IDI: Covid-19 Bisa Terus Bermutasi, Bahkan Sampai Huruf Yunani Habis

Binti Mufarida, Sindonews · Kamis 30 September 2021 12:19 WIB
https: img.okezone.com content 2021 09 30 337 2479195 idi-covid-19-bisa-terus-bermutasi-bahkan-sampai-huruf-yunani-habis-00ODZ3bFts.jpg Jubir IDI Erlina Burhan (Foto: Binti Mufarida)

JAKARTA - Juru Bicara Covid-19 Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI), Erlina Burhan mengungkapkan, virus Covid-19 memiliki sifat terus bermutasi. Apalagi, jika terjadi infeksi, penularan, maka potensi mutasi juga semakin meningkat.

“Apapun variannya, jadi bahkan bahwa virus ini kan memiliki sifat akan terus bermutasi, kalau terus terjadi infeksi, penularan, makin meningkat maka potensi untuk terjadi mutasi itu akan ada,” ungkap Erlina dalam dialog secara virtual di Youtube BNPB, Kamis (30/9/2021).

Baca Juga:  4.974 Pekerja Migran Dikarantina di RSDC Pademangan

Bahkan, kata Erlina, sampai huruf Yunani habis untuk penamaan mutasi virus Covid-19 pun virus ini juga akan tetap bermutasi. “Dan ingin saya sampaikan, apapun varian baru tersebut bahkan kalau huruf Yunani habis untuk menamainya, sekarang kan namanya Alpha, Beta, Gamma, Delta, Iota, Epsilon, Kappa, Lambda, dan bahkan yang terbaru adalah Mu, nggak apa-apa sampai habis huruf Yunani saking banyaknya varian, yang penting tidak masuk ke dalam tubuh kita,” katanya.

Erlina mengatakan virus Covid-19 akan mati jika tidak masuk ke dalam tubuh manusia. Dia akan bertahan hidup beberapa jam atau sehari saja jika menempel di benda-benda mati.

“Karena virus ini, apapun variannya kalau ada di benda-benda mati tidak masuk dalam tubuh, dalam tubuh benda hidup seperti sel manusia akan hidup, kalau ada di benda-benda mati apakah di tanah, di meja, di kursi, itu beberapa jam atau paling beberapa hari tidak aktif atau kita bisa mengatakan sebagai mati. Jadi tidak masalah,” paparnya.

Baca Juga:  Terus Berkurang, RSDC Wisma Atlet Kemayoran Rawat 266 Pasien Covid-19

Nah, bagaimana caranya supaya tidak masuk ke dalam tubuh? “Itu tadi ada intervensi. Mulai dari 3T, 3 M itu kan sangat sangat kuat itu memakai masker, sekarang kita menjaga jarak, mencuci tangan, lalu ditambah lagi dengan menghindari kerumunan, minimalisir mobilisasi ya,” kata Erlina.

“Tapi kalau kondisi sekarang 3M saja dilakukan dengan sangat sangat disiplin itu sudah sangat jitu. Tapi memang kita tidak bisa menjamin bahwa hanya satu intervensi yang dibutuhkan untuk pencegahan. Masih banyak ikhtiarnya selain 3M, 5M, ada 3T dari pihak pemerintah testing, tracing juga treatment, juga vaksinasi,” paparnya.

(Ari)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini