5 Cerita Unik Napi Terorisme yang Tobat, Jadi Pengibar Bendera Merah Putih

Tim Litbang MPI, MNC Portal · Rabu 29 September 2021 05:06 WIB
https: img.okezone.com content 2021 09 28 337 2478165 5-cerita-unik-napi-terorisme-yang-tobat-jadi-pengibar-bendera-merah-putih-eZOJjvQDUE.jpg Umar Patek (BNPT TV)

AKSI teror beberapa kali terjadi di Indonesia. Hal ini terjadi akibat beberapa faktor salah satunya adalah tidak adanya rasa cinta terhadap NKRI. Banyak teroris yang tidak setia dengan Pancasila dan UUD 1945 ini ditangkap dan diberikan hukum pidana. Akibat pembinaan dan faktor internal eksternal lainnya menyebabkan banyak napi terorisme yang tobat dan kembali ke jalan yang benar. Melansir dari berbagai sumber pada Rabu (29/9/2021), berikut ini adalah cerita-cerita unik napi terorisme yang tobat :

1. JAD Memperoleh Hadiah Umrah

Mantan napi kasus terorisme JAD (44) yang sembunyikan gembong teroris Noordin M. Top diberikan hadiah ibadah umrah. Hadiah ini diberikan oleh Kapolres Ngawi AKBP Pranatal Hutajulu akibat ia ikut serta telah menciptakan suasana aman di Ngawi dan sudah bertobat setelah kasus terorisme yang menimpanya. JAD dipenjara selama empat tahun karena membantu Noordin M Top menginap dirumahnya pada tahun 2005 silam. Ia telah bertobat dan menjalani harinya dengan beraktivitas di masjid dan Bertani.

2. UP Menjadi Pengibar Bendera HUT RI

UP merupakan peracik dan perangkai bom, pemantau kondisi lapangan, pembuat denah lokasi, dan pencocok waktu dan tempat saat kejadian Bom Bali I. Setelah penangkapannya berhasil, UP telah bertobar dan telah sebanyak empat kali menjadi petugas pengibar bendera Merah Putih dalam perayaan HUT RI di Lapas Kelas 1 Surabaya. Bahkan posisi ini tidak berdasarkan hasil tunjuk, tapi karena UP mengajukan diri dan dipercaya oleh petugas Lapas.

3. JT Menjadi Peracik Soto

Warung soto di Karanganyar berhasil dibuka oleh mantan napi JT setelah mendekam di penjara selama enam tahun. JT merupakan spesialis perakit dan timer bom yang kini sudah bertobat dan melanjutkan hidup menjadi pengusaha warung soto. Ia sudah berhasil melupakan masa lalunya yang kelam. Saat ini, warung sotonya sudah berdiri selama lima tahun. JT juga bertekad untuk kembali berbaur dengan masyarakat. Bahkan, JT memberikan edukasi kepada anak muda mengenai bahayanya radikalisme dan terorisme. Ia juga meminta agar pemerintah tetap terus mendukung pada mantan napi agar bisa kembali ke masyarakat.

Baca Juga : Sosok Umar Patek, Eks Teroris yang Kini Jago Ngegombal

4. AI Mengikuti Program Pemerintah

Meskipun terpidana seumur hidup, disisa hidupnya AI meminta ingin ikut dalam program pemerintah yang bertujuan untuk menyadarkan para teroris. AI dipidana akibat kasus Bom Bali 2002. Permintaannya ini dikabulkan dan AI dihadirkan dalam acara kajian Ramadhan. Pada acara tersebut, AI memberikan himbauan kepada para generasi muda untuk tidak terlibat ke kegiatan yang tidak benar atau kearah ekstremisme.

5. TMH Tobat karena Keluarga

Mantan napi teroris yang ditangkap pada 2013 lalu berinisial TMH ini tobat akibat keluarga. TMH ditangkap akibat perampokan bank CIMB Niaga di Medan dan penembakan polisi di Polsek Hamparan Perak. Mantan napi ini mulai kembali ingin menjadi warga NKRI dan mencintai NKRI sejak tahun 2017. Ini dimulai dari pada saat ia bertemu dengan anaknya di Lapas Sentul, anaknya seakan tidak mengenali dirinya. Sejak saat itu, TMH berjanji akan lebih dekat dengan keluarga dan membangun usaha. Cintanya dengan NKRI juga didukung oleh pihak Badan Nasional Penanggulangan Teoris (BNPT). (diolah dari berbagai sumber/Ni Ketut Candra Puspita/Litbang MPI)

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini