Kisah Ranggalawe Dituduh Berontak kepada Majapahit

Avirista Midaada, Okezone · Jum'at 24 September 2021 07:03 WIB
https: img.okezone.com content 2021 09 23 337 2476035 kisah-ranggalawe-dituduh-berontak-kepada-majapahit-zqs1dtfxvS.jpeg Illustrasi Ranggalawe (foto: istimewa/Kimranggalawe)

SUNGAI TAMBAK BERAS menjadi saksi pertempuran antara Ranggalawe dan Kerajaan Majapahit. Sungai yang berada di Kabupaten Jombang ini menjadi saksi kekalahan pasukan Kerajaan Majapahit yang dipimpin Nambi.

Pertempuran ini sendiri diawali dengan pemberian kedudukan oleh Dyah Wijaya dari Kerajaan Majapahit dengan Ranggalawe dari Tuban. Hal ini dikisahkan dalam buku "Hitam Putih Kekuasaan Raja - Raja Jawa Intrik, Konspirasi Perebutan Harta, Tahta, dan Wanita" tulisan Sri Wintala Achmad.

Baca juga:  Puncak Kejayaan Kerajaan Majapahit dan Peran Sentral Sungai Bengawan Solo

Kala itu konon Ranggalawe menilai Dyah Wijaya yang memimpin Kerajaan Majapahit pada 1309 - 1293 Masehi bersifat tidak adil dan tidak bijaksana. Pada pandangan Ranggalawe, seharusnya Lembu Sora yang memangku jabatan Patih bukan Nambi. Mengingat pengabdian Lembut Sora kepada Dyah Wijaya, lebih besar daripada Nambi.

Kendati telah disampaikan kritikannya kepada Dyah Wijaya, sang raja yang bergelar Kertarajasa Jayawardhana ini tetap keukeuh pada keputusannya. Ranggalawe pun pulang ke Tuban dengan perasaan kecewa.

Baca juga:  Kegagalan Gajah Mada Habisi Nyawa Raja Malaka

Selang beberapa waktu dari kepergian Ranggalawe dari Majapahit, dikisahkan pada Kakawin Negarakertagama Halayuda menghasut Patih Nambi dan Dyah Wijaya, kalau Ranggalawe tengah merencanakan pemberontakan. Mendengarkan pernyataan Halayuda, Dyah Wijaya memerintahkan Nambi, Lembu Sora, Mahisa Sabrang, serta pasukan Majapahit berangkat pergi menuju ke Tuban menangkap Ranggalawe.

Di sisi lain Arya Wiraraja mendengar Ranggalawe pulang ke Tuban dan segera menemuinya. Arya Wiraraja yang notabene ayah kandung Ranggalawe memiliki firasat buruk bakal menimpa putranya. Arya Wiraraja pun bertanya kepada Ranggalawe, mengenai apa yang terjadi kepada Dyah Wijaya.

Arya Wiraraja memberikan nasehat kepada Ranggalawe agar tetap setia pada Dyah Wijaya dan Majapahit. Tapi sarannya tak diterima oleh Ranggalawe, Arya Wiraraja pun memanggil para menteri, kepala desa, akuwu, dan demang untuk mempersiapkan pasukan yang akan digunakan menghadapi serangan Majapahit.

Pasukan Ranggalawe yang sudah terbentuk meninggalkan Tuban. Manakala pasukan Ranggalawe akan menyeberangi Sungai Tambak Beras Jombang, airnya sedang pasang. Hal ini membuat pasukan Ranggalawe dapat dikejar oleh pasukan Majapahit yang berada di bawah komando Nambi. Pasukan Ranggalawe berhasil dipukul mundur oleh pasukan Kerajaan Majapahit.

Hari berikutnya, pasukan Majapahit berencana menyeberangi Sungai Tambak Beras untuk mencapai Tuban. Melihat kenyataan itu, Mantri Gagarangan dan Tambak Baya melaporkan kepada Ranggalawe. Amarah Ranggalawe pun naik, Ranggalawe memerintahkan agar pasukannya menghadapi pasukan Majapahit.

Ranggalawe pun langsung turun di medan perang dengan mengendarai kuda Mega Lamat bertempur melawan Nambi yang mengendarai kuda Brahma Cikur. Pertempuran keduanya berlangsung dahsyat, hingga akhirnya kuda Brahma Cikur berhasil ditikam oleh Ranggalawe. Namun Nambi selamat lantaran berhasil mengelak dan berlari menyelamatkan diri ke selatan beserta pasukannya. Pasukan Ranggalawe pun mengejarnya hingga Sungai Tambak Beras.

Pasukan Majapahit pun kalah dan berhasil dipukul mundur Ranggalawe. Informasi kekalahan pasukan di bawah komando Nambi ini disampaikan oleh Bangsa Terik pada Raja Dyah Wijaya. Sang raja itu pun dibuat marah dengan ulah pasukan Majapahit.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini