Share

4 Jenderal yang Jadi Tokoh Penting TNI, dari Soedirman hingga Slamet Riyadi

Tim Litbang MPI, MNC Portal · Selasa 05 Oktober 2021 07:14 WIB
https: img.okezone.com content 2021 10 04 337 2481048 4-jenderal-yang-jadi-tokoh-penting-tni-dari-soedirman-hingga-slamet-riyadi-8W9Ya4O9RD.jpg Jenderal Soedirman saat dilantik menjadi Panglima Besar TNI oleh Presiden Soekarno. (Foto: Perpusnas)

JAKARTA - HUT Ke-76 TNI diperingkati pada 5 Oktober 2021. Tentara Nasional Indonesia memiliki peran yang sangat kompleks demi menjaga keamanan negeri.

Tanggal 5 Oktober diperingati sebagai HUT TNI, lantaran pada tanggal itu terbentuk TKR (Tentara Keamanan Rakyat), cikal bakal TNI.

Eksistensi TNI yang masih kokoh berdiri hingga detik ini tak lepas dari peran tokoh penting yang berkontribusi maksimal. Berikut daftarnya.

Jenderal Soedirman

Jenderal Besar TNI (Anumerta) Soedirman merupakan salah satu tokoh besar tanah air. Dilansir dari situs resmi Pusat Sejarah TNI, Soedirman dianugerahi Pangkat Kehormatan Jenderal Besar TNI pada 30 September 1997. Disebutkan, penganugerahan Pangkat Jenderal Berbintang Lima ini adalah sebuah peristiwa yang sangat istimewa. Karena, hanya diberikan kepada prajurit yang sangat berjasa kepada bangsa dan negara.


Baca juga: Kisah Kesaktian Jenderal Soedirman saat Dikepung Militer Belanda


Baca juga: Kronologi Lengkap G30S PKI

Soedirman dilantik menjadi Panglima Besar TKR (Tentara Keamanan Rakyat) dengan pangkat Jenderal oleh presiden Soekarno pada 18 Desember 1945. TKR sendiri kemudian berganti nama menjadi TRI (Tentara Republik Indonesia) pada 24 Januari 1946.

Berbicara tentang Soedirman, maka masyarakat akan diingatkan tentang kisah gerilyanya selama 7 bulan demi mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Saat itu, ia tengah berada dalam kondisi sakit hingga harus ditandu anak buahnya. Setelah berjibaku berbulan-bulan, perang antara TNI dan rakyat melawan tentara Belanda itu berhasil menciutkan nyali pasukan Belanda hingga mundur. Soedirman menghembuskan nafas terakhir pada 29 Januari 1950 karena kondisi kesehatannya yang sangat memburuk.

Laksamana RE Martadinata

Raden Eddy Martadinata atau yang lebih dikenal dengan R.E Martadinata merupakan pahlawan nasional Indonesia, yang juga berjasa dalam TNI terutama TNI AL (Angkatan Laut). Ia lahir pada Maret 1921 di Lengkong Besar, Bandung.

Mengutip informasi dalam laman Pusat Sejarah TNI, R.E Martadinata menggalang persatuan dan kekuatan demi menyongsong kemerdekaan, bersama beberapa pelaut lain seperti Suparlan, Achmad Hadi dan Untoro Kusmardjo. Hingga akhirnya, BKR atau Badan Keamanan Rakyat Laut Pusat terbentuk di Jakarta pada 10 September 1945.

Martadinata ditunjuk sebagai pimpinan laut BKR-Banten, dan bertugas membendung masuknya tentara asing ke pulau Jawa. BKR Laut resmi berubah nama menjadi TKR Laut, ketika lahirnya TKR (Tentara Keamanan Rakyat) pada 5 Oktober 1945. Sebulan kemudian, nama itu berubah lagi menjadi ALRI atau Angkatan Laut Republik Indonesia. Martadinata adalah salah satu tokoh dibalik terbentuknya ALRI. Keinginannya yang kuat untuk membangun ALRI terlihat ketika ia mengusulkan gagasan dilakukannya pendidikan profesional untuk ALRI.

Laksamana R.E Martadinata gugur pada 6 Oktober 1966, tepat sehari setelah perayaan HUT TNI. Ketika itu, helikopter yang ia kemudikan jatuh di Puncak, Jawa Barat. Dirinya diangkat sebagai pahlawan Nasional, berdasarkan surat keputusan Presiden RI no. 22 tahun 1966.

Jenderal A.H Nasution

Abdul Haris Nasution lahir di Tapanuli Selatan pada 3 Desember 1918. Ia mulai tertarik pada bidang militer dan mengikuti pendidikan Corps Opleiding Reserve Officieren (CORO) atau KNIL di Bandung pada 1940-1942.

Di tubuh TNI AD, Nasution terkenal sebagai seorang pemikir dan konseptor ulung. Menurut Pusat Sejarah TNI, Nasution memiliki beberapa gagasan dalam rangka pembangunan TNI. Diantaranya adalah konseptor perang gerilya, konseptor operasi penumpasan PKI Madiun 1948, memimpin MBKD (Markas Besar Komando Djawa) pada masa agresi militer II Belanda, pemerkasa politik “Kembali ke UUD 1945”, dan perumus Konsepsi Jalan Tengah.

Nasution juga berperan dalam pembebasan Irian Barat dengan menasionalisasikan perusahaan-perusahaan Belanda sebagai langkah awalnya. Karena kemampuannya yang luar biasa itulah, Nasution mendapat penghargaan dari beberapa universitas. Gelar Doktor diterimanya dari Universitas Padjadajaran dan Universitas Islam Sumatera Utara. Sementara itu, gelar Doktor Causa dalam bidang Politik Ketatanegaraan didapatnya dari Filipina.

Dalam peristiwa pemberontakan G30S/PKI, Nasution berhasil lolos dari kejaran Tjakrabirawa. Ia adalah target yang paling diincar, sebab paling lantang menolak masuknya paham komunisme di tubuh TNI AD dan menolak para petani dipersenjatai.

Penganugerahan pangkat Jenderal Besar TNI diterimanya pada 30 September 1997 dan tertuang dalam Keppres No.46/ABRI/1997. Ia wafat 3 tahun setelahnya, yakni pada 6 September 2000 karena sakit.

Brigjen Slamet Riyadi

Memiliki nama lengkap Ignatius Slamet Rijadi, ia adalah tokoh penting TNI yang lahir pada 26 Juli 1926 di Surakarta. Slamet merupakan orang yang pertama kali mencetuskan ide dibentuknya Kopassus, pasukan elit kepunyaan TNI AD.

Slamet menginginkan adanya satuan yang bisa bergerak tepat dan cepat denga peralatan mumpuni di lapangan. Sehingga, bisa lebih siap menghadapi musuh di medan pertempuran.

Akan tetapi, gagasan dan keinginan itu baru bisa diimplementasikan oleh Alex Kawilarang pada 16 April 1952. Sebab, Slamet gugur saat pertempuran RMS di Ambon pada 4 November 1950. Setelah wafat, ia dikebumikan di kebun kelapa di sekitaran wilayah Ambon. Jasadnya baru dipindahkan ke Taman Makam Pahlawan, Ambon setelah kondisi di tempat itu kondusif.

1
4

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini