Jenderal Soedirman, Panglima Besar TNI yang Kebapakan dan Dicintai Pasukan

Solichan Arif, Koran SI · Senin 20 September 2021 06:15 WIB
https: img.okezone.com content 2021 09 20 337 2473815 jenderal-soedirman-panglima-besar-tni-yang-kebapakan-dan-dicintai-pasukan-u1HCW7Ui4u.jpg Jenderal Soedirman (foto: istimewa)

PEMBERONTAKAN Syodanco Soeprijadi di Blitar Jawa Timur 14 Februari 1945, menggemparkan. Sebanyak 360 prajurit Pembela Tanah Air (PETA) tiba-tiba bergerak meninggalkan barak. Dengan emosi para tentara itu menyerang Hotel Sakura, tempat markas perwira Jepang di Blitar. Urat takut mereka seolah sudah putus.

Di bawah komando Soeprijadi, moncong bedil menyalak tak henti-henti. Markas Jepang dilempari mortir, ditembaki. Tidak terkecuali rumah-rumah perwira pengawas dan Kenpetai (Polisi militer Jepang). Juga diserang. Empat orang Jepang dan tujuh orang etnis China pro Jepang, dihabisi. Tentara Jepang dibuat kalang kabut.

Baca juga:  Kisah Jenderal Soedirman Jalani Perang Gerilya dengan Satu Paru-Paru

Pemberontakan PETA Blitar menyulut semangat tentara PETA di daerah lain. Termasuk PETA di Cilacap, Jawa Tengah. Pada saat itu Sudirman sedang beristirahat di rumahnya, Cilacap. Ia belum lama diangkat sebagai Daidancho (Komandan Batalyon) Kroya (Tegal). Kabar rencana pemberontakan PETA Cilacap didengar Sudirman yang kelak menjadi Panglima Besar TNI.

Mantan guru sekolah Muhammadiyah itu tidak tinggal diam. Di depan sejumlah pimpinan tentara PETA Cilacap, Sudirman berusaha mencegah. Sudirman tidak ingin kekalahan pemberontakan Blitar terulang. "Kita harus belajar dari sejarah. Kita harus bergerak pada waktu yang tepat," tutur Sudirman seperti ditulis Soekanto S.A dalam "Perjalanan Bersahaja Jendral Sudirman".

Baca juga:  Cerita Jenderal Soedirman: Tiga Hari dalam Seminggu Selalu Keliling Kampung

Daidancho Sudirman tidak berharap PETA Cilacap mengalami nasib tragis yang sama. Pemberontakan PETA di Blitar dalam waktu singkat berhasil dipadamkan. Semua tentara di batalyon, dilucuti. Sebanyak 55 perwira beserta anak buahnya, dikirim ke Jakarta. Di pengadilan militer Jepang, mereka diadili. Semua dinyatakan bersalah. Enam orang perwira dibawa ke wilayah Ancol, Jakarta.

Di sana, Jepang memancung kepala mereka satu-persatu. Tiga orang lain divonis seumur hidup dan sisanya dihukum penjara dengan waktu yang berbeda. Sementara nasib Syodanco Soeprijadi, tidak tahu rimbanya. Ada yang menyebut, ikut terbunuh. Versi lain mengatakan, pemimpin pemberontak tersebut masih hidup, bersembunyi, menghimpun kekuatan, dan akan kembali melawan bila waktunya tepat.

Kolonel Zulkifli Lubis yang kelak menjadi Kepala Badan Intelijen (BIN) pertama Republik Indonesia mengatakan, Soeprijadi sangat benci Jepang. Soeprijadi memiliki pribadi eksentrik, suka memendam pikiran, tapi memiliki jiwa kepemimpinan yang kuat. Sosoknya penyendiri serta gemar menyamakan diri dengan Pangeran Diponegoro. Ketidaksukaan Soeprijadi terhadap Jepang, kata Zulkifli sempat terucap saat keduanya sama-sama mengikuti pendidikan perwira PETA di Bogor, Jawa Barat.

"Ketika kami berada di Bogor, ia sering mengatakan, kita tidak dapat mempercayai Jepang," kata Zulkifli Lubis seperti ditulis David Jenkins dalam "Soeharto di Bawah Militerisme Jepang". Zulkifli dan Soeprijadi merupakan angkatan pertama yang mengikuti pendidikan perwira PETA di Bogor. Sedangkan Sudirman angkatan kedua. Pada pertengahan tahun 1944, Bogor telah berubah menjadi kota militer.

Bersama keduanya ada Daan Mogot dan Suharto yang di kemudian hari menjadi Presiden RI ke-2. Zulkifli dan Soeprijadi juga sempat mengikuti pelatihan Beppan di Tangerang. Yakni dinas intelijen khusus tentara ke-16 AD Jepang. Paska peristiwa Blitar, Jepang mengambil langkah bersih-bersih korps perwira PETA.

Bukan hanya di Blitar. Pembersihan juga berlangsung di tempat-tempat lain. Saat itu awal April 1945. Di depan Budanco (Pemimpin Regu) PETA Cilacap Kusaeri, kemudian Suwab, Wasirun, Hadi, Mardiyono, Sarjono, Udi, Tawan dan Sujud, Sudirman mengatakan, tidak ingin terjadi kegagalan yang kedua kali. Salah satu faktor kegagalan pemberontakan di Blitar, kata Sudirman adalah karena belum cukup kuat.

Baca juga:  Jenderal Soedirman Pernah Cedera saat Main Sepakbola, Khawatir Tidak Diterima Jadi Tentara

Bagi Sudirman, lebih baik methingil menjadi methongol, daripada tahu-tahu ngedhangkrang, tetapi ngglempang (Lebih baik kecil berkecambah, lalu tumbuh menjadi besar, daripada mencapai kedudukan tidak melalui jalan wajar tetapi akhirnya terguling). "Saya harap adik-adik tidak akan kehilangan tongkat dua kali," kata Sudirman seperti diriwayatkan Soekanto S.A dalam "Perjalanan Bersahaja Jendral Sudirman".

Upaya Sudirman mencegah pemberontakan PETA di Cilacap, gagal. Tiga bulan paska pemberontakan Blitar atau 21 April 1945. Dua ratusan prajurit PETA Cilacap yang dipimpin Budanco Kusaeri, menyerbu gudang senjata Jepang. Dengan senjata lengkap, pasukan bergerak menuju Gunung Srandil. Baku tembak tidak terelakkan. Agar tidak berlarut-larut, Jepang memerintahkan Daidancho Kroya Sudirman mendekati para pemberontak.

Langkah Jepang tepat. Seruan Sudirman untuk menghentikan baku tembak, terbukti lebih didengar. Namun Jepang ingkar janji. Pada 25 April 1945, Kusaeri ditangkap di Adipala. Setelah menjalani pemeriksaan marathon dua minggu di Cilacap, pada 10 Mei 1945, pimpinan pemberontak tersebut dibawa ke Jakarta. Kusaeri ternyata tetap dijatuhi hukuman mati. Begitu juga 18 rekannya termasuk Kiai Bujel. Divonis hukuman seumur hidup dan 15 tahun penjara.

Peristiwa pemberontakan PETA Cilacap bak api dalam sekam. Situasi yang panas tersebut sewaktu - waktu siap terbakar. Sejak insiden PETA Cilacap Jepang menjadi tahu. Pengaruh dan wibawa Daidancho Sudirman di kalangan prajurit PETA, begitu besar. Bagi kekuasaan Jepang, hal itu dianggap membahayakan. Pada 14 Agustus 1945, Jepang bertekuk lutut pada sekutu setelah Hiroshima dan Nagasaki luluh lantak.

17 Agustus 1945, atas nama bangsa Indonesia, Soekarno-Hatta memproklamasikan kemerdekaan Republik Indonesia. Di Karsidenan Banyumas, Sudirman mengumpulkan empat Daidan atau batalyon PETA di asrama Purwokerto. Selama tiga hari, Sudirman memberi wejangan seputar proklamasi serta perkembangan politik. Tekad, tali persaudaraan, serta tenaga, dipersatukan sekaligus siaga menghadapi segala kemungkinan.

Baca juga:  Kisah Jenderal Soedirman di Masa Kecil: Suka Mendengar Cerita Pahlawan

"Para bekas Cudancho Shodanco disebar ke tujuh puluh dua kecamatan dalam karsidenan Banyumas. Mereka ditugaskan membentuk dan menyusun kekuatan bekas tentara PETA, Heiho dan KNIL di tiap kecamatan, paling sedikit satu regu," tulis Soekanto S.A dalam "Perjalanan Bersahaja Jendral Sudirman". Di awal proklamasi kemerdekaan, pasukan bentukan Sudirman di Karsidenan Banyumas berhasil menyita amunisi Jepang dalam jumlah besar.

Sebanyak 5.000 pucuk senapan, 700 pucuk pistol, 500 pucuk sten atau pm, 150 pucuk senapan mesin ringan, 80 pucuk senapan mesin M23, 4 pucuk senapan mesin berat, 2 pucuk meriam lapangan, meriam gunung, dan meriam pantai. Kemudian juga 4 gudang peluru, 1 gudang zeni, 1 gudang alat-alat perhubungan, 13 unit kendaraan sedan, 60 unit truk, 4 bren-carrier, dan juga peralatan kecil, seperti teropong, pedang dan sepeda motor.

Semua rampasan perang tersebut langsung dilaporkan ke atasan. Seperti diriwayatkan Soekanto S.A. Saat itu Sudirman yang kemudian berpangkat kolonel sekaligus diangkat Komandan Divisi V mengatakan," kita dapat menyusun satu resimen pasukan tempur". Sementara seiring proklamasi kemerdekaan, reformasi di tubuh tentara terus dilakukan. Pada 22 Agustus 1945, Badan Keamanan Rakyat (BKR) didirikan.

Menyusul berdirinya Tentara Keamanan Rakyat sebagai pengganti BKR, pada 5 Oktober 1945, Pemerintahan Soekarno mengangkat Muhammad Suljoadikusumo Ad Interim Soeprijadi pemimpin tertinggi. Kemudian juga mengangkat Urip Sumohardjo sebagai Kepala Staf Umum. Peristiwa sejarah itu berlangsung pada 20 Oktober 1945

Urip yang bekas perwira KNIL menyandang pangkat Letnan Jendral. Wilayah Jawa dibaginya menjadi 10 divisi dan disusun menjadi 3 komandemen. Yakni Komandemen Jawa Barat di bawah pimpinan Mayjen Didi Kartasasmita. Jawa Tengah di bawah pimpinan Mayjen Suratman dan Jawa Timur di bawah komando Mayjen Muhammad.

Sementara Sudirman diangkat sebagai Panglima Divisi V dengan wilayah Karsidenan Banyumas dan Kedu. Sudirman yang berpangkat Kolonel memimpin langsung pertempuran di Magelang dan Ambarawa. Sekutu yang diboncengi Belanda yang masuk Indonesia melalui Semarang, berhasil diusir paksa.

Pada 12 Nopember 1945 TKR menggelar Konfrensi Besar di Yogyakarta. Konfrensi Besar bertujuan menata tubuh ketentaraan. Di saat itu Pemerintahan Soekarno hanya memiliki Kepala Staf Umum, tapi belum memiliki Kementrian Pertahanan dan Panglima Besar. Di Konferensi Besar yang dipimpin Kepala Staf Umum Letnan Jendral Urip Sumohardjo hadir hampir semua komandan resimen dan panglima divisi.

Termasuk Komandan Divisi V Kolonel Sudirman, juga hadir. Di Konferensi Besar yang tidak banyak diketahui orang. Kolonel Sudirman berusia 30 tahun terpilih sebagai Panglima Besar. Sudirman yang berlatar belakang tentara PETA, menang tipis atas Letnan Jendral Urip Sumohardjo yang berusia 52 tahun, dan bekas perwira KNIL. Pemilihan berlangsung terbuka dan bebas.

Banyak faktor yang menyokong kemenangan Sudirman. Diantaranya keberhasilan Sudirman menguasai penyerahan senjata Jepang di Karsidenan Banyumas dan menjadi satu-satunya yang terbesar di Jawa Tengah. Kemudian prestasi memimpin pengusiran tentara sekutu dan Belanda dalam pertempuran sengit di Semarang dan Magelang.

Di luar keunggulan memimpin pertempuran, Sudirman memiliki mutu pribadi yang luar biasa. "Ia adalah seorang yang mampu menggabungkan dalam dirinya sendiri keprihatinan yang tenang dengan kesalehan yang tulus serta mawas diri. Kelemahlembutan dan keramahannya membuat ia berhasil disenangi hampir setiap orang yang ditemuinya," tulis Ben Andersen dalam "Revoloesi Pemoeda, Pendudukan Jepang dan Perlawanan di Jawa 1944-1946".

Sebagai Panglima Besar langkah awal yang diambil Sudirman adalah mengkonsolidasikan kedudukannya. Luka-luka yang terjadi selama berlangsungnya konferensi, sekuat tenaga ia sembuhkan. Sudirman mengutamakan persatuan tentara sekaligus memberi pandangan peranannya dalam revolusi. Penilaiannya pada setiap perwira berdasarkan jasa dan kebaktian kepada tujuan kemerdekaan.

Urip yang mengundurkan diri setelah kalah dalam pemilihan, ia minta tetap melanjutkan jabatannya sebagai Kepala Staf. "Dalam jangka waktu yang singkat ia telah memperoleh suatu kedudukan yang benar-benar tidak dapat diingkari di kalangan tentara, dengan menarik kesetiaan dari bekas anak buah KNIL dan sekaligus anak buah PETA," kata Ben Anderson.

Pada 18 Desember 1945 atau hampir enam minggu setelah Konferensi Besar TKR di Yogyakarta. Kabinet Sutan Sjahrir baru mengumumkan pelantikan Sudirman sebagai Panglima Besar. Di Markas Besar Tentara di Gondokusuman, Yogyakarta. Presiden Soekarno resmi melantik Sudirman sebagai Panglima Besar TKR.

Di aula, Bung Karno didampingi Wakil Presiden Mohammad Hatta dan Perdana Menteri Sjahrir. Dalam pidatonya Panglima Besar, Sudirman berbicara tentang perjuangan suci. Juga berbicara tentang kewajiban tentara : mempertahankan kedaulatan negara dan menjaga keselamatannya.

"Tentara tidak boleh menjadi alat suatu golongan atau siapa pun juga. Tunduk kepada perintah pemimpinnya, inilah yang merupakan kekuatan suatu tentara," kata Sudirman seperti ditulis Soekanto S.A dalam "Perjalanan Bersahaja Jendral Sudirman". Dilantiknya Sudirman sebagai Panglima Besar menimbulkan reaksi pihak Belanda.

Sebuah surat kabar Belanda menaikkan berita dengan nada ejekan : Republik Indonesia mengangkat guru sekolah rendah menjadi Panglima Besar. Tahu apa guru sekolah itu!. Tidak populisnya Sudirman membuat koran Merdeka keliru memuat foto Sudirman Residen Surabaya. Tugas pertama Sudirman sebagai Panglima Besar adalah menyempurnakan organisasi TKR yang pada 26 Januari 1946 berubah nama Tentara Republik Indonesia (TRI).

Sudirman mengurangi jumlah divisi di Jawa dari 10 menjadi 7. Untuk menghilangkan sifat kedaerahan, brigade didirikan. Saat tentara Inggris bertahap meninggalkan Indonesia, Sudirman usul ke pemerintah untuk menyerang Belanda yang belum begitu kuat. Menggempur tiap-tiap kota yang diduduki (Belanda) secara serentak. Pada 5 Oktober 1948, atau ulang tahun yang ketiga TNI. Sudirman tiba-tiba jatuh sakit.

Hasil diagnosa medis, ia divonis mengidap tuberculose (TBC). Sudirman menjalani operasi phrenicatomie di RS Panti Rapih Yogyakarta. Paru-parunya sebelah kanan, diistirahatkan. Pada 19 Desember 1948, Belanda melanggar perjanjian gencatan senjata. Lapangan terbang Maguwo diserang. Ibu Kota RI di Yogyakarta juga diserang dan berhasil diduduki.

Belanda menawan Presiden Soekarno yang juga Panglima Tertinggi. Bersama pasukan yang sudah disiapkan Dengan satu paru-paru, Sudirman keluar dari ibukota dan memimpin perang gerilya. Mengetahui banyak pemimpin Indonesia yang tertangkap, Panglima Besar Sudirman mengeluarkan perintah kilat kepada pasukan TNI : Tidak boleh tunduk kepada siapapun. Tidak boleh melakukan perundingan dengan Belanda.

Di Gunung Kidul Yogyakarta. Karena kondisi kesehatannya yang buruk, untuk pertama kalinya Sudirman ditandu. Dari Gunung Kidul, gerilya dilakukan dengan melakukan long march menuju Wonogiri, Jawa Tengah. Saat Belanda menggempur Wonogiri melalui serangan udara, Panglima Besar Sudirman dan pengawalnya sudah tiba di Ponorogo, Jawa Timur.

Setelah beristirahat di rumah Kiai Mahfudz, Sudirman melanjutkan gerilya ke Trenggalek. Panglima Besar Sudirman memakai nama samaran Pak Dhe. Penampilannya ia ubah dengan mengenakan mantel hijau, peci yang sudah tua, serta bersandal model selop. Pada 24 Desember 1948. Dari Trenggalek, Sudirman dijemput utusan Kolonel Sungkono dan langsung dibawa ke Kediri.

Saat pasukan Belanda menyerang Kediri 25 Desember 1948, rombongan Sudirman sudah meninggalkan Desa Sukorame menuju Karangnangka, kaki Gunung Wilis. Kediri telah diduduki Belanda. Untuk mengecoh Belanda, berbagai upaya kamuflase dilakukan. Dalam gerilya di Kediri, Letnan Heru Kamping Keser yang berperawakan mirip Sudirman, diminta tidur di tempat Jendral Sudirman.

Letnan Heru yang mengenakan mantel hijau Sudirman, juga ditandu. Sementara Kapten Tjokropranolo menggendong Sudirman masuk ke hutan, meninggalkan Desa Karangnangka menuju Desa Goliman, lereng Wilis. Dari Goliman bergeser ke Desa Bajulan. Sudirman bersembunyi di rumah Pak Kedah, warga setempat. Saat hendak berbaring di atas dipan kayu, Sudirman melihat tulisan "Tawang gapura ning ngesti tunggal".

Tulisan itu terukir di atas pintu. "Jendral Sudirman tersenyum. Arti kata-kata itu : Tangan terbuka bagai langit mendengarkan permohonan kita," tulis Soekanto S.A dalam Perjalanan Bersahaja Jendral Sudirman. Selama bergerilya di wilayah Kediri dan Nganjuk, koordinasi dengan pasukan yang berpencar di daerah lain terus terjalin. Karena di Bajulan sudah tidak aman, rombongan Sudirman menuju ke Desa Salamjudeg.

Dari Salamjudeg bergerak ke Desa Ngliman. Pada 8 Januari 1949, rombongan melanjutkan long march ke Desa Seran. Karena medan berat, ditambah kondisi kesehatan yang buruk, Kapten Tjokropranolo beberapa kali memapah dan menggendong Sudirman. Pada 11 Januari 1949, rombongan tiba di Desa Banyutawa, Ponorogo.

Di rumah Pak Ngali, warga setempat, Sudirman bertemu Menteri Supeno dan Menteri Susanto. Perundingan terbatas langsung dilakukan. Lima hari di Banyutawa, Sudirman kembali masuk ke hutan karena Belanda terus melakukan patroli di Ponorogo. Karena dikira Sudirman, Bupati Ponorogo yang ditandu saat mengungsi, sempat ditangkap Belanda.

Dari Ponorogo, Sudirman yang hanya dikawal 10 orang menuju Trenggalek yang saat itu masih dikuasai republik. Pada 4 Februari 1949. Dari Dongko dan Panggul, wilayah Trenggalek, Sudirman menuju Desa Nogosari, Kabupaten Pacitan. Beberapa orang dikirim ke Yogyakarta. Selain untuk menghadap Sri Sultan Hamengkubuwono IX, mereka juga mencari obat-obatan.

Kecuali Dr Suwondo dan Kapten Tjokropranolo yang berhasil lolos, semuanya tertangkap Belanda. Sejak saat itu nama samaran Sudirman diubah. "Mulai hari itu nama Pak Dirman yang selalu disebut Pak Dhe diganti menjadi Abdullah Lelanaputra," kata Soekanto S.A. Di Dukuh Sobo, Desa Pakis, Kecamatan Nawangan, Pacitan, Sudirman bermarkas.

Sejak 18 Februari 1949. Di wilayah pegunungan dan banyak dikelilingi jurang tersebut, Sudirman bertahan selama sebulan. Didahului datangnya satu kompi tentara utusan Kolonel Gatot Subroto. Pada 17 Maret 1949, Sudirman meninggalkan Pacitan, menuju Surakarta. Sudirman mengenakan destar wulung, ungu, dab dilapis mantel hijau. Di dadanya terselip keris pusaka.

Saat itu Divisi I-IV di Jawa berhasil berkonsolidasi dan pemerintahan militer berjalan teratur. Sehingga TNI bisa mengambil inisiatif serangan ke kota, pos-pos Belanda serta memperhebat penghadangan di seluruh Jawa. Bagi Sudirman, jalan perundingan yang mengikat yang sejatinya merugikan republik Indonesia.

Di saat Indonesia taat pada perundingan gencatan senjata, Belanda justru melancarkan serangannya. Sebuah nota rahasia disampaikan kepada pemimpin golongan-golongan dalam masyarakat untuk menggalang persatuan agar perang semesta atau perang total dapat diwujudkan.

Bagi Sudirman, kalau ingin menang dalam perjuangan suci harus kuat. Untuk kuat segala perselisihan harus diberantas, dan semua golongan dari macam ideologi harus bersatu dalam sikap dan tindakan. Saat itu 7 Mei 1949. Di bawah pengawasan PBB, persiapan Konferensi Meja Bundar di Den Haag, Belanda, dilangsungkan.

Pada 6 Juli 1949, Komisi PBB yang terbang ke Bangka, membawa kembali Presiden Soekarno dan Wakil Presiden Mohammad Hatta ke Ibukota Yogyakarta. Sementara Sudirman masih di medan tempur gerilya. Pengalaman Belanda yang selalu ingkar janji, membuat Sudirman tidak sepakat dengan gencatan senjata.

Sepucuk surat yang menyentuh hati dari Kolonel Gatot Subroto, memohon Panglima Besar Sudirman untuk kembali ke ibukota Yogyakarta. Sudirman berada dalam situasi dilema. Satu sisi harus taat kepada Presiden Soekarno selaku panglima tertinggi. Di sisi lain ia berat hati meninggalkan pasukannya yang bertahan di medan gerilya.

Dengan ditandu Sudirman akhirnya memutuskan kembali ke Ibukota Yogyakarta. Tiba di Wonosari, perbatasan Yogyakarta-Surakarta, ia minta diturunkan dari tandu. "Terguguk-guguk Panglima Besar Sudirman menangis. Berat sekali hatinya harus meninggalkan anak buahnya yang masih terus berjuang di medan gerilya," tulis Soekanto. S.A.

Tidak berselang lama dari perayaan ulang tahun TNI yang ke-4, Panglima Besar Sudirman kembali jatuh sakit. Pak Dirman memilih dirawat di rumah peristirahatan tentara di Taman Badakan, Magelang. Pada hari-hari perawatan, Sudirman lebih banyak berbicara dengan istrinya. Dalam renungan hidupnya Pak Dirman mengatakan merasa bahagia.

Bahagia karena sepanjang hidupnya Tuhan senantiasa memberi jalan sederhana, dekat dengan alam, dengan anak-anak, dengan rakyat yang sederhana. Pada 29 Januari 1950. Panglima Besar yang lahir 24 Januari 1916 di Purbalingga Jawa Tengah tersebut, tutup usia. Namun sumpahnya," lebih baik hancur bersama-sama debunya kemerdekaan, daripada hidup subur dalam alam penjajahan, akan terus dikenang".

1
7

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini