MUI: Dai Berperan Besar Bantu Pemerintah Tangani Pandemi Covid-19

Widya Michella, MNC Media · Minggu 19 September 2021 23:53 WIB
https: img.okezone.com content 2021 09 19 337 2473766 mui-dai-berperan-besar-bantu-pemerintah-tangani-pandemi-covid-19-ohi18j3y1B.jpg Foto: Istimewa

JAKARTA - Para dai di Indonesia memiliki peran besar mempengaruhi opini dan persepsi masyarakat. Pemuka agama dianggap sebagai opinion leader di era digital saat ini. Banyak da’i kini memanfaatkan platform media sosial seperti Youtube dan Tik-Tok untuk berdakwah.

Pendakwah milenial Habib Husein Ja’far Al Hadar menyampaikan platform digital yang tengah digandrungi anak muda cocok digunakan untuk berdakwah. Misalnya, kata dia, seperti YouTube digunakan sebagai platform yang paling sering 'ditrongkrongi' dan dijadikan sumber pencarian informasi, khusunya kalangan muda itu sendiri.

Menurutnya, berdasarkan data dari Alvara Research pada tahun 2019, YouTube menduduki posisi nomor empat sebagai sumber yang paling dijadikan ‘mufti’ oleh umat Islam di Indonesia. Yang berjejer dengan urutan posisi sumber lainnya yaitu ulama kampung, orangtua, dan guru agama.

"Tapi, tiba-tiba nongol yang namanya YouTube. Mempercayakan hukum, mempercayakan mufti kepada YouTube itu sangat tinggi, yaitu 24 persen. Artinya, seperempat dari pengguan media sosial kita mencari hukum sesuatu dari YouTube,” jelasnya demikian dikutip pada laman resmi NU, Minggu,(19/09/2021).

Ia mengatakan, penting untuk digitalisasi dakwah mengingat pengaruhnya yang sangat besar terhadap masyarakat Indonesia. Hal ini perlu dipertimbangkan, terlebih jika sasaran penyebaran dakwah yang diinginkan adalah kalangan muda.

Baca juga: Menko PMK: Orang yang Lapar Isi Dakwahnya Penuh Kemarahan!

"Makanya sekarang mufti dan ulama. Itu kalau dulu ada ulama ‘kutubi’ dan ‘khitobi’ saja, yaitu ulama yang berdakwah dengan khutbah dan tulisan. Sekarang itu ada ulama dan mufti ‘Yutubi’ (YouTube-i). Jadi, ada ulama dan mufti yang memberikan hukumnya atau berkarya dan berdakwah dengan YouTube," tuturnya.

Ketua Komisi Dakwah MUI, KH Ahmad Zubaidi menambahkan, media sosial harus dimanfaatkan oleh dai untuk memperluas cakupan dakwah. Bahkan menurutnya media sosial bisa menambah potensi rezeki bagi para dai.

“Media sosial bisa menjadi sumber kemandirian ekonomi bagi para dai. Karena banyak di antara para dai itu tidak memiliki pekerjaan tetap atau memiliki usaha tetap. Kalau fokus berdakwah di media sosial, bisa menjadi cara penguatan ekonomi bagi para dai,” ujarnya, terpisah.

Baca juga: Baru Hijrah Sudah Berdakwah, Bagaimana Pandangan Ulama?

Salah satu platform yang digemari oleh masyarakat khususnya kalangan milenial adalah Tik-Tok. Platform ini tidak hanya sekadar digunakan untuk menampilkan kontek ceramah semata, tetapi juga ada ruang tanya jawab dengan masyarakat, sehingga efektif untuk digunakan sebagai media dakwah.

“Awalnya aplikasi ini hanyalah berisi konten-konten music, joget-joget. Kini banyak sekali konten yang memberikan informasi misalnya kesehatan, entrepreneur. Para pebisnis memberikan tips-tips bisnis, lalu viral. Nah konten dakwah juga bisa dengan mudah viral di Tik-Tok sehingga bisa cepat tersampaikan ke seluruh masyarakat,” terang Ustadz Syamsuddin Nur.

Menurut Staf Ahli Menteri Komunikasi dan Informatika, Henri Subiakto, media sosial menjadikan dai sebagai influencer yang paling berpengaruh bagi seluruh lapisan masyarakat.

“Kyai-Kyai selama ini menjadi influencer, minimal di tingkat lokal, di masjid, di pesantren. Nah kini berkembang di konten-konten media sosial, di berbagai forum-forum yang bisa diakses oleh seluruh masyarakat,” ujar Henri.

Baca juga: Kemenag Harapkan Catatan Sejarah Bangsa Indonesia Bisa Dimasukan dalam Materi Dakwah

Henri mengambil contoh dampak besar dari pengaruh dai yaitu dalam sosialisasi vaksin Covid-19. Sedari awal, program vaksinasi banyak mendapat penolakan di kalangan masyarakat, terutama masyarakat dari kelompok tradisional.

Saat itu, lanjutnya, bahkan masih banyak masyarakat tidak percaya adanya keberadaan Covid-19. Gelombang penolakan masyarakat perlahan surut, salah satunya berkat peran dai yang terus mengajak masyarakat untuk vaksin agar tercapai herd immunity, sehingga kini perlahan keadaan Indonesia semakin baik menghadapi pandemi.

Baca juga: Gus Azmi dan Ahkam: Anak Muda yang Baik Ciptakan Lingkungan yang Baik Pula

“John Hopkins University di Amerika merilis, Indonesia sekarang petanya sudah warna biru karena sudah mengalami penurunan yang luar biasa setelah sebelumnya penularan di Indonesia sangat tinggi, bahkan pernah kita menjadi nomor satu di dunia dari sisi penularan dan juga dari korban-korban yang jatuh,” terang Henri.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini