Pseudo Kebebasan dan Munculnya Kaum Pencemooh

Opini, Okezone · Kamis 16 September 2021 20:45 WIB
https: img.okezone.com content 2021 09 16 337 2472578 pseudo-kebebasan-dan-munculnya-kaum-pencemooh-ykpEindxvL.jpg Ilustrasi (Foto: Ist)

BANYAK orang hari ini meyakini bahwa keriuhan di media sosial merupakan manifestasi kebebasan. Tidak sedikit yang mengimaninya sebagai era keterbukaan, kesetaraan dan kedaulatan. Sebuah epoch yang menjadikan manusia merasa memiliki kedaulatan yang absolute. Halaman Facebook, instagram dan media sosial lain dianggap sebagai “miliknya” yang berdaulat dan otonom. Begitu pula dengan kolom komentar, bebas mengisinya dengan kalimat cercaan hingga cemoohan. Mereka meng-klaim semua itu sebagai bentuk kebebasan yang sejatinya begitu ilusif.

Kebebasan yang menegasikan nilai etik dan perasaan orang lain, bagi saya adalah kebebasan semu yang tertolak oleh ajaran keyakinan manapun. Pseudo kebebasan atau kebebasan semu yang dianut oleh sebagian kita inilah yang harus menjadi keprihatinan bersama sebagai bangsa. Bangsa yang lahir dari akar budaya timur di mana penghormatan atas orang lain dijunjung tinggi, welas asih menjadi ajaran baku dalam setiap laku kehidupan.

Baca Juga: Penghinanya Disebut Gangguan Jiwa, Gus Miftah: Gila Kok Sadar Medsos

Atas nama pseudo kebebasan, sebagian lantas merasa paling benar, paling bersih dan paling suci. Hingga kemudian muncul sebuah tradisi baru dalam masyarakat digital yaitu gemar mencemooh atau dalam bahasa Al Qur’an diterjemahkan ‘mengolok-olok’. “Hai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain . . . “ (Al Hujarat: 11).

Parahnya lagi, kebebasan ilusif di media sosial ini membawa serta pernyataan-pernyataan yang menghina fisik obyek cemoohannya. Atau dalam bahasa latin sering kita kenal sebagai argumentum ad hominem, perdebatan beralih menjadi sangat sarkas hingga berhamburan hujatan dan caci maki. Dalam situasi yang seperti itu sungguh tidak lagi nampak adanya keadaban publik. Yang tersisa hanya obsesi untuk saling menjatuhan, saling cemooh, mengolok-ngolok dan menghina satu dengan yang lain.

Dalam masyarakat digital pencemooh tertasbih sebagai elit sosial baru. Mengolok-olok atau mencemooh telah menjadi semacam habitus (kebiasaan) yang terkultuskan dalam masyarakat kita. Menjadi praktik yang digemari. Kalo tidak mencemooh tidak akan didengar…tidak pula diakui. Paradigma seperti itu memicu banyak individu untuk mencari eksistensi dengan cara mencemooh dan mengolok-olok. Praktik saling mencemooh pada masyarakat digital kian subur ketika moment pemilihan umum. Antar pendukung saling mencemooh, dunia medsos kita seketika menjadi padang kurusetra.

Baca Juga: Menag Ingatkan Semua Penghina Simbol Agama Harus Diproses Hukum

Lantas apakah mencemooh dan mengolok-olok sama dengan mengkritik?

Tentu saja berbeda. Kritik itu mensiarkan konsep demi kebaikan. Sedangkan cemooh mensiarkan kebohongan dan kebencian. Itu berarti, mengkritik silakan tapi mencemooh jangan. Parahnya lagi kebohongan hasil siar cemoohan di media sosial sangat mungkin menciptakan fenomena baru di masyarakat yaitu hoax. Berita bohong bertebaran membuat masyarakat kita terutama masyarakat digital menjadi makin riuh dan gaduh. Bisa jadi mereka lupa bahwa bagi mereka yang hobi mencemooh hoax adalah senjata pamungkas untuk menjatuhkan kurban cemoohanya. Hoax bahkan menjadi semacam komoditi, namun bagi masyarakat lain hoax menjadi sumber informasi. Bisa bayangkan bukan, masyakarakat yang menjadikan hoax sebagai sumber infomasi. Ini dampak dari budaya mencemooh dan mengolok-olok pada masyarakat digital. 

Sementara di lain sisi, kebiasaan mencemooh ternyata memiliki banyak konsekuensi. Di antaranya adalah terdegradasinya akal sehat. Hardware otak di isi oleh kamus cemoohan. Akal yang didominasi kamus seperti itu, tidak pernah bertujuan memecahkan masalah, namun merusak. Nirsolusi, surplus caci maki. Konsekuensi paling esktrim, yaitu menjadikan masyarakat kita sebagai vulnerable society (masyarakat yang rentan). Rentan pada konflik, kekerasan dan persaingan yang tidak tentram. Yang dipertaruhkan tidak hanya generasi sekarang, namun juga warisan budaya bagi generasi mendatang.

Maka mari hindari saling mencemooh dimedia sosial. Perbanyak kalimat cinta dan sikap welas asih. Agar tercipta bonum commune, yaitu terentaskannya kita semua dari pandemi, lantas menjadi masyarakat bangsa yang kian kuat dan beradab.

(Penulis: Sunanto, S.Hi., M.H)

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini