Francisca Fanggidaej, Pejuang yang Dihapus dari Sejarah Oleh Orde Baru karena G30S PKI

Lutfia Dwi Kurniasih, Okezone · Rabu 29 September 2021 12:15 WIB
https: img.okezone.com content 2021 09 29 337 2478602 francisca-fanggidaej-pejuang-yang-dihapus-dari-sejarah-oleh-orde-baru-karena-g30spki-Xcol2fqRet.jpg Francisca Fanggidaej/ arsip keluarga

FRANCISCA Fanggidaej, seorang pejuang wanita yang namanya hampir terlupakan. Dia berperan aktif dalam diplomasi Indonesia pada masa revolusi kemerdekaan. Namun saat rezim Orde Baru berkuasa, nama itu jarang terdengar karena telah dihapus dalam sejarah Indonesia setelah dikaitkan dengan peristiwa G30SPKI.

(Baca juga: Saat Jenderal Nasution Tolak Saran Bung Karno soal Pemakaman Ade Irma)

Sebelumnya Francisca Fanggiedaej adalah anggota DPR. Pada gonjang-ganjing 1965, Francisca sedang berada di luar negeri dan tidak bisa pulang karena paspornya dicabut. Peristiwa berdarah 1965 kala itu telah memisahkan ibu, ayah dan anak-anaknya.

Francisca meninggalkan tujuh anaknya yang masih bocah dan harus menunggu lebih dari 35 tahun silam untuk bertemu kembali.

(Baca juga: Subuh Berdarah di Jalan Sumenep, Mayjen Sutoyo Diculik dan Dibunuh PKI)

"Sebagai seorang ibu, saya meninggalkan anak-anak saya yang waktu itu masih kecil. Ini bukan demi saya, tetapi untuk keselamatan mereka," kata Francisca Fanggidaej dilansir BBC Indonesia, Rabu (29/9/2021).

Sembilan tahun setelah reformasi, buku memoar Francisca yang ditulis oleh bekas tahanan politik 1965, Hersri Setiawan terbit.

Sekitar tahun 1945, Francisca membantu menjalankan siaran Radio Gelora Pemuda di Madiun untuk melawan propaganda NICA.

Pada 1947, Francisca berpidato di konferensi pemuda di Praha dengan tema "solidaritas bersama rakyat yang terjajah". Pada 1955, Francisca menjadi wartawan Kantor Berita Antara, kemudian mendirikan INPS. Pada tahun 1957, Presiden Soekarno menunjuknya sebagai anggota DPR wakil golongan wartawan.

Anak-anak Francisca kemudian menjadi tahu peranan ibunya sebagai perempuan pejuang melalui buku berjudul 'Memoar Perempuan Revolusioner' itu.

"Setiap kali saya ada persekutuan doa yang satu-satu yang saya doakan selalu ibu saya karena terus terang saya sedih jika ingat beliau. Saya selalu berdoa, kapan bertemu dengan ibu saya? Dan keadaannya seperti apa? Ibu saya sebenarnya ada dimana?" ungkap Savitri Sasanti Rini anak Francisca Fanggiedaej.

Trauma Savitri belum sepenuhnya sirna. Lebih dari 55 tahun silam ketika usianya masih tujuh tahun dia kehilangan ibunya. Mayanti Trikarini si anak bungsu, juga sulit melupakan tragedi itu.

"Waktu itu kan berita tentang mama masih simpang siur, yang meninggal lah yang apa. Jadi kita juga bertanya-tanya mama mana, kayaknya udah meinggal, gitu kita jadi negatif thingking semua kan karena ga ada berita sama sekali dan ga ada kabar mengenai mama," ujar Mayanti Trikarini anak bungsu Francisca.

Santi dan Maya adalah anak pasangan Supriyo dan Fracisca, ketika peristiwa gonjang-ganjing 1965 meletus, sang ayah seorang wartawan dipaksa masuk bui tanpa proses peradilan.

Kemudian sang ibu Francisca, tengah bertugas di luar negeri. Francisca tidak bisa pulang ke Indonesia karena terus dikaitkan dengan peristiwa G30S PKI.

"Saya punya paspor itu tidak diakui. Waktu itu saya juga sudah menduga situasi sudah menjadi sangat genting," suara alm Francisca dalam wawancara dengan Radio Netherlands Worlwide (RNW) setelah reformasi bergulir.

Namun selama Orde Baru, Francisca terpisah dengan tujuh orang anaknya hingga puluhan tahun kemudian. Dia akhirnya menjadi eksil di China dan negeri Belanda. Namanya kemudian dihilangkan secara resmi dari sejarah oleh pemerintahan Soeharto karena latar belakang politiknya.

Ita Fatia Nadia sebagai peneliti sejarah mengungkap fakta bahwa Francisca adalah seorang pejuang revolusioner yang tidak diakui.

"Kekuasaan Orde Baru ketika itu ada peraturan presidennya, ada keputusan presidennya mengatur bahwa sejarah sebelum 1965 tidak boleh dibuka, itu menjadi wewenang dari negara," jelas Ita Fatia sebagai peneliti sejarah.

Padahal menurut Ita Nadia, Francisca terlibat dalam beberapa momen penting saat revolusi kemerdekaan seperti upaya diplomasi ke luar negeri untuk mencari dukungan internasional.

"Soekarno mengatakan kepada Francisca "Kamu yang harus pergi, berkeliling ke dunia, berkeliling ke negara-negara yang sedang memperjuangkan kemerdekaan terutama di Asia, Amerika Latin, dan Eropa untuk kamu bicara bahwa kemerdekaan Indonesia adalah kemerdekaan yang digagas atau diperjuangkan oleh rakyat Indonesia untuk melawan kolonial," ungkap Ita Nadia bahwa Soekarno telah berpesan pada Francisca.

Dalam atmosfer propaganda Orde Baru anak-anak Francisca yang kemudian dititipkan kepada keluarga ibunya tumbuh besar dalam stigma terkait latar belakang politik ibunya Francisca.

Salah seorang anak laki-lakinya Nusa Eka Indriya, berusia sembilan tahun saat mereka diusir oleh tentara dari rumahnya tidak lama setelah G30S pada 1965 masih ingat betul bagaimana peristiwa itu terjadi.

"Saya kalau cerita masa lalu itu saya hanya berharap jangan ada lagi karena itu membekas sekali, ketika kami bermain (ada yang mengolok) "PKI...PKI.." aduh PKI itu siapa? PKI itu makanan apa? Saya juga tidak tahu waktu itu," ungkapnya heran.

Setelah paspornya dicabut dan tidak ada harapan untuk pulang, Francisca terpaksa memilih menjadi warga negara Belanda.

Namun, perubahan politik reformasi 1998 dan setelah pemerintahan presiden Abdurrahman Wahid, presiden mempersilahkan para eksil untuk pulang.

Dalam kesempatan itu Francisca sempat pulang ke Indonesia dan bertemu anak-anaknya. Mayanti Trikarini sudah berkeluarga saat pertama kali memeluk ibunya.

"Mama saya nangis, sedih gitu ya, kalau saya memang sedih terhanyut tetapi rasanya beda kan ya kalo dari kecil kita diasuh ibu kita sendiri," ungkap Mayanti.

Kini setelah sang ibu tutup usia pada 2013 lalu dan dimakamkan di Belanda anak-anaknya bersuara. Savitri Sasanti terus teringat wasiat ibunya.

"Satu pesan dari ibu saya yang selalu saya ingat bahwa "Tolong anak-anak saya jangan dilibatkan dalam dunia politik," kata Savitri mengingat wasiat Francisca. "Saya setuju karena politik bapak saya hancur, karena politik anak-anak hancur," tambahnya.

Adapun Eka Indriya yang menyerahkan sepenuhnya kepada waktu untuk memperlihatkan sosok ibunya secara lebih adil.

"Waktu yang akan menentukan nanti. Ketika nanti sudah normal dan sudah kembali, saya yakin akan muncul dan sedikit banyak walau tidak diakui, orang-orang akan tahu peran Ibu Francisca," ungkapnya.

Mayanti pun kini setuju dan menyebut ibunya adalah sosok pejuang meskipun belum diakui secara resmi.

"Akhirnya saya bilang, ibu saya seorang pejuang wanita tangguh. Dia benar-benar memikirkan negara untuk perjuangan Indonesia, dari situ saya tahu akhirnya saya mengakui bahwa mama saya adalah pejuang tapi pejuang tanpa nama, belum diakui begitu lah," katanya.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini