Amarah Bung Karno Meledak saat LB Moerdani Tolak Nikahi Putri Kesayangannya

Mohammad Adrianto S, Okezone · Senin 04 Oktober 2021 11:28 WIB
https: img.okezone.com content 2021 10 04 337 2480907 amarah-bung-karno-meledak-saat-lb-moerdani-tolak-nikahi-putri-kesayangannya-pqnr7Oeu5m.jpg Amarah Bung Karno meledak ke LB Moerdani/ ist

JAKARTA – Tentara Nasional Indonesia (TNI) akan memasuki hari jadinya yang ke-76 tahun. Dalam perjalanannya, TNI memiliki banyak prajurit yang namanya dikenang hingga sekarang karena mendarmabaktikan dirinya kepada rakyat dan bangsa Indonesia.

(Baca juga: Ketika Prabowo Sapa Pekerja Proyek RS Jenderal TNI LB Moerdani di Merauke)

Jelang HUT ke-76 TNI yang jatuh pada 5 Oktober 2021, Okezone pun mengulas tokoh TNI yang memiliki peranan dalam memperjuangkan kemerdekaan maupun pada masa setelah kemerdekaan.

Leonardus Benyamin Moerdani atau kerap disebut Benny Moerdani, merupakan tokoh militer Indonesia paling berpengaruh di era Orde Baru. Benny Moerdani dikenal sebagai perwira TNI yang banyak berkecimpung di dunia intelijen, sehingga sosoknya banyak dianggap misterius.

(Baca juga: Deretan Alutsista yang Dipamerkan dalam HUT ke-76 TNI)

LB Moerdani merupakan salah satu dari segelintir anggota Resimen Para Komando Angkatan Darat (RPKAD), yang mendapat gelar Bintang Sakti atas andilnya dalam Operasi Trikora, ketika TNI membebaskan Irian Barat.

Mengutip buku Benny, Tragedi Seorang Loyalis, persyaratan untuk menerima Bintang Sakti tidaklah mudah. Mereka harus menujukkan dedikasi tinggi, melebihi panggilan tugas, tidak pernah tertangkap pasukan musuh dan tidak pernah menyerah dalam pertempuran.

Pada suatu waktu, Benny Moerdani baru saja mendamaikan keributan fisik antara prajurit Korps Komando Operasi (KKO) Angkatan Laut dengan prajurit RPKAD, mendapat panggilan dari Presiden Soekarno ke Istana Negara

Alasan Presiden Soekarno memanggil Benny adalah untuk meminta Benny menjadi prajurit Cakrabirawa, yang saat itu merupakan cikal bakal Pasukan Pengamanan Presiden (Paspamres). Benny menolak keinginan Soekarno, dengan alasan ingin menjadi seorang tentara sesungguhnya.

“Bapak Presiden, saya ingin jadi tentara betulan,” kata Benny menolak halus keinginan Soekarno.

“Lho apa kau pikir Cakrabirawa bukan tentara…” balas Bung Karno dengan nada tinggi.

“Tidak begitu Pak. Saya ingin menjadi Komandan Brigade,” jawab Benny.

“Oh, kamu pahlawan ya, pemegang Bintang Sakti. Tetapi menjadi Komandan Brigade?” tanya Soekarno yang perlahan melunak.

Soekarno tidak lagi melanjutkan percakapan mengenai permintaan dirinya terhadap Benny menjadi pasukan Cakrabirawa. Tetapi, alih-alih menyudahi pembicaraan, Soekarno justru melayangkan permintaan lain yang justru lebih absurd.

“Saya ini sebetulnya ingin anakku kawin dengan seorang prajurit. Ya memang seperti engkau ini…” ujar Soekarno itu kepada Benny Moerdani.

Pada saat itu Soekarno mempunyai tiga anak perempuan yaitu Megawati Soekarnoputri, Rachmawati, dan Sukmawati. Dirinya menggunakan kalimat kiasan yang menggambarkan harapannya untuk menjodohkan seorang putrinya.

Sayang harapan Soekarno itu ditolak oleh Benny, karena dirinya sudah punya tunangan, yaitu seorang mantan pramugari Garuda bernama Hartini.

Selang beberapa tahun, Benny akhirnya menikah dengan Hartini di Kantor Catatan Sipil, pada 12 Desember 1964. Sementara pesta perkawinan berlangsung di Istana Bogor atas perintah Soekarno.

Keluarga Hartini rupanya sangat dikenal oleh Soekarno. Paman Hartini, Ir Anwari, merupakan teman kuliah Soekarno di Technische Hooge School (ITB), Bandung.

Ketika Ir Anwari diundang ke Istana untuk menerima sebuah penghargaan, Hartini dan keluarganya ikut serta. Dalam pernikahan itu, Soekarno mulai mengenal secara pribadi Hartini dan keluarganya.

Soekarno juga pernah menjanjikan Hartini dan Benny untuk menikah di Istana Bogor usai kepulangan Hartini ke Indonesia setelah menempuh sekolah di East West Centre di Hawaii, Amerika Serikat.

“Kamu kok nggak kawin-kawin, apa sih alasannya,” tanya Soekarno. “Saya kan sudah punya pacar Pak,” jawab Hartini.

Akhirnya, Soekarno baru mengetahui bahwa Hartini sedang berpacaran dengan dengan Benny Moerdani. Hubungan mereka sudah berlangsung selama 7 tahun.

Setelah mengetahui fakta tersebut, Soekarno menjanjikan pernikahan mereka berdua untuk dilangsungkan di Istana Bogor.

“Kamu kan nggak punya orangtua. Pokoknya, kalian kawin saja, nanti saya pestakan di Bogor," ujar Soekarno.

Soekarno menepati janjinya menggelar pesta pernikahan Benny dan Hartini di Istana Bogor. Pesta itu dihadiri sekira 30 tamu, salah satunya adalah tamu kehormatan Panglima TNI AD Letnan Jenderal TNI Achmad Yani.

Usai resepsi di Istana Bogor, Benny bertanya kepada sang istri apakah tidak ingin menggelar acara yang bisa dihadiri teman-temannya. Hartini sebetulnya ingin melakukan hal tersebut. Tetapi, mereka tidak punya cukup uang untuk menyewa gedung, sehinggga harus mengurungkan niatnya.

Benny Moerdani mendadak teringat kepada temannya, Dr. Joseph Halim, perwira kesehatan yang pernah sama-sama bertugas di Papua, dan mencoba bertanya terkait ruangan pesta untuk mereka berdua.

“Dok bisa bantu saya? Saya perlu ruangan untuk pesta kawin, tapi saya tidak punya uang,” tanya Benny kepada Joseph.

“Gampang. Nanti kita pinjam bangunan baru Gedung Panti Perwira di Jalan Prapatan (Jakarta),” ujar Joseph, yang rupanya sedang menjalani hubungan dengan Komandan Detasemen Korps Wanita Angkatan Laut (Kowal).

Alhasil Benny-Hartini menggelar pesta nikah di gedung milik TNI AL, tidak jauh dari asrama KKO di Kwini.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini