Pandangan Calon Hakim Agung Subiharta Terkait Hukuman Mati

Muhammad Refi Sandi, MNC Media · Senin 20 September 2021 21:54 WIB
https: img.okezone.com content 2021 09 20 337 2474315 pandangan-calon-hakim-agung-subiharta-terkait-hukuman-mati-Bo3q1W8Cvg.jpg Calon Hakim Agung Subiharta (Foto : Tangkapan Layar Video)

JAKARTA - Calon Hakim Agung (CHA) dari kamar pidana tahun 2021, Subiharta menghadiri uji kelayakan dan kepatutan (fit and proper test) di ruang Komisi III DPR RI, Senin (20/9/2021). Ia ditanya mengenai hukuman pidana mati oleh beberapa perwakilan fraksi di Komisi III DPR.

Subiharto menjawab dengan tegas bahwa menyetujui pandangan dan bahasan yang dilakukan oleh pemerintah dengan DPR RI tentang pidana mati suatu exeption atau pengecualian.

"Saya sangat menyetujui pandangan dan juga bahasan yang sudah dilakukan oleh pemerintah dengan DPR tentang masalah pidana mati ini suatu exection suatu pengecualian dan di situ ada sistem hukum yang nanti akan berjalan bahwa hakim setelah menjatuhkan pidana mati masih punya kesempatan untuk mengoreksi lagi terhadap pidana mati," ucap Subiharta.

Menurut Subiharto majelis hakim yang sama maupun berbeda memiliki hak semacam koreksi dari suatu putusan.

"Jadi ada suatu semacam koreksi dari majelis hakim yang sama atau majelis hakim yang berbeda apakah memang terdakwa ini yang sudah di hukum mati ini ada satu perilaku yang lebih baik ada suatu penilaian semacam examinasi kalau memang dia baik bisa dilakukan pemeriksaan lagi dan mungkin dijatuhi pidana 10 tahun atau mungkin 20 tahun dan seterusnya," ungkapnya.

Lebih lanjut, Subiharta mengklaim pernah menjatuhkan pidana mati terhadap pidana narkotika. Menurutnya pidana mati tidak bisa dikenakan ke seluruh pelaku tindak pidana, sebab harus diliat kasusnya seperti apa terlebih dahulu.

"Sesungguhnya saya selaku hakim saya tegas bahwa pidana mati ini maaf aja saya sudah pernah menjatuhkan pidana mati untuk pidana narkotika," tuturnya.

"Jadi case by case atau kasus ke kasus tidak mungkin seluruhnya kita jatuhkan pidana mati. Terkait di Bandung ada 8 perkara ini saya bawa 7 perkara yang diputus hukuman mati untuk perkara narkotika itu yang 3 dikuatkan hukuman mati sedangkan yang 4 dirubah menjadi seumur hidup dan lainnya 15 tahun. Ditanya mengapa ada yang dikuatkan ada yang seumur hidup? Ini case by case ini pelakunya yang 3 orang itu memang dari luar negeri dari Iran dan memang pelaku dan aktor intelektual. Jadi ini resumenya saya bawa," tutupnya.

(aky)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini