Ini Modus Penipuan Skema Business Email Compromise

Puteranegara Batubara, Okezone · Jum'at 01 Oktober 2021 18:52 WIB
https: img.okezone.com content 2021 10 01 337 2480012 ini-modus-penipuan-skema-business-email-compromise-pJbgwF4PIs.jpg Ilustrasi (Foto : Okezone.com)

JAKARTA - Direktorat Tindak Pidana Siber (Dittipidsiber) Bareskrim Polri menangkap 4 warga negara Indonesia (WNI) yang melakukan penipuan dengan cara modus operandi skema Bussiness Email Compromise (BEC).

Dir Siber Bareskrim Brigjen Asep Edi Suheri mengungkapkan bahwa, pelaku melakukan praktik penipuan yang di mana ditujukan kepada manajer keuangan atau bagian keuangan suatu perusahaan. Para tersangka menyamar menjadi mitra perusahaan korban.

"Pada kasus ini, sindikat menggunakan identitas palsu yang kemudian digunakan untuk membuat dokumen antara lain SIUP, SIB, Surat Izin Lokasi, dan akta notaris," kata Asep dalam jumpa pers di kantornya, Jakarta Selatan, Jumat (1/10/2021).

Menurut Asep, dokumen tersebut digunakan tersangka untuk membuat perusahaan palsu yang namanya dimiripkan dengan perusahaan mitra korban dengan menambahkan satu karakter pada alamat e-mail.

Asep menyebut, dokumen perusahaan palsu itu dijadikan dasar pembuatan rekening bank jenis giro yang berada di bawah penguasaan masing-masing tersangka yang terdaftar sebagai direktur perusahaan palsu tersebut.

Baca Juga : Bareskrim Tangkap 4 Penipu Skema Business Email Compromise

Sementara itu, kata Asep, dalam melakukan aksinya, empat tersangka itu membuat e-mail palsu yang namanya dimiripkan dengan perusahaan mitra korban.

"Sedangkan dalam penipuan terhadap perusahaan Simwoon Inc, sindikat menggunakan email palsu fang.xiaoyan@popen--sh, di mana email asli perusahaan tersebut adalah fang.xiaoyan@popen-sh. Sindikat kemudian mengirimkan email palsu yang berisi pemberitahuan pengalihan rekening, dengan rekening milik sindikat sebagai rekening yang dituju," papar Asep.

Diketahui, Polisi menangkap empat tersangka yakni CT, NTS, YH dan SA. Mereka telah telah membuat korban merugi senilai Rp84,8 miliar.

Adapun barang bukti yang diamankan oleh polisi diantaranya, uang tunai Rp29 miliar, 3 telephone selular, 9 buah buku tabungan dari berbagai bank, Paspor para tersangka, 14 buah kartu ATM, 9 buku cek bank, 1 sepeda motor, 3 KTP tersangka, 1 NPWP tersangka, aurat izin usaha, stamp atau cap perusahaan, akta notaris pendirian perusahaan, bukti pengembalian dana dari Bank dan bukti transaksi penukaran mata uang asing.

Atas perbuatannya, mereka disangka melanggar Pasal 45A ayat (1) Jo Pasal 28 ayat (1) UU No 19 Tahun 2016, Pasal 3, Pasal 4 dan Pasal 5 UU No 8 Tahun 2010 tentang TPPU, Pasal 82, Pasal 85 UU No 3 Tahun 2011 tentang Tindak Pidana Transfer Dana dan Pasal 378 KUHP.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini