Share

Tim Peneliti Sebut Vaksin Nusantara Bisa Jadi Booster

Riezky Maulana, iNews · Kamis 07 Oktober 2021 06:30 WIB
https: img.okezone.com content 2021 10 07 337 2482475 tim-peneliti-sebut-vaksin-nusantara-bisa-jadi-booster-PGNkeItglh.jpg Ilustrasi vaksin (Foto: thedailybeast)

JAKARTA - Anggota tim peneliti Vaksin Nusantara Mayjen TNI (Purn) Daniel Tjen menyebut vaksin Nusantara diklaim dapat digunakan sebagai vaksin booster atau dosis ketiga. Menurutnya, vaksin Nusantara berbasis platform sel dendritik yang lebih banyak mengacu pada sel limfosit T.

"Pendekatan platform sel dendritik ini lebih banyak kita mengacu pada sel T-nya memorinya. Karena sifat sel dendritik imunoterapi itu untuk memperkuat imunitas, maka kuat digunakan untuk menjadi vaksin booster apapun platform yang digunakan," ujar Daniel dalam diskusi virtual, Rabu (6/10/2021).

Baca Juga:  Tim Peneliti Vaksin Nusantara Tunggu Keputusan BPOM dan Kemenkes

Dia memaparkan, vaksinasi Covid-19 dapat dibilang masih relatif baru sehingga vaksin mana yang paling baik belum bisa ditentukan. Menurut dia, hal itu baru bisa diketahui 5 tahun ke depan.

"Kita tidak tahu vaksin mana yang terbaik. Minimal dibutuhkan waktu 5 tahun baru bisa diketahui oh ini vaksin yang lebih baik," ucapnya.

Lebih jauh dijelaskan Daniel, antibodi yang hasilkan pasca vaksin covid-19 yang saat ini beredar masih mengalami penurunan imunitas selama 6 hingga 7 bulan. Menurut dia, hal itu berdasarkan laporan yang terjadi pada vaksin Pfizer.

"Jika dilihat lagi laporan terbaru, ternyata antibodi yang dihasilkan pasca vaksinasi termasuk yang menggunakan platform mRNA bikinan Pfizer juga setelah 7 bulan ternyata kadar antibodi spike-nya tak terdeteksi. Karena memang mekanisme kerjanya berbeda," ungkapnya.

Baca Juga:  Masih Dikaji BPOM, Vaksin Nusantara Siap Diuji Klinis Fase 3

Baca Juga: Peringati Hari Lahir Pancasila, Pengawas KKP Lakukan Upacara Bawah Laut

Dia memastikan, tim peneliti nantinya akan melibatkan masyarakat dan memilih dengan teliti kelompok mana yang dapat menjadi relawan. Namun, dirinya belum bisa memastikan kelompok mana yang bisa menjadi relawan.

"Peneliti sedang menyusun protokol dan nanti akan melakukan pengumuman terbuka sehingga masyarakat bisa mendapatkan akses," katanya.

Daniel menjelaskan, pengembangan vaksin yang diprakarsai oleh eks Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto ini telah sejalan dengan kaidan ilmiah yang berlaku dan sesuai dengan arahan yang dikeluarkan oleh Badan Pengawasa Obat dan Makanan (BPOM).

"Sekali lagi, saya atas nama tim peneliti kita akan patuh ya pada kaidah ilmiah. Itulah sesuai dengan arahan dari BPOM," pungkasnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini