Apakah Merdeka Belajar Solusi Pendidikan?

Opini, Okezone · Senin 27 September 2021 16:47 WIB
https: img.okezone.com content 2021 09 27 337 2477629 apakah-merdeka-belajar-solusi-pendidikan-SC5EaBBP4W.jpeg Aminudin (Dok Pribadi)

PEMBERLAKUAN Pembelajaran Jarak Jauh selama masa pandemi atau wabah besar ternyata membawa keberuntungan tidak sengaja (blessing in disguise). Pertama, mempercepat transformasi teknologi informasi di dunia pendidikan. Sebelum masa pandemi teknologi pengajaran hampir semuanya dari pusat sampai daerah hanya mengenal pengajaran konvenional dan tatap muka. Tapi, setelah pandemi hampir seluruh Tanah Air para memangku pendidikan mulai terbiasa menggunakan teknologi informatika.

Survei KPAI (Komisi Perlindungan Anak) sebagai responden utama dan 1.700 responden yang paling sering dipergunakan para siswa, yaitu mayoritas siswa menggunakan telepon genggam/handphone sebanyak 95,4%. Selain itu ada 23,9% siswa menggunakan peralatan berupa laptop. Sedangkan 2,4% siswa menggunakan komputer PC.

Program Belajar dari Rumah yang disiarkan di Lembaga Penyiaran Publik Televisi Republik Indonesia (LPP TVRI) sejak Senin mendapat respons orangtua dan sekolah. Ternyata yang mengetahui 84,6% dan yang tidak mengetahui adanya tayangan tersebut hanya 15,4%. Lompatan teknologi informatika di dunia pendidikan dan di masyarakat pasca pandemi ini menjadi dasar penting mempercepat transformasi modernisasi negara maju kepada negara Indonesia sehingga memperkecil jarak ketertinggalan.

Di sisi lain Pemberlakuan Pembelajaran Jarak Jauh juga ternyata mempercepat pelaksanaan Merdeka Belajar. Jika pembelajaran konvensional tatap guru tergantung memiliki efek tekanan psikologis siswa, pembelajaran jarak jauh efek takut berkurang karena siswa belajar sambil rileks rumah sendiri. Evaluasi seperti pengerjaan soal, penilaian ,dan ujian pun praktis juga berubah berbeda dengan metode konvensional. Ujian Sekolah Berstandar Nasional (USBN) 2020 diubah bentuk dan format penilaiannya. 1. Jika USBN sebelumnya banyak melakukan restriksi atau pembatasan maka merdeka belajar versi Kemendikbudristek era Nadiem Makarim memberikan keleluasaan bagi sekolah untuk menentukan kelulusan, tetapi 2. Konsep "Merdeka Belajar" 1. Tahun 2020, USBN diganti dengan ujian (asesmen) yang diselenggarakan hanya oleh sekolah. Ujian untuk menilai kompetensi siswa dapat dilakukan dalam bentuk tes tertulis dan/atau bentuk penilaian lain yang lebih komprehensif, seperti portofolio dan penugasan seperti tugas kelompok, karya tulis, dan lain sebagainya. 3. Guru dan sekolah lebih merdeka dalam menilai hasil belajar siswa. 4. Anggaran USBN berusaha dialihkan untuk mengembangkan kapasitas guru dan sekolah guna meningkatkan kualitas pembelajaran.

Dalam hal Ujian Nasional (UN) metode Merdeka Belajar juga terdapat perbedaan dengan metode sebelumnya: 1. Materi UN terlalu padat sehingga siswa dan guru cenderung menguji penguasaan konten, bukan kompetensi penalaran UN menjadi beban bagi siswa, guru, dan orangtua karena menjadi indikator keberhasilan siswa sebagai individu. 2. UN dalam konsep Mendikbud Nadiem berfungsi untuk pemetaan mutu sistem pendidikan nasional, bukan penilaian siswa. UN model lama dianggap Mendikbud Nadiem hanya menilai aspek kognitif dari hasil belajar, belum menyentuh karakter siswa secara menyeluruh.

Berbagai persoalan kebijakan Pendidikan klasik itulah yang kemudian dirubah dengan Konsep "Merdeka Belajar" sekarang ini dengan menjadikan Tahun 2020, UN kemarin dilaksanakan untuk terakhir kalinya. Selanjutnya di Tahun 2021 ini, UN akan diubah menjadi Asesmen Kompetensi Minimum dan Survei Karakter. UN mulai dilakukan pada siswa yang berada di tengah jenjang sekolah (misalnya kelas 4, 8, 11) sehingga mendorong guru dan sekolah untuk memperbaiki mutu pembelajaran. UN atau ujian nasional akan mengacu pada praktik baik pada level internasional, seperti PISA dan TIMSS. Programme for International Student Assessment (PISA) adalah penilaian siswa skala besar/internasional yang disponsori oleh Organisasi untuk Kerjasama Ekonomi dan Pembangunan (OECD). PISA bertujuan untuk mengevaluasi sistem pendidikan dari 72 negara di seluruh dunia.

Salah satu cara meningkatkan kualitas pendidikan agar menghasilkan generasi yang siap dalam pasar internasional adalah dengan mengubah kurikulum. Tujuannya adalah agar Indonesia mampu mengejar ketertinggalan yang salah satunya dibuktikan melalui asesmen PISA.

Sedangkan Trends in International Mathematics and Science Study (TIMSS) adalah studi internasional tentang kecenderungan atau arah atau perkembangan matematika dan sains. Studi ini diselenggarakan International Association for the Evaluation of Educational Achievement (IEA) yaitu sebuah asosiasi internasional untuk menilai prestasi dalam pendidikan. TIMSS bertujuan untuk mengetahui peningkatan pembelajaran matematika dan sains. TIMSS diselenggarakan setiap 4 tahun sekali. Salah satu kegiatan TIMSS

UN dan TIMSS mempunyai persamaan yaitu sama-sama menilai kemampuan kognitif pada level pengetahuan dan pemahaman, penerapan teori dan penalaran, serta konten atau lingkup materi yang diujikan disesuaikan dengan kurikulum yang berlaku di sekolah. Namun, UN dan PISA memiliki perbedaan, PISA menilai kemampuan kognitif mencakup komponen proses dan konten yang diuji mengacu pada penerapan matematika dalam kehidupan. PISA dan TIMSS menghadirkan soal yang membutuhkan penyelesaian tidak hanya mengingat, tapi lebih menganalisis dan memecahkan masalah. Hasil study PISA dan TIMSS menunjukkan peringkat Indonesia masih rendah dari negara lain. Oleh sebab itu, soal HOTS pada UN dari tahun ke tahun selalu meningkat.

Memang harus diakui posisi Indonesia dalam peringkat di dunia selalu masuk 10 negara terbawah apalagi di era Pemerintahan Jokowi kecenderunganya terus merosot. Dalam hasil PISA 2018 lalu, rata-rata kemampuan baca negara-negara OECD berada di angka 487, skor Indonesia sendiri berada di skor 371. Badan Penelitian dan Pengembangan Kemendikbud) menjelaskan bahwa hasil PISA Tahun 2018 bisa menjadi peringatan karena beberapa tahun terakhir keikutsertaan PISA, nilai kemampuan pendidikan Indonesia mengalami penurunan. Salah satu cara meningkatkan kualitas pendidikan agar menghasilkan generasi yang siap dalam pasar internasional adalah dengan mengubah kurikulum. Tujuannya adalah agar Indonesia mampu mengejar ketertinggalan yang salah satunya dibuktikan melalui asesmen PISA.

Menghadapi ketertinggalan itu, Mendikbudristek Nadiem sejak dari awal getol melontarkan jargon Merdeka Belajar. Diharapkan Mendikbud program Merdeka Belajar menjawab solusi mutu pendidikan dengan memperbanyak siswa-siswi yang memiliki kemampuan dan keterampilan, terutama yang berkaitan dengan kemampuan nalar peserta didik dalam bidang literasi dasar, yaitu membaca, matematika, dan sains. Tiga materi yang dianggap cukup mewakili kebutuhan pasar tenaga kerja global. Pendekatan baru pendidikan Menteri Nadiem dengan slogan Merdeka belajar memang akan diuji dalam beberapa tahun ke depan waktu yang tersisa pemerintahan ini apakah Merdeka belajar berhasil membawa dunia pendidikan lebih menghilangkan horor yang menghantui anak didik terutama menjelang Ujian Nasional di era Presiden SBY. Penerapan Ujian Nasional (UN) di masa lalu menimbulkan histeria massal pelajar di mana-mana sehingga banyak sekolah menggelar ritual khusus, hipnotis massal, dan sejenisnya. Bahkan berita pelajar bunuh diri karena UN mengalir dari mana-mana dari mulai Gorontalo, Klaten, Depok, dsb.

Merdeka Belajar menerbitkan harapan baru jika berhasil membawa kebebasan sekaligus peningkatan mutu pendidikan. Sebaliknya bisa menjadi bencana baru jika justru menciptakan horor varian baru yang menakutkan diikuti kemerosotan kualitas pendidikan ke depan. Tiga tahun depan atau jelang berakhirnya pemerintahan Jokowi periode kedua adalah saat yang tepat mengevaluasi secara komprehensif output dan outcome merdeka belajar versi Mendikbudristek Nadiem.

Ditulis oleh M Aminudin 

Peneliti senior Institute for Strategic and Development Studies (ISDS)/ Pengurus Pusat Alumni Unair/Staf Ahli Pusat Pengkajian MPRRI tahun 2005/ Staf Ahli DPRRI 2008/Tim Ahli DPD RI 2013.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini