Akhir Tragis Perjalanan Brigjen Katamso dan Kolonel Sugiyono di Tangan PKI

Mohammad Adrianto S, Okezone · Kamis 30 September 2021 08:20 WIB
https: img.okezone.com content 2021 09 30 337 2478987 akhir-tragis-perjalanan-brigjen-katamso-dan-kolonel-sugiyono-di-tangan-pki-XHrZRj6c5i.jpg Brigjen Katamso (Wikipedia)

TUJUH Pahlawan Revolusi dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta, setelah sebelumnya jasadnya ditemukan di sebuah sumur tua, di Lubang Buaya, Jakarta Timur. Selain itu, ada dua Pahlawan Revolusi yang dimakamkan di Yogyakarta. Keduanya adalah Brigadir Jenderal (Anumerta) Katamso Dharmakusumo dan Kolonel Anumerta R. Sugiyono Mangunwiyoto.

(Baca juga: Saat Jenderal Nasution Tolak Saran Bung Karno soal Pemakaman Ade Irma)

Dilansir dari buku Ensiklopedia Pahlawan Nasional serta buku Sejarah Nasional Indonesia: Zaman Jepang dan Zaman Republik Indonesia', dapat dilihat bahwa keduanya ditangkap dan disiksa oleh PKI hingga tewas.

Katamso dilahirkan pada 5 Februari 1923 di Sragen. Jawa Tengah. Pada masa pendudukan Jepang dirinya mengikuti pendidikan militer pada Pembela Tanah Air (PETA) di Bogor. kemudian diangkat menjadi Shodanco Peta di Solo.

(Baca juga: Gugurnya Mayjen DI Panjaitan di Hadapan Putrinya Oleh Moncong Senjata Cakrabirawa)

Setelah Proklamasi Kemerdekaan ia masuk Tentara Keamanan Rakyat (TKR) yang kemudian menjadi Tentara Nasional Indonesia (TNI). Dia diangkat menjadi Komandan Kompi di Klaten, kemudian bertugas sebagai Komandan Kompi Batalyon 28 Divisi IV.

Pada Agresi Militer Belanda II beberapa kali pasukan yang dipimpinnya terlibat dalam pertempuran dengan Belanda. Katamso berhasil menumpas pemberontakan dalam tubuh Batalyon 426 di Jawa Tengah tahun 1951. T

Tahun 1958 ia dikirim ke Sumatera Barat untuk menumpas pemberontakan PRRl sebagai Komandan Batalyon "A" Komando Operasi 17 Agustus. Setelah itu menjadi Kepala Staf Resimen Team Pertempuran (RIP) II Diponegoro di Bukittinggi.

ist

(Kolonel Sugiyono/ Wikipedia)

Sementara itu, Sugiyono lahir pada 12 Agustus 1926 di Desa Gedaran, daerah Gunung Kidul, Yogyakarta. Pada masa pendudukan Jepang Sugiyono mendapat pendidikan militer pada Pembela Tanah Air (PETA). Kemudian ia diangkat menjadi Budancho di Wonosan. Pada masa kemerdekaan, Sugiyono masuk TKR di Yogyakarta dan bertugas sebagai Komandan Seksi.

Pada tahun 194 7 dia diangkat sebagai ajudan Komandan Brigade 10 di bawah pimpinan Letnan Kolonel Soeharto dan ikut serta dalarn Serangan Umum 1 Maret 1949 di Yogyakarta. Setelah Pengakuan Kedaulatan Sugiyono ikut menumpas pemberontakan Andi Azis di Sulawesi Selatan.

Setelah itu jabatan yang dipegangnya adalah menjadi Kepala Staf Komando Resort Militer (Korem) 072, Komando Daerah Militer (Kodarn) VII Diponegoro di Yogyakarta (1965).

Keduanya merupakan sosok yang menjadi musuh dari PKI. Terlebih Katamso, yang dulunya merupakan pembina aktif Resimen Mahasiswa (Menwa) untuk bisa siap menghadapi ancaman PKI jika kian memanas.

Ketika peristiwa G30SPKI meletus, Katamso dan Sugiyono ditangkap di Yogyakarta. Keduanya mendapat siksaan dari PKI hingga pada akhirnya tewas. Dalam kasus Katamso, dirinya bahkan disiksa dengan dipukul kepalanya hingga pecah dengan tangkai mortir.

Jasad dari 2 pahlawan ini akhirnya ditemukan pada 22 Oktober 1965. Mereka dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Semaki, Yogyakarta. Untuk memberi penghormatan kepada keduanya, pemerintah membuatkan sebuah monumen yang bernama Monumen Pahlawan Pancasila.

(fmi)

1
1

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini