Kisah Anak-anak Korban G30S, Alami Trauma hingga Silaturahmi dengan Mantan PKI

Mohammad Adrianto S, Okezone · Jum'at 01 Oktober 2021 07:33 WIB
https: img.okezone.com content 2021 09 30 337 2479466 kisah-anak-anak-korban-g30s-alami-trauma-hingga-silaturahmi-dengan-mantan-pki-c6T14EGcmq.jpg Amelia Yani/ Okezone

JAKARTA – Memori mengenai peristiwa G30SPKI rupanya masih tersimpan oleh pihak ketiga yang saat itu merupakan saksi dari kejadian berdarah ini. Salah satunya adalah anak-anak dari pahlawan revolusi.

(Baca juga: Akhir Tragis Perjalanan Brigjen Katamso dan Kolonel Sugiyono di Tangan PKI)

Beberapa waktu lalu, Okezone melakukan sejumlah wawancara bersama dengan beberapa anak yang sempat menyaksikan peristiwa ini. Berikut rangkumannya.

Catherine Panjaitan

Catherine Pandjaitan, putri sulung Mayor Jenderal (Anumerta) Donald Issac (DI) Pandjaitan, menyaksikan langsung ketika sang ayah ditembak dan tewas di hadapan dirinya. Catherine sempat mengalami trauma dalam setahun pertama pasca peristiwa terjadi.

Rasa marah, sedih dan sesal menjadi sarapan sehari-hari Catherine selama berpuluh tahun. Namun perlahan-lahan wanita kelahiran Jakarta 8 Juli 1947 bisa melapangkan dada dan memilih untuk memaafkan para pelaku pembunuh ayahnya.

Hendrianti Saharah Nasution

Jenderal Abdul Harris Nasution juga merupakan salah satu target pemberantasan PKI tahun 1965 silam. Meskipun demikian, dirinya berhasil selamat setelah melarikan diri dan mengumpat di sebuah belakang drum besar yang ada di pekarangan Kedutaan Besar (Kedubes) Irak.

Saat itu, Yanti, sapaan akrabnya, menyaksikan kronologi pasukan Tjakrabiwa yang hendak menculik dan membunuh ayahnya. Mulai dari pendobrakan rumah, penembakan Lettu Pierre Tendean dan adiknya Ade Irma Suryani, hingga pelarian diri sang ayah.

Yanti masih ingat ketika adiknya meminta dirinya untuk tidak menangis. "Baru setengah 8 saya dijemput, dibawa ke RSPAD. Terus saya melihat adik saya disitu, terus dia masih sempat bilang sama saya 'Kaka jangan menangis,' dia bilang," ucap Yanti ke wartawan Okezone, tahun 2020 lalu.

"Setelah itu dia bilang sama ibu saya 'Kenapa ayah ditembak?' Jadi, ya itulah yang berat buat saya sampai sekarang. Saya lihat peristiwa itu semua, maaf ya saya enggak menahan emosi karena terharu, karena itu satu peristiwa yang enggak gampang," ujarnya mengakhiri pembicaraan dengan rasa haru.

Amelia Yani

Putri sulung Jenderal (Anumerta) Ahmad Yani, yakni Amelia Yani menganggap bahwa peristiwa G30SPKI merupakan kejadian masa lampau dan perlahan bisa mengikhlaskan kepergian sang ayah. Dirinya bahkan sudah pernah bertemu dengan mantan tahanan PKI.

"Saya pribadi ya, ketemu dengan mantan tahana politik 65, mereka sudah melaksanakan (silaturahmi) di level bawah. Soal rehabilitasi, pernah saya cek KTP keluarganya, saya lihat sudah bersih, sudah ada rehabilitasi," ujar Amelia kepada Okezone tahun 2015.

Tetapi, untuk di daerah pelosok, Amelia menganggap bahwa diskriminasi terhadap keluarga korban 1965 masih terjadi. Bahkan, anak serta cucu keturunan sosok yang dicap komunis masih sering terisolir.

"Biarkan kami (sama-sama korban) yang merasakan kepedihan, kasihan anak-cucunya yang saat ini masih terisolir terutama di daerah," pungkasnya.

Enda Marina dan Harianto Haryono

Enda Marina dan Harianto Haryono merupakan 2 dari 5 anak Letjen (Anumerta) M.T. Haryono. Kepada Okezone, mereka menceritakan mendapat firasat mengenai sang ayah sebelum ajal menjemput.

Enda Marina yang merupakan putri bungsu MT Haryono, menceritakan bahwa suatu malam sebelum peristiwa, Enda bermimpi ayahnya ditusuk tombak oleh sejumlah orang misterius hingga tak berdaya.

Sementara Harianto, yang merupakan putra sulung MT Haryono, menuturkan momen dimana sang ayah tiba-tiba mengajaknya mengobrol soal politik. Padahal, Harianto tahu betul, sang ayah tak pernah membahas permasalahan politik dengan anak-anaknya.

"Babab (sapaan Harianto), kalau kamu sudah besar nanti, sebaiknya hindarilah berpolitik. Karena politik itu sangat berisiko. Politik itu menghalalkan segala cara. Selagi kamu berada dalam satu kelompok, kelompok itu akan menganggapmu sebagai teman,” ucap MT Haryono pada Harianto 2017 silam.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini