Wiku: Virus Bukan Satu-Satunya Penyebab Lonjakan Kasus Covid-19

Dita Angga R, Sindonews · Rabu 06 Oktober 2021 06:57 WIB
https: img.okezone.com content 2021 10 06 337 2481891 wiku-virus-bukan-satu-satunya-penyebab-lonjakan-kasus-covid-19-DDLEHdw58M.jpg Jubir Satgas Covid-19 Wiku Adisasmito (Foto: BNPB)

JAKARTA - Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan Covid-19 Wiku Adisasmito mengungkapkan berbagai faktor penyebab lonjakan kasus kasus Covid-19 atau yang disebut sebagai gelombang baru Covid-19.

Dia mengatakan, lonjakan kasus tidak hanya disebabkan adanya virus semata. Melainkan ada faktor-faktor lainnya yang memicu naiknya kasus covid-19.

“Perlu dipahami bahwa virus itu sendiri tidak bisa dijadikan sebagai entitas tunggal penyebab persebaran penyakit. Kita perlu melihat faktor-faktor lain yang menstimulasi persebarannya, misalnya dinamika evolusinya, dan perilaku manusia yang mendukung peningkatan transmisinya yang cukup khas di tiap-tiap wilayah,” katanya dikutip dari Kanal Youtube Sekretariat Presiden (6/10/2021).

Baca Juga:  Klaster PON XX Papua: 29 Orang Positif Covid-19

Wiku mengungkapkan pada gelombang pertama lonjakan kasus Covid-19 yang hampir terjadi di seluruh negara terjadi akibat masih rendahnya pengetahuan terkait penyakit ini. Termasuk para ahli dan ilmuwan di bidang penyakit menular.

“Penyebaran Covid-19 dari Wuhan ke negara-negara lain terjadi akibat mobilitas yang besar antar negara saat itu, sehingga menyebabkan pandemi. Meningkatnya jumlah kasus-kasusnya, khususnya kasus perawatan di rumah sakit disebabkan oleh belum ditemukannya obat obat atau vaksinasi yang mendukung upaya kuratif saat itu,” ungkapnya.

Sementara pada gelombang kedua Covid-19, Wiku menyebut penyebabnya adalah karena adanya varian baru. Di antaranya varian Alfa, Beta, Gamma dan Delta di beberapa negara seperti Inggris, Afrika Selatan serta India.

“(Ini) menyebabkan kemunculan gelombang kedua. VOC atau variant of concern yang tidak disertai dengan penjagaan mobilitas antarnegara, menyebabkan gelombang ikutan ke negara-negara tetangga. Bahkan negara di Asia Tenggara seperti Thailand dan Indonesia,” ujarnya.

Baca Juga:  Berkurang 88, Kasus Covid-19 di DKI Jadi 1.642

Wiku menyebut berdasarkan studi dari Rusia tahun 2021 mengenai analisis regresi data Covid-19 dari 35 negara di dunia menyatakan bahwa mayoritas penyebaran varian baru di beberapa negara tersebut terjadi akibat pergerakan domestik. Hal ini yang memperparah penyebaran varian impor.

“Sedangkan di Spanyol, Jepang dan Korea Selatan, peningkatan signifikan terjadi akibat penularan di komunitas atau klaster sehingga penderita covid umumnya berasal dari kelompok yang sama, contohnya ibu hamil dan anak-anak untuk di Spanyol dan kasus di perkantoran untuk di Jepang,” tuturnya.

Sementara itu terkait gelombang ke-3 yang saat ini terjadi di Kentucky, Amerika Serikat, disebabkan oleh distribusi varian baru yaitu varian RI dan MU Columbia. Selain itu, pembukaan sektor sosial ekonomi yang tidak disertai kepatuhan protokol kesehatan yang tinggi menyebabkan lonjakan kasus di Singapura, beberapa negara di Eropa dan Afrika.

Wiku pun mengingatkan agar masyarakat Indonesia tetap patuh terhadap protokol kesehatan. Hal ini untuk mencegah terjadinya gelombang kasus Covid-19 baru di Tanah Air.

“Walaupun saat ini Indonesia telah mulai melakukan kegiatan produktif secara bertahap, bertingkat dan berlanjut, namun masyarakat harus tetap berhati-hati dalam beraktivitas. Jangan serta-merta melupakan pentingnya proteksi protokol kesehatan, baik memakai masker, menjaga jarak dan menjauhi kerumunan. Kepatuhan ini merupakan kunci mencegah timbulnya gelombang baru,” paparnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini