Periode Natal dan Tahun Baru 2022 Berpotensi Terjadi Kenaikan Kasus Covid-19, Jika...

Binti Mufarida, Sindonews · Rabu 22 September 2021 00:00 WIB
https: img.okezone.com content 2021 09 21 337 2474903 periode-natal-dan-tahun-baru-2022-berpotensi-terjadi-kenaikan-kasus-covid-19-jika-0EAL3jGb8J.jpeg Jubir Satgas Covid-19, Wiku Adisasmito (Foto: Satgas Covid-19)

JAKARTA - Juru Bicara Satuan Tugas Penanganan Covid-19, Wiku Adisasmito mengingatkan potensi kenaikan kasus pada periode Natal dan Tahun Baru 2022. Meskipun, pola kenaikan kasus Indonesia yang relatif lebih lambat dibandingkan dengan kasus dunia.

Wiku mengatakan lonjakan pertama baik Indonesia maupun dunia sama-sama mengalaminya di Natal dan Tahun Baru yaitu di bulan Januari 2021. Namun dunia mengalami second wave lebih cepat daripada Indonesia yakni pada bulan April.

“Indonesia baru menyusul second wave pada bulan Juli, jelang tiga bulan dari second wave dunia,” katanya dalam Konferensi Pers secara virtual, Selasa (21/9/2021).

Kemudian, kata Wiku, Indonesia justru sedang mengalami kasus terendah mingguan. Dan pada saat Indonesia kasusnya meningkat justru dunia sedang mengalami kasus sebelum akhirnya meningkat dan mencapai third wave. “Tentunya kita harus terus mewaspadai kondisi dunia yang saat ini tengah mengalami third wave.”

“Pada second wave dimana terdapat jeda tiga bulan, mengingat dalam waktu tiga bulan kedepan kita akan kembali memasuki periode Natal dan Tahun Baru 2022. Yang artinya potensi kenaikan kasus semakin meningkat,” paparnya.

Tentunya, kata Wiku, dengan pembelajaran first dan second wave yang telah berhasil Indonesia lewati, harus semakin tangguh dalam menghadapi pandemi Covid-19 ini.

Wiku mengatakan perlu dipahami bahwa mobilitas penduduk dan mengabaikan protokol kesehatan menjadi penyumbang terjadinya lonjakan kasus apapun mutasi virus yang ada. “Tantangan yang besar yang kita hadapi sekarang ini adanya bagaimana mempertahankan kondisi ideal ini hingga Indonesia dan dunia terbebas dari pandemi dan memasuki endemi Covid-19.”

“Seperti yang telah kita alami bersama lonjakan kasus pada bulan Juli lalu telah memberikan banyak pelajaran salah satunya adalah penanganan Covid-19 saat terjadinya lonjakan kasus tentunya lebih mahal, lebih lama, dan lebih memakan korban,” katanya.

Untuk itu, Wiku menegaskan upaya terbaik yang diberikan adalah dengan melanggengkan penurunan kasus selama mungkin dengan tetap mematuhi protokol kesehatan. “Sedikitpun tidak lengah dan menyepelekan Covid-19 meskipun kasusnya telah turun drastis.”

“Ingat, lonjakan kasus terjadi ketika masyarakat mulai lengah dan menganggap kondisi sudah aman sehingga disitulah peluang virus Covid-19 menyebar kembali dan meningkat,” tegasnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini