Viral! Mengabdi 35 Tahun, Guru Ini Dilantik Jadi Kepsek di Sekolah 'Siluman'

Lutfia Dwi Kurniasih, Okezone · Jum'at 01 Oktober 2021 15:50 WIB
https: img.okezone.com content 2021 10 01 337 2479891 viral-mengabdi-35-tahun-guru-ini-dilantik-jadi-kepsek-di-sekolah-siluman-3nrV0D75wd.jpg Kepala sekolah yang dilantik di sekolah fiktif/ foto: medsos

MINUT - Kisah haru seorang guru berinisial RDBA mencuri perhatian publik setelah dirinya dilantik jadi kepala sekolah, setelah 35 tahun mengabdi. Namun, hal tersebut nyatanya menemukan banyak kejanggalan.

(Baca juga: Viral, Anak Pemilik Masjid dan Resort Tak Segan-Segan Rapihkan Sendal Jamaah)

Berdasarkan informasi yang diperoleh, RDBA merupakan PNS dengan pangkat IV A/Pembina, yang telah mengabdi menjadi guru di Klabat, Dimembe, Kabupaten Minut, Sulut.

Guru RDBA telah dilantik menjadi Kepala Sekolah dalam acara pelantikan di JG Center Kantor Bupati, Kabupaten Minahasa Utara (Minut), Sulawesi Utara, Senin, 27 September 2021.

Setelah mendapat emban untuk menjadi kepala sekolah di salah satu sekolah. Namun, tak disangka, sekolah yang diembannya kelak ternyata tidak ada. Sehingga guru RDBA menjadi Kepsek (Kepala Sekolah) untuk SD fiktif.

(Baca juga: Perkenalkan Ipda Nadya, Kapolsek Cantik dan Termuda yang Moncer di Reserse)

Kemudian kisahnya ini viral di media sosial dan mengundang perhatian warganet. Diketahui informasi tersebut diunggah oleh akun Instagram @azamwonggo, Selasa (28/9/2021).

Pemilik akun Instagram @azamwonggo dengan nama asli Azam Alfairzi Wonggo adalah anak kandung RDBA. Ia menceritakan kisah pelik yang dialami oleh ibunya, RDBA tersebut di postingan Instagram terbarunya sehingga menjadi viral di media sosial.

Azam mengunggah sejumlah foto dan video momen pelantikan sang ibu sebagai kepsek. Selain itu, ia juga menambahkan keterangan dalam unggahan tersebut yang mempertanyakan terkait masalah ibunya.

"Selamat Malam Warga Sulawesi Utara saya, Azam Alfarizi Wonggo. sedikit cerita dari saya tentang ibu saya tadi malam. ceritanya Ibu saya ditelpon untuk mengikuti pelantikan sekaligus pengangkatan sumpah kepala sekolah baru di JG Center Minahasa Utara, pada malam itu (senin 27/September-2021)," tulis Azam dalam keterangan unggahan foto dan video di Instagram pribadinya.

Azam juga menjelaskan sebelum mendapat panggilan untuk pelantikan, ibunya diberitahukan untuk memasukkan berkas sebagai syarat untuk menjadi kepala sekolah. Setelah itu, saat pelantikan berlangsung nama ibunya dibaca sebagai kepala sekolah di SD Negeri Kecil Warukapas.

Satu hal yang menjadi pertanyaan Azam, ia kebingungan tentang keberadaan sekolah tersebut yang akan di emban oleh ibunya. Sekolah itu sudah dikonfirmasi bahwa tidak ada keberadaannya.

"Yang menjadi masalah disini, Sekolah tersebut tidak ada sama sekali di daerah warukapas kec. Dimembe, Kab. Minahasa Utara (sudah dikonfirmasi langsung ke Hukum Tua desa Warukapas). kemudian, tadi pagi (selasa, 28/september-2021) ibu saya pergi ke BKD (Badan Kepegawaian Daerah Minahasa Utara) untuk mengkonfirmasi hal tersebut, tetapi jawabannya sangat miris mereka mengatakan bahwa mereka saja baru mengetahui bahwa sekolah itu tidak ada keberadaannya," ungkapnya.

"Pertanyaannya "siapa yang menciptakan nama sekolah tersebut? ada apa dengan pemerintah? ada apa dengan BKD?" tulisnya.

Tentu saja ini menjadi pertanyaan baginya, bagaimana bisa ibunya menjadi kepala sekolah yang entah dimana keberadaan sekolah tersebut (sekolah fiktif).

Lebih lanjut berdasarkan keterangan Azam ibunya harus menunggu 2-3 minggu ke depan untuk pelantikan selanjutnya. Azam juga memberikan keterangan bahwa keluarganya menuntut keadilan.

"Kami keluarga menuntut keadilan, karena menurut kami ini adalah suatu penghinaan kepada seorang guru dan kami meminta kepada pemerintah untuk segera memproses pihak-pihak yang terkait dengan kejadian ini. Terimakasih, mohon bantuan teman teman untuk memviralkan berita ini. Klabat, 28 September 2021 dari kami anak-anak ," tutupnya.

Mendengar kabar ini, pihak Badan Kepegawaian dan Diklat Daerah (BKD) mengaku khilaf. Pihak BKD lantas meminta guru RDBA untuk menunggu pelantikan kepala sekolah di kloter selanjutnya.

Kepala BKD meminta maaf atas kekhilafan yang dilakukan dan dia meminta agar guru tersebut menunggu karena akan ada pelantikan berikutnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini