Kisah Ki Ageng Gribig Leluhur Airlangga: Keturunan Raja Majapahit dan Pejuang Islam di Tanah Jawa

Antara, · Jum'at 24 September 2021 01:49 WIB
https: img.okezone.com content 2021 09 24 337 2476061 kisah-ki-ageng-gribig-leluhur-airlangga-keturunan-raja-majapahit-dan-pejuang-islam-di-tanah-jawa-HAQ1Ttvav9.jpeg Makam Ki Ageng Gribig. (Foto: Pesantrencenter.id)

JAKARTA - Ketua Umum DPP Partai Golkar Airlangga Hartarto mengatakan, seorang ulama besar Jawa yang juga leluhurnya bernama Ki Ageng Gribig tak kenal lelah dalam mensyiarkan agama Islam di Tanah Jawa. 

"Ki Ageng Gribig atau yang bernama asli Wasibagno Timur adalah ulama besar yang menyebarkan Islam di Desa Krajan, Jatinom, Klaten dan sekitarnya. Beliau juga dikenal masih keturunan dari Raja Majapahit, Brawijaya V," kata Airlangga saat acara Haul Ki Ageng Gribig, di Klaten, Jawa Tengah, Kamis (23/9/2021) malam.

Airlangga yang mengenakan baju koko lengan panjang itu tak kuasa menahan air mata saat menghadiri acara haul leluhurnya itu. Airlangga mengatakan, ketokohan dari seorang Ki Ageng Gribig itu harus menjadi contoh dari setiap umat muslim di Indonesia.

Cucu dari Prabu Brawijaya dari Kerajaan Majapahit itu merupakan seorang alim ulama yang terkenal dermawan dan tak pernah pelit untuk membagikan ilmu serta harta yang dimilikinya.

"Saat hidup dia adalah menjadi amir tanah perdikan di Jatinom. Dia adalah penasihat spiritual Raja Mataram Sultan Agung. Atas jasanya Kiai Ageng Gribig dianugerahi putri adik sinuhun bernama Raden Ayu Mas sebagai istrinya," ujarnya dalam siaran persnya. 

Baca juga: Viral Gambar Sertifikat Vaksin Diklaim Tertua di Dunia, Ini Faktanya

Selain itu, dia juga diberi kebebasan untuk memilih rumah yang akan ditempati bersama keluarganya. Namun, karena sikap rendah hatinya yang selalu tertanam di dalam dirinya, akhirnya Ki Ageng Gribig memutuskan untuk tetap tinggal di Klaten.

"Hanya saja Ki Ageng Gribig memilih tinggal di Klaten untuk mengerjakan kerja dakwah. Ki Ageng Gribig berhasil menjadikan Jatinom pusat penyebaran Islam di Jawa," kata Menteri Koordinator Bidang Perekonomian ini.

Menurut dia, Ki Ageng Gribig memiliki ciri khas dalam berdakwah dan hingga kini selalu dikenang oleh masyarakat di Klaten. Salah satu metodenya yaitu dengan membagikan kue dan sembari mengucapkan kalimat "Ya Qowiyyu" dan seterusnya, sebagai doa untuk meminta kekuatan kepada Allah.

Kemudian, kue itu dikenal dengan nama kue apem, saduran dari bahasa Arab, affan, yang memiliki makna dan filosofi sebagai permohonan ampunan kepada Allah.

Tradisi pembagian kue apem inilah yang kemudian secara rutin dilaksanakan Ki Ageng Gribig, dan kemudian dilanjutkan pula oleh para muridnya dan masyarakat Jatinom sampai sekarang. 

Dari penyebutan kata "Ya Qowiyyu" ini pula, tradisi Saparan di Jatinom juga disebut masyarakat dengan nama tradisi "Ya Qowiyyu".

Peringatan Haul pada momen Saparan ini pula, kemudian pada perkembangannya sekaligus dilaksanakan beberapa rangkaian kegiatan seperti kirab budaya, lomba panahan, dan peringatan haul Ki Ageng Gribig. 

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini