Kisah Korban G30S PKI Mayjen MT Haryono, Calon Dokter yang Jago Berunding

Mohammad Adrianto S, Okezone · Rabu 29 September 2021 06:30 WIB
https: img.okezone.com content 2021 09 28 337 2478364 kisah-korban-g30s-pki-mayjen-mt-haryono-calon-dokter-yang-jago-berunding-RyhpPeR9OG.jpg foto: ist

LETNAN Jenderal (Anumerta) MT Haryono merupakan salah satu tokoh pahlawan revolusi yang gugur dalam peristiwa Gerakan 30 September (G30SPKI) tahun 1965 silam. Menyadur dari buku Ensiklopedia Pahlawan Nasional serta arsip Okezone, dapat dilihat bahwa M.T. Haryono menguasai 3 bahasa yang membuatnya ahli dalam perundingan.

(Baca juga: Sisi Lain Ahmad Yani, Jenderal Korban PKI Penerima Pedang Samurai Legendaris)

MT Haryono dilahirkan di Surabaya pada 20 Januari 1924. Saat periode pendudukan Jepang ia mengikuti pelajaran pada Ika Dai Gaku (Sekolah Kedokteran) di Jakarta. Pada masa Proklamasi Kemerdekaan Haryono ikut bergabung dalam TKR dengan pangkat Mayor.

Karena pandai berbahasa Belanda, lnggris dan Jerman, MT Haryono ikut dalam berbagai perundingan antara Indonesia dan Belanda atau Indonesia dengan lnggris. Tidak hanya itu, dirinya juga memiliki perawakan yang tenang serta pembawaan bersahaja, membuat dirinya sebagai aset utama Indonesia dalam berunding.

(Baca juga: Letjen Suprapto, Eks Ajudan Jenderal Sudirman Penentang Angkatan Kelima Bentukan PKI)

Salah satu perundingan termashyur yang melibatkan peran MT Haryono adalah Konferensi Meja Bundar (KMB) pada tahun 1949, dimana dirinya ketika itu menjabat posisi sebagai Sekretaris Delegasi Militer Indonesia.

MT Haryono pemah menjadi sekretaris delegasi RI dan Sekretaris Dewan Pertahanan Negara, kemudian menjadi Wakil Tetap pada Kementerian Pertahanan Urusan Gencatan Senjata. Ia kemudian menjadi Atase Militer RI untuk Negeri Belanda (1950) dan sebagai Direktur Intendans dan Deputi III Menteri/Panglima Angkatan Darat (1964).

Menjabat posisi Men/Pangad ketika itu, pemikiran-pemikiran M.T. Haryono kerap berseberangan dengan gagasan-gagasan yang dilontarkan oleh Partai Komunis Indonesia (PKI) yang saat itu memiliki pengaruh cukup besar di tengah masyarakat.

Salah satu pemikiran yang dianggap sebagai pemicu sentimen negatif PKI terhadap sosok M.T. Haryono adalah ketika dia dengan tegas menolak gagasan PKI yang hendak mempersenjatai para buruh dan kaum tani yang kemudian dikenal sebagai Angkatan Kelima.

Seperti sebagian besar perwira lain di Angkatan Darat, MT Haryono melihat adanya potensi bahaya dari gagasan pembentukan Angkatan Ke-lima itu. Sejak itulah MT Haryono kemudian dijadikan target pembunuhan PKI. Pada akhirnya, dia dibunuh PKI 1 Oktober 1965 dinihari didaerah Lubang Buaya dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini