah itu.

Makam Sunan Kalijogo di Kadilangu, yang berdampingan dengan Masjid Agung Demak masih dihormati oleh para raja Jawa sebagai dua pusaka terpenting di tanah Jawa. Sejak awal abad ke - 16 para peziarah dari berbagai keraton rutin mengunjungi dua tempat itu.

Pada sejarah perpolitikan Jawa, Kalijogo juga dilihat sebagai tokoh yang memimpin pembagian Jawa di Giyanti. Namun dampak dari Perjanjian Giyanti itu tidak terlalu banyak mempengaruhi sikap Diponegoro. Dimana dirinya sendiri sebagai sosok yang mengatasi pembagian politis semacam itu, karena ia lebih mencintai - citakan untuk memerintah seluruh Jawa sebagai pandita ratu atau imam raja.

Dari sisi lain, penampakan Sunan Kalijogo ke Pangeran Diponegoro penting karena gaya kepemimpinan politik yang dimainkan Sang Wali, yang legendaris dan delapan wali lainnya dijadikan contoh oleh Pangeran Diponegoro. Seperti Sunan Kalijogo, Diponegoro tidak hanya sampai pada pemahaman dirinya semata-mata sebagai penguasa untuk masa tertentu, tetapi juga sebagai penjaga spiritual para Raja Jawa.

Penampakan Sunan Kalijogo ke mata Diponegoro, seolah membantu melegitimasikan dan mendukung pemberontakan yang terjadi kemudian. Proses ini diperkuat lagi dengan gambaran mimpi Diponegoro, persis sebelum pecahnya Perang Jawa pada 16 Mei 1825, ketika ia menggambarkan pertemuan delapan wali wudhar, yaitu wali yang sedang memangku dakwah spiritual maupun temporal.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini