Jawa Timur Jadi Provinsi Pertama Terapkan PPKM Level 1

Lukman Hakim, Koran SI · Jum'at 17 September 2021 22:22 WIB
https: img.okezone.com content 2021 09 17 337 2473145 jawa-timur-jadi-provinsi-pertama-terapkan-ppkm-level-1-vdgXd6Ou9T.jpg Ilustrasi (Dokumentasi Okezone)

SURABAYA - Berdasarkan Assesment Situasi Covid-19 tingkat Provinsi dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes), Jawa Timur (Jatim) menjadi satu-satunya provinsi di Jawa yang masuk pada Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) level 1.

“Ini capaian yang luar biasa. Namun demikian kami pun tidak berpuas diri. Kami menyadari sepenuhnya bahwa pandemi Covid-19 ini belum berakhir,” ujar Pangdam V Brawijaya Mayjen TNI Suharyanto di Gedung Negara Grahadi, Jumat (17/9/2021) malam.

Meski secara provinsi sudah menduduki level 1, lanjut dia, sebetulnya di tingkat kabupaten/kota masih banyak yang harus ditingkatkan. “Jadi baru 10 kabupaten/kota yang benar-benar level 1. Kemudian ada 26 kabupaten/kota menduduki level 2, dan masih ada 2 kabupaten yang menduduki level 3,” katanya.

Suharyanto menambahkan untuk yang masih level 3 akan ditingkatkan menjadi level 2. Kemudian yang level 2 bisa menjadi level 1. Lebih lanjut Suharyanto mengatakan yang menjadi fokus bersama selain penanganan Covid-19, juga vaksinasi. “Vaksinasi di Jatim relatif cukup tinggi, yakni sekitar 13 juta orang sudah divaksin dosis pertama,” imbuhnya.

Sementara itu, berdasarkan data dari Satgas Covid-19 Nasional per 15 September 2021, sebanyak 37 kabupaten/kota di Jatim berada zona kuning atau resiko rendah penyebarannya.

Saat ini daerah dengan zona kuning di Jatim sudah mencapai 97,37 persen. Sementara sesuai status zonasi peta risiko Covid-19, masih ada 1 daerah yaitu kota Blitar atau 2,63 persen berada pada zona orange (resiko sedang).

“Mohon semua menjaga disiplin prokes dan percepatan vaksinasi sehingga Jatim level 1 pertama di Indonesia,” kata Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa.

Ketua Rumpun Kuratif Satgas Covid-19 Jatim Joni Wahyuhadi mengatakan capaian level 1 ini berdasarkan Assesment Kementerian Kesehatan yang diadopsi dari World Health Organization (WHO). Ada 6 parameter, yakni kasus konfirmasi pasien Covid-19, tingkat keterisian tempat tidur atau bed occupancy ratio (BOR), angka kematian, kapasitas testing, tracing dan treatment.

“Kalau kita lihat dari BOR-nya keluarnya turun semuanya di bawah 60 persen. Kemudian untuk isolasi rumah sakit 18 persen dan untuk rumah sakit darurat hanya 13 persen,” jelasnya.

(kha)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini