Kesaksian Mengejutkan Prajurit Komando Evakuasi Korban G30S PKI di Lubang Buaya

Mohammad Adrianto S, Okezone · Jum'at 01 Oktober 2021 08:15 WIB
https: img.okezone.com content 2021 09 30 337 2479483 kesaksian-mengejutkan-prajurit-komando-evakuasi-korban-g30s-pki-di-lubang-buaya-2KdSoBh9gB.jpg sumur di lubang buaya tempat jasad para jenderal/ Okezone

GERAKAN 30 September 1965 tercatat sebagai sejarah kelam bagi bangsa Indonesia, dimana Partai Komunis Indonesia (PKI) menculik dan membunuh 6 dari 7 jenderal serta satu Lettu TNI-AD. Jasad mereka dibuang begitu saja oleh PKI ke sumur tua di Lubang Buaya, Jakarta Timur.

(Baca juga: Akhir Tragis Perjalanan Brigjen Katamso dan Kolonel Sugiyono di Tangan PKI)

Mengutip buku Sintong Panjaitan, Perjalanan Seorang Prajurit Para Komando, tertulis setidaknya membutuhkan beberapa hari sebelum akhirnya, Resimen Para Komando Angkatan Darat (RPKAD) saat ini bernama Kopassus di bawah pimpinan Letnan Dua Sintong Panjaitan, menemukan jasad dari korban aksi keji PKI pada 3 Oktober 1965.

(Baca juga: Sosok Letjen S Parman, Adik Petinggi PKI yang Jadi Korban Kebrutalan G30S)

”Tong, di situlah daerah latihan Pemuda Rakyat, BTI, Gerwani, dan ormas PKI lainnya. Di situ kamu periksa semua karena di tempat itulah mereka disiksa. Kalau mereka dibunuh, juga di sekitar tempat itulah adanya,” perintah Komandan Kompi Tanjung Batalion 2 RPKAD Lettu Feisal Tanjung kepada Komandan Peleton 1/A Kompi Tanjung Letnan Dua Sintong Panjaitan.

Setelah mendapat perintah, Sintong memerintahkan bawahannya untuk menginspeksi Desa Lubang Buaya. Tujuannya jelas, yaitu mencari keberadaan para jenderal dan perwira pertama Angkatan Darat yang hilang diculik dan dibunuh oleh pasukan Pasopati dari Cakrabirawa.

Dilakukannya operasi pencarian di Desa Lubang Buaya ini berkat kesaksian Agen Polisi Tingkat II Sukitman. Dirinya sempat diculik saat berpatroli di dekat rumah D.I. Panjaitan di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, tetapi akhirnya bisa melarikan diri dan melapor ke Markas Komando RPKAD di Cijantung, Jakarta Timur.

Proses pencarian yang dilakukan RPKAD terhadap lokasi penyiksaan dan pembunuhan para jenderal tidaklah mudah, mengingat lokasi Desa Lubang Buaya yang sangat luas. Mereka kerap menemukan gundukan tanah yang dicurigai sebagai tempat penimbunan namun ternyata gagal.

Pada akhirnya, seorang warga desa yang ikut membantu mencari jasad pahlawan tersebut menunjukan sebuah tempat di bawah pohon. Tempat itu awalnya merupakan sebuah sumur, tetapi telah ditimbun dan disamarkan. ”Jangan-jangan para korban yang dicari diceburkan di sumur itu,” ujar Sintong.

Sintong dengan cepat meminta anggotanya Peleton I untuk menggali. Setelah melakukan penggalian, mulai ditemukan berbagai macam benda seperti daun-daunan yang masih segar, batang pohon pisang serta potongan kain berwarna merah, hijau dan kuning ciri khas pasukan Batalion Infanteri 454/Banteng Raider dari Jawa Tengah dan Batalion Infanteri 530/Raiders dari Jawa Timur.

Semakin dalam mereka menggali, mulai tercium bau busuk menyengat dari dalam sumur, namun tidak sampai menghentikan proses penggalian. Meskipun demikian, pada akhirnya salah seorang penggali memohon untuk ditarik ke atas karena sudah tidak sanggu mencium bau menyengat dari sumur tua di Lubang Buaya.

Seorang anggota Peleton 1 yang kemudian menggantikan penggali tersebut untuk melanjutkan penggalian. Memasuki pukul 22.00 WIB, dirinya dikejutkan dengan penemuan kaki yang mencuat ke atas, yang merupakan salah satu jenazah dari jenderal-jenderal serta perwira Angkatan Darat.

Temuan itu kemudian dilaporkan kepada Lettu Feisal Tanjung dan diteruskan ke Pangkostrad Mayjen TNI Soeharto. Sintong meminta anggota RPKAD bernama Kopral Anang untuk membantu pengangkatan jenazah. Ini tidak lepas dari faktor sang kopral yang sebelummya pernah mendapatkan pendidikan selam di Kopaska, TNI AL

Tetapi, peralatan selam RPKAD berada di Cilacap, Jawa Tengah, sehingga Sintong harus meminta bantuan kepada KKO AL. Sintong harus menunggu hingga sekitar pukul 04.30 dini hari, sebelum bantuan untuk penyelaman datang.

Adalah Komandan Kompi Para Amfibi Kapten KKO AL Winanto bersama 8 penyelam serta 2 dokter bernama Drg. Sumarno dan Dr. Kho Tjio Ling tiba di daerah Lubang Buaya. Untuk memasuki sumur itunsendiri baru diperbolehkan sekitar pukul 10.00 WIB.

Untuk mengevakuasi korban, mereka menggunakan tali dengan mengikatkannya pada jenazah. Proses pengangkatan pun dimulai sekitar pukul 12.05. Satu persatu anggota Peleton 1 bergantian memasuki sumur dan mengangkat jenazah di dalam sumur.

Akhirnya, proses pengangkatan jenazah pun usai. Tetapi mereka harus memastikan kembali seluruh jenazah sudah diangkat, dan mau tidak mau harus turun lagi ke sumur. Sayang, semua penyelam baik dari KKO TNI AL maupun RPKAD sudah kelelahan.

“Bahkan, salah seorang prajurit pilihan yang telah berhasil mengangkat jenazah keracunan bau yang menyengat di dalam sumur. Dia muntah-muntah dan terkapar,” tulis Sintong di buku tersebut.

Melihat situasi tersebut, Komandan Kompi Intai Para Amfibi Kapten Winanto memutuskan untuk turun masuk ke dasar sumur. Rupanya masih tertinggal satu jenazah lagi, yakni Brigjen TNI D.I. Panjaitan.

“Masker gas antihuru-hara itu tidak mampu menahan bau dari ketujuh jenazah. Jadi dari jarak sekitar 100 meter itu baunya terasa waktu kita masuk,” papar anggota KKO Pelda (Purn) Evert Julius Ven Kandou yang turut andil dalam pengangkatan jenazah Pahlawan Revolusi dalam kanal YouTube MTATV.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini