Share

Halim Perdanakusuma, Pengebom Tentara Nazi yang Diselamatkan Kapal Perang Inggris

Fahmi Firdaus , Okezone · Selasa 05 Oktober 2021 08:50 WIB
https: img.okezone.com content 2021 10 05 337 2481273 halim-perdanakusuma-pengebom-tentara-nazi-yang-diselamatkan-kapal-perang-inggris-npKyfzgVF2.jpg Patung Halim Perdanakusuma/ Okezone

JAKARTA – Selain dari matra darat dan matra laut, TNI juga memiliki pejuang kemerdekaan yang berasal dari TNI AU. Saat ini, namanya diabadikan sebagai salah satu nama bandara di Ibu Kota.

(Baca juga: Kisah Kesaktian Jenderal Soedirman saat Dikepung Militer Belanda)

Sosok tersebut adalah Abdul Halim Perdanakusuma. Pria kelahiran Sampang, Madura pada 18 November 1922 mengenyam pendidikan di MOSVIA (Middlebare Opleiding School voor Indlansche Ambtenaren), sekolah para pribumi bagi calon pegawai kolonial pamong praja Hindia-Belanda yang berada di Magelang, Jawa Tengah.

(Baca juga: Amarah Bung Karno Meledak saat LB Moerdani Tolak Nikahi Putri Kesayangannya)

Namun dia tidak lama disana, Halim mengikuti wajib militer Belanda dan mendapat pendidikan sebagai operator torpedo di kapal Koninklijke Marine atau Angkatan Laut Belanda. Arena Perang Pasifik dengan Jepang yang menyerbu ke Hindia-Belanda pun turut diikutinya, hingga kapalnya sempat dibombardir di perairan Cilacap.

“Namanya belum ajal, Halim yang terapung-apung di laut lepas, diselamatkan kapal Inggris. Untuk selanjutnya, dibawa ke Australia dan kemudian di India, di mana dia bertemu Panglima Komando Armada Asia Tenggara, Laksamana Lord Louis Mountbatten,” ujar penggiat sejarah komunitas Djokjakarta 1945, Agung Surono Karsonoseputro kepada Okezone, beberapa waktu lalu.

Menurutnya, Laksamana Mountbatten pada suatu ketika pernah terkesan dengan keterampilan seni lukis Halim, hingga ditawarkan pendidikan militer di Inggris. Jadilah Halim masuk pendidikan RCAF atau Angkatan Udara (AU) Kanada dan kemudian RAF (AU Inggris).

“Selesai pendidikan RCAF, Halim kembali ke induk pasukannya dengan pangkat Letnan Penerbang (Kapten Udara) di RAF dan terlibat dalam puluhan misi. Halim bahkan sempat dianggap juru selamat dan digelari ‘The Black Mascot’, jimat hitam,” tambahnya.

Halim saat itu itu sudah dianggap sebagai salah satu navigator jempolan yang disegani. Disebutkan Agung, Halim sempat terlibat dalam 44 misi serangan udara membombardir Nazi Jerman, baik di wilayah Prancis maupun di wilayah Jerman sendiri dengan pesawat pembom Avro Lancaster dan B-24 Liberator.

“Sasaran utamanya ialah pusat-pusat industri Jerman. Serangan-serangan itu dilakukan pada siang dan malam hari. Pernah terjadi dalam perbangan kembali ke pangkalannya, skadronnya dicegat pesawat-pesawat Focke-Wulf. Terjadilah duel udara yang seru. Sekutu kehilangan tiga Pesawat B-17 (Flying Fortress) karena tembakan roket (pesawat) Jerman,” tandasnya.

Pasca-PD II, Halim yang pulang ke tanah air direkrut dengan tugas sebagai Perwira Operasi oleh Angkatan Udara Republik Indonesia (AURI) yang di era revolusi, masih dibangun Kepala Staf Angkatan Udara (KSAU) pertama, Komodor Udara Soerjadi Soerjadarma.

Baca Juga: Salurkan BLT BBM kepada 20,65 Juta KPM, Ini Strategi Pos Indonesia

Namun kontribusi dan pengabdian Halim terhadap AURI dan republik yang saat itu masih bayi, tak berlangsung lama.

Tapi kemudian dipulangkan dan dimakamkan kembali di Taman Makam Pahlawan Kalibata. Kala itu, Halim yang secara anumerta diberi pangkat Marsekal Muda, masih berusia 25 tahun dan meninggalkan seorang istri, Koessadalina dan seorang putra, Ian Santoso.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini