Cemas Putrinya Jadi Perawan Tua, Janda Calon Arang Usik Kewibawaan Raja Airlangga

Solichan Arif, Koran SI · Sabtu 09 Oktober 2021 16:01 WIB
https: img.okezone.com content 2021 10 09 337 2483779 cemas-putrinya-jadi-perawan-tua-janda-calon-arang-usik-kewibawaan-raja-airlangga-bzFFi4MT3f.JPG Calon Arang (foto: ist)

CALON ARANG digambarkan sebagai sosok perempuan pelaku ilmu hitam yang sakti, yang setiap marah selalu berbicara dengan teluh. Situasi Kediri atau Daha di era Raja Airlangga (1019-1037) saat itu, mencekam. Siapapun yang tersambar teluh Calon Arang, ajal seketika menjemput. Dilukiskan bagaimana hanya merasa kurang enak badan, panas dingin di pagi hari, siang sudah meregang nyawa.

Begitu juga sakit di siang hari, sore meninggal. Begitu seterusnya teluh Calon Arang bekerja. Saking ganasnya teluh, mereka yang usai menggotong jenazah, tiba-tiba juga ambruk dan meninggal dunia. Nyawa terus berjatuhan. Penduduk mengistilahkannya dengan pagebluk. Wabah penyakit yang bersumber dari murka Calon Arang.

Baca juga:  Raja Airlangga Hidup di Pengasingan Sebelum Menjadi Penguasa Kahuripan

Dalam prosa lirik "Calon Arang Korban Patriarki", Toeti Heraty mengisahkan, bagaimana di puncak amarahnya Calon Arang memohon izin Batari Durga melenyapkan semua penduduk tetangganya. Istri Dewa Syiwa itu mengijinkan : "Boleh saja, kata Batari, tetapi hanya daerah pinggiran atau desa, jangan memusnahkan orang sampai ke kota".

Kota yang dimaksud adalah ibukota Kerajaan Kediri. Dan yang terjadi seperti ada pagar pembatas tidak kasat mata. Pagebluk hanya melanda wilayah pedesaan, tapi tidak masuk wilayah ibukota. Terutama di wilayah Desa Jirah atau Gurah (Sekarang di wilayah Kabupaten Kediri) dan sekitarnya, tempat Calon Arang berumah. Wabah begitu mengganas.

Baca juga: Kerajaan Kediri, Bermula dari Perebutan Kekuasaan Raja Airlangga

Calon Arang seorang janda yang tidak pernah ada yang tahu siapa suaminya. Di kampung Jirah, Calon Arang yang juga mendapat panggilan Ni Rangda atau Rangda dari Jirah, hidup bersama putri semata wayangnya. Seorang gadis jelita bernama Ratna Manggali. Ratna cantik sekaligus menawan hati setiap laki-laki yang pernah bertatapan dengannya.

Namun menginjak usia 25 tahun, tidak satupun laki-laki yang berani melamarnya. Alih-alih meminang, mendekat saja para lelaki sudah ciut nyali. Mendengar nama Calon Arang, para laki-laki sudah gentar. Terbayang seorang perempuan tukang sihir, penyembah Dewi Durga atau Dewi Bagawati yang menghabiskan waktu bersama murid-muridnya di kuburan.

Tiadanya laki-laki yang menyunting Ratna Manggali, membuat Calon Arang murka. Membayangkan anaknya yang cantik jelita menjadi perawan tua, dada Calon Arang seperti terbakar. Sebagai seorang ibu sekaligus seorang janda, Calon Arang merasa terhina. "Alangkah marahnya sang janda. Alangkah malunya sang janda," tulis Toeti Heraty.

Di kuburan, Calon Arang bersama murid-muridnya, terus menjalankan ritual mautnya. Semuanya perempuan. Wersirsa, Mahisawandana, Lendya, Lende, Lendi, Guyang, Larung, dan Gandi. Murid-murid kinasih itu menandak -nandak (menari), mengikuti sang guru yang merapal mantra. Pada lehernya berkalung usus manusia. Pada telinga beranting paru -paru dan mengeramasi rambut dengan darah manusia.

Calon Arang menikmati hasil kerjanya. Ia tertawa-tawa melihat kematian yang terus berjatuhan. Bahagia melihat tangis penduduk Kediri yang meledak karena kehilangan keluarga. Persebaran penyakit tak bisa dicegah. Kian meluas sampai ke puncak-puncak gunung. Para pendeta kerajaan malu bertemu rakyat, karena tidak mampu menolak teluh yang disebar Calon Arang.

Raja Airlangga berduka melihat penderitaan yang ditanggung rakyatnya. "Kewibawaan raja terganggu di tahta," tulis Toeti Heraty dalam Calon Arang Korban Patriarki. Teror pagebluk perempuan penyihir Calon Arang tidak bisa didiamkan. Serbuan tentara kerajaan ke Jirah yang gagal karena mendapat perlawanan sengit Calon Arang, harus diganti dengan taktik lain.

Raja Airlangga memerintahkan patih dan para menteri utama untuk mengundang para pendeta, resi, pujangga dan guru. Semuanya berkumpul dan bersama-sama melakukan ritual pemujaan kepada Sang Hyang Agni, sekaligus meminta petunjuk. Terbitlah petunjuk dari dewata yang menyebut nama Sri Munindra Baradah atau Mpu Baradah.

Seorang pendeta sempurna yang bertempat di pertapaan Semasana, Lemah Tulis. "Dialah yang dapat meruwat kerajaanmu, yang akan menghilangkan noda di dunia, membuat sejahtera dunia". Mpu Baradah bagi Raja Airlangga bukan sosok asing. Hasil penelitian Louis Damais, sarjana Perancis (1540) pada naskah kuno, menyebut, Mpu Baradah pernah menyarankan Airlangga membagi tahta kerajaan.

Satu tahta di Jawa (Kediri) dan satunya di Bali. Namun sarannya tidak terwujud, karena penolakan Sri Mpu Kuturan di Bali. Mpu Kuturan yang lebih sakti ingin menempatkan cucunya sendiri di tahta, dan menolak raja dari Jawa. Kelak, atas saran Mpu Baradah lagi, Raja Airlangga membagi tahta menjadi Kerajaan Kediri dan Kerajaan Jenggala.

Sementara begitu dititahkan Raja Airlangga mengatasi urusan Calon Arang, Mpu Baradah langsung bersiap mengutus Mpu Kebo Bahula, murid kesayangannya. Bahula adalah seorang pujangga dari Gangga Citra. Mpu Baradah tahu, murka Calon Arang berakar dari putrinya yang terancam menjadi perawan tua. Ia pun memerintahkan Mpu Bahula untuk meminang Ratna Manggali.

"Dia akan kusuruh melamar Sang Manggali. Engkau Kanuruhan (utusan Raja Airlangga) beritahukanlah kepada Sang Penguasa Dunia, berapa saja mahar yang diminta hendaklah dipenuhi oleh raja," tulis Toeti Heraty. Kerajaan pun langsung menyiapkan mahar lamaran. Hidangan makanan, buah -buahan, ditambah jamuan upacara : tuak, nasi, ikan, sampo, berem, kilang, serta serebad budur dan minum cakelang.

Sesuai jalannya siasat, Calon Arang bersedia menerima Mpu Kebo Bahula sebagai menantunya. Namun Rangda Jirah itu juga mengingatkan," namun janganlah tidak bersungguh-sungguh dengan Ratna Manggali". Menyertai lamaran, Bahula juga menyerahkan sirih tanda pertunangan, perak hadiah perkawinan, selendang, permata ratna mutu manikam yang memancar.

Mpu Bahula dan Ratna Manggali, sah sebagai suami istri. Keduanya saling mencintai. Sesuai prosa Calon Arang berkode LOR 5387/5279 yang tertulis pada daun lontar yang berada di Puri Cakranegara, Lombok, Mpu Bahula mulai memata-matai aktifitas Calon Arang. Di setiap menjelang malam, janda Jirah itu selalu membawa lipyakara, pustaka suci, dan pergi ke kuburan.

Bahula sengaja mengawasi, dan lalu bertanya kepada istrinya, Ratna Manggali : "Dinda, adikku tercinta, mengapakah ibu selalu pergi malam hari? Saya khawatir Dinda." Melalui mulut anaknya sendiri, rahasia kesaktian Calon Arang pun bocor. Ratna Manggali cerita, ibunya ke kuburan untuk menjalankan sihir. Sihir itulah yang mengakibatkan terjadinya pagebluk.

Mpu Bahula juga berhasil menyentuh lipyakara. Sastra Lipyakara merupakan buku suci yang berisi hal utama untuk jalan kebaikan menuju kesempurnaan, puncak rahasia pengetahuan. Calon Arang sengaja membelokkan untuk kesaktian sihir dan kesengsaraan. Bahula memperlihatkan kitab Lipyakara kepada Mpu Baradah, gurunya.

Rahasia kesaktian Calon Arang yang selama ini sulit terkalahkan, terungkap. Dengan bekal pengetahuan yang didapat dari muridnya, Mpu Baradah menyatroni Calon Arang. Saat bertemu Mpu Baradah, Calon Arang memperlihatkan keramahan sebagai besan. Janda Jirah itu juga meminta Sang Bogiswara Baradah meruwatnya.

"Mohon diruwatlah sebagai besan". Mpu Baradah melihat dosa Calon Arang teramat besar, dan karenannya permintaan itu ditolaknya mentah-mentah. Seketika itu Calon Arang murka. Dari mata, mulut, hidung, telinga muncul kobaran api yang langsung menyambar, membakar tumbuhan yang ada di sekelilingnya.

Tapi api tidak mampu menghanguskan tubuh Mpu Baradah. "Saya tidak mati kau sihir, Besan. Aku ambil nyawamu semoga kamu mati di tempatmu berdiri". Karena rahasia kesaktiannya sudah terbongkar. Dengan merapal asta capala, Mpu Baradah berhasil menumpas Calon Arang.

Perempuan tukang teluh, penyembah Batari Durga di kuburan yang ritualnya memakai darah dan organ manusia itu, mati seketika di tempatnya berdiri. Rakyat Kediri kembali tentram. Kewibawaan Raja Airlangga kembali terjaga, yang kelak kemudian membagi kekuasaannya menjadi Kerajaan Kediri atau Daha dengan Kerajaan Jenggala.

"Lalu bagaimana sikap Ratna Manggali, apakah akan saling menyalahkan sepanjang hayat. Suatu saat istri sadar menimbang antara cinta dan tipu muslihat, pula akan tersiksa menyalahkan diri karena ibu telah terkhianati," tulis Toeti Heraty dalam Calon Arang Korban Patriarki.

1
4

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini