Ketika Prajurit Kopassus Dijuluki Bapak Maleo di Papua

Mohammad Adrianto S, Okezone · Sabtu 18 September 2021 07:25 WIB
https: img.okezone.com content 2021 09 17 337 2473156 ketika-prajurit-kopassus-dijuluki-bapak-maleo-di-papua-EUip1Yavt8.jpg Ilustrasi (Foto: Okezone)

JAKARTA - Komando Pasukan Khusus (Kopassus) merupakan pasukan elite TNI AD yang siap bertugas di mana saja. Berbagai pengalaman di luar medan perang pun pernah dialami oleh prajurit dengan baret merah itu.

Menyadur dari buku Kopassus Untuk Indonesia karangan Iwan Santosa E.A. Natanegara, menceritakan pengalaman salah seorang prajurit Kopassus Letda Gondolpus Borlak, ketika bertugas ke Papua dan menjadi sahabat warga di Tanah Cendrawasih.

Hampir semua anggota Kopassus pernah mengunjungi Papua memiliki tujuan yang jelas, yakni untuk menjaga kedaulatan NKRI dengan angkat senjata maupun merebut hati warganya.

Dikisahkan, saat itu warga Papua masih banyak tertinggal pembangunannya. Banyak dari mereka yang masih hidup secara tradisional, bahkan ada yang tinggal di hutan sehingga tidak mengetahui keberadaan NKRI.

Baca juga: Kisah Kapten Encun, Pelatih Kopassus yang Galak Dulunya Tukang Masak

Alhasil prajurit Kopassus harus memperkenal NKRI terlebih dahulu sebelum menanamkan jiwa nasionalisme kepada warga Papua.

Strategi Kopassus pun saat itu harus bisa berbaur dengan masyarakat dengan menggunakan pendekatan adat. Tapi, strategis tersebut bukan hal yang mudah karena kelompok separatis selalu mengintai mereka.

Baca juga: Kisah "Ndeso" Kopassus saat Dikirim Bertugas ke Negara Asing

Prajurit Kopassus memahami bahwa kunci utama merebut hati warga dengan cara komunikasi yang baik, menyetarakan pandangan, serta menghargai dan menyayangi layaknya manusia.

Letda Gondolpus Borlak merupakan salah satu prajurit yang ditugaskan di pos Timika, Papua, pada 1996 dengan tujuan meraih simpati rakyat Papua dan membangun jaringan informasi di tiap kecamatan.

Selama bertugas di Papua, menurut Borlak, kehidupan masyarakat Papua masih banyak tertinggal. "Orang pedalaman itu ada yang belum pernah sampai ke Merauke. Ada juga yang belum pernah melihat mobil secara fisik itu seperti apa. Bukan itu saja, sampai sekarang pun seperti itu," ujar Borlak.

Borlak dan rekannya Kolonel Pomiman Basuki berusaha keras mengembalikan citra NKRI kepada warga Papua dengan cara baik-baik.

Baca juga: Kisah Tentara Tidur di Rumah Rakyat Bikin Ciut Penjarah

"Yang penting kita bisa menciptakan suasana hidup yang baik di tengah-tengah masyarakat, sehingga masyarakat mengakui Indonesia itu adalah negaranya," kata Borlak.

Borlak tidak segan berbaur dan mengikuti adat warga lokal. Dia acap kali menggendong babi, sehingga dengan mudah menerima Borlak karena dianggap memahami budaya warga Papua.

Baca juga: Tri Budi Utomo, Jenderal Kopassus Pengaman Presiden Resmi Sandang Bintang Dua

Hal itu didukung dengan latar belakang Borlak sebagai mantan guru agama Kristen Katolik, sebab masyarakat Timika mayoritas beragama Kristen Katolik.

Namun, bukan berarti hanya orang-orang beragama Kristen saja yang bisa diterima warga Papua. Borlak juga mempunyai kisah seorang prajurit Kopassus beragama Islam yang sukses berbaur dengan lokal di sana.

"Namanya Serma Haji Sumpena. Dia beragama Islam, tetapi di kalangan orang Kristen dan petinggi kelompok separatis Kristen itu dia bisa membawa diri dengan baik, bahkan bisa bersalam-salaman. Sehingga ketika pada suatu kesempatan terjadi penyanderaan, kami bisa bernegosiasi dan sandera pun bisa dikembalikan tanpa tebusan uang," kenangnya.

Banyak prajurit Kopassus yang pernah bertugas di Papua juga menjadi guru di sela-sela tugasnya. Bahkan, mantri yang berprofesi sebagai tenaga kesehatan harus siap menjadi apa saja kala masyarakat membutuhkan.

Interaksi antara prajurit Kopassus dan warga Papua membuat julukan unik untuk pasukan elit matra darat tersebut dengan sebutan Bapak Maleo.

Baca juga: Kopassus dalam Penyamaran, Diuji Kesetiaan oleh Musuh dan Ditembaki Teman Sendiri

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini