Share

Kisah Jenderal Soedirman Tinggal 107 Hari di Bukit Gandrung, Rumah Gerilya Dijadikan Museum

Lutfia Dwi Kurniasih, Okezone · Selasa 05 Oktober 2021 08:12 WIB
https: img.okezone.com content 2021 10 04 337 2481112 kisah-jenderal-soedirman-tinggal-107-hari-di-bukit-gandrung-rumah-gerilya-dijadikan-museum-RJjIjBhMCR.jpg Rumah/markas gerilya Angkatan Perang Republik Indonesia (APRI) Jenderal Soedirman. (Foto: Kemdikbud)

JAKARTA - Jenderal Soedirman merupakan salah satu tokoh terpenting di TNI. Kisah hidupnya patut dijadikan teladan bagi warga Indinesia, khususnya di momentum HUT ke-76 TNI.

Pada tanggal 18 Desember 1948, Belanda menyatakan tidak lagi mengakui dan terikat dengan perjanjian Renville dilanjutkan dengan melancarkan Agresi Militer II. Belanda dengan pasukan lintas udara menyerang Kota Yogyakarta sebagai ibukota Republik Indonesia.

Lapangan terbang Maguwo berhasil dikuasai dan akhirnya seluruh wilayah Yogyakarta dikuasai Belanda. Presiden, wakil presiden, dan beberapa pejabat tinggi berhasil ditawan Belanda. Presiden Soekarno diterbangkan ke Prapat Sumatera Utara, dan Wakil Presiden Moh. Hatta ke Bangka. Namun kemudian Soekarno pun dipindahkan ke Bangka.

Baca juga: Kisah Kesaktian Jenderal Soedirman saat Dikepung Militer Belanda


Baca juga: Amarah Bung Karno Meledak saat LB Moerdani Tolak Nikahi Putri Kesayangannya

Oleh karena itu, seluruh kekuatan TNI yang ada di Yogyakarta diperintahkan keluar kota untuk bergerilya. Panglima Besar Jenderal Soedirman memutuskan untuk memimpin gerilya meskipun dalam keadaan sakit parah. Demikian dilansir dari laman Kemendikbud.

Dipimpin Jenderal Soedirman, anggota TNI bergerilya berpindah ke Selatan Yogyakarta melewati Karesidenan Yogyakarta. Namun, sesampainya di Pacitan yang saat itu masuk wilayah Karesidenan Madiun, Belanda menghadang. Perjalanan dengan rute Titomoyo akhirnya dialihkan ke daerah Sobo, Nawangan.

Rumah/Markas Gerilya Angkatan Perang Republik Indonesia (APRI) Panglima Besar Jenderal Soedirman ini merupakan tempat yang dijadikan selama perang gerilya berlangsung. Selama 3 bulan 28 hari yaitu sejak tanggal 1 April hingga 7 Juli 1949 Jenderal Soedirman memberikan komando untuk pasukannya dari rumah ini.

Menurut seorang saksi yang diceritakan kakeknya yaitu anak dari Karso Soemito (pemilik rumah yang ditinggali Jenderal Soedirman), Jenderal Soedirman sebelumnya tinggal terlebih dahulu di rumah Jaswadi Darmowidodo yang merupakan lurah Desa Pakis.

Namun, karena alasan keamanan Jenderal Soedirman dan pasukannya kemudian disarankan untuk bersembunyi di rumah yang kini disebut rumah gerilya Jenderal Soedirman yang letaknya tujuh kilometer dari Desa Pakis.

Dikatakan juga bahwa dahulu rumah ini sering didatangi oleh banyak komandan pasukan maupun pejabat pemerintahan untuk meminta petunjuk pada saat itu kepada sesepuh. Pada awalnya masyarakat banyak yang tidak mengetahui jika Soedirman merupakan seorang jenderal sehingga masyarakat menganggap Soedirman hanya rakyat biasa.

Di daerah Sobo, tepatnya di Bukit Gandrung, Desa Pakisbaru, Kecamatan Nawangan yang berjarak 55 km dari Kota Pacitan itu Jenderal Soedirman tinggal selama 107 hari, lebih lama dibanding dengan daerah-daerah lainnya semasa melakukan gerilya.

Bersama pengikut dan rakyat desa, beliau menunggu dan menyusun strategi untuk menghadapi tentara Belanda. Didampingi ajudannya Kapten Supardjo Rustam dan Kapten Tjokropranolo serta beberapa perwira lainnnya.

Pada tanggal 7 Mei 1949, diadakan Perjanjian Roem-Roijen. Perjanjian tersebut membuat operasi militer yang dilakukan Belanda dan Indonesia berhenti. Presiden Soekarno kemudian memerintahkan Jenderal Soedirman untuk kembali ke Yogyakarta. Pada 7 Juli 1949, Jenderal Soedirman akhirnya memutuskan kembali ke Yogyakarta.

Diresmikan Presiden SBY


Pada Senin 15 Desember 2008 rumah ini diresmikan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menjadi Kawasan Sejarah Panglima Besar Jenderal Soedirman, termasuk di dalamnya rumah sederhana yang dijadikan museum.

Tempat bersejarah ini juga terdapat monumen Jenderal Soedirman, yang dibangun sejak tahun 1981 hingga 1993 atas prakarsa almarhum Roto Soewarno. Roto adalah putra asli Desa Pakis Baru, yang menjadi pengawal Jenderal Soedirman selama berada di Pakis Baru.

Atas prakarsa Presiden SBY, tanggal 22 juli 2008 dilakukan konservasi terhadap monumen ini, juga terhadap rumah milik Karsosoemito yang dijadikan markas komando gerilya.

Rumah atau markas gerilya Angkatan Perang Republik Indonesia (APRI) Panglima Besar Jenderal Soedirman ini bisa dicapai 1,5 jam dari arah utara Ibukota Kabupaten Pacitan. Bangunan ini didirikan di atas bukit Gunung Gandrung. Lokasinya berada 32 km ke arah timur Kota Pacitan.

Lokasi juga dapat ditempuh melalui berbagai kota, Ponorogo, Trenggalek, Solo, dan Yogyakarta. Cagar budaya berupa bangunan ini berupa rumah beratap limas dengan dinding depan terbuat dari kayu, sedangkan dinding disamping kanan kiri berupa anyaman bambu. Sedangkan rumah ini berlantai tanah.

Bangunan rumah ini terbagi menjadi enam ruangan yaitu ruang tamu, empat ruang tidur, dan ruang belakang. Rumah ini menghadap ke arah utara dan terdiri dari dua bagian, yaitu bagian depan yang disambungkan dengan bagian belakang.

Pada dinding rumah bagian depan terbuat dari papan kayu (gebyok) dengan empat kamar yang salah satunya merupakan ruang tidur Jendral Soedirman, sementara tiga kamar lainnya ditempati oleh Soepardjo Rustam, Tjokro Panolo dan Utoyo Kolopaking.

Peninggalan Jenderal Soedirman

Di sebelah kiri terdapat lorong untuk memasuki ruang belakang yang dindingnya terbuat dari anyaman bambu (gedhek) yang dipergunakan sebagai dapur dan tempat tinggalnya Karso Soemito beserta keluarganya.

Penataan perabot seperti meja, kursi, dan tempat tidur semuanya ditempatkan pada posisi seperti waktu masih ditempati oleh Jenderal Soedirman. Sebagai informasi tambahan, semua perabotan yang ada di rumah bersejarah ini merupakan replika yang dibuat sama persis, sementara perabotan yang asli sekarang berada di Museum Jenderal Sudirman di Yogyakarta.

Di dalamnya terdapat peninggalan Jenderal Soedirman, seperti tandu, baju kebesaran, foto koleksi, perabotan, dan lain-lain.

Rumah ini adalah rumah bersejarah sebagai bukti perlawanan bangsa Indonesia terhadap penjajahan Belanda. Meskipun saat itu Indonesia sudah merdeka, berulang kali Belanda terus berusaha untuk menempati kedudukan Indonesia, tentunya hal ini membuat kemarahan bangsa terutama Jenderal Sudirman yang saat itu menjabat sebagai Panglima Besar.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini