Mengenal Smong, Senandung Penyelamat Warga Pulau Simeulue dari Tsunami

Tim Okezone, Okezone · Kamis 16 September 2021 17:44 WIB
https: img.okezone.com content 2021 09 16 337 2472500 mengenal-smong-senandung-penyelamat-warga-pulau-simeulue-dari-tsunami-Ds8hAs3cjQ.jpg Foto: Istimewa

JAKARTA - Bangsa Indonesia hidup berdampingan dengan bencana lantaran letak geografisnya berada di cincin api atau ring of fire.

Salah satu dari rawan gempa dan tsunami di antaranya Wilayah Pacitan, hingga Provinsi Aceh. Masyarakat perlu memahami konsep evakuasi mandiri agar selamat dari ancaman bencana tersebut.

"Sebagai upaya mitigasi, ada banyak upaya yang dapat dilakukan untuk mencegah korban saat terjadi tsunami. Masyarakat perlu memahami konsep evakuasi mandiri karena merupakan jaminan keselamatan yang sudah terbukti efektif," kata Koordinator Mitigasi Gempa bumi dan Tsunami BMKG Daryono dikutip dari Antara, Kamis (16/9/2021).

Hidup berdampingan dengan bencana menjadikan masyarakat memiliki kearifan lokal dalam menghadapi bencana.

Baca juga: Indonesia Diapit Cincin Api, Jusuf Kalla Ajak Masyarakat Siaga Bencana

Daryono mencontohkan seperti evakuasi mandiri lewat kearifan lokal Smong di Pulau Simeulue, Aceh. Senandung ini terbukti efektif mampu menyelamatkan masyarakat di pulau tersebut sejak ratusan tahun.

Karena saat terjadi gempa kuat, saat itu juga masyarakat pesisir harus segera menjauh dari pantai. Untuk mendukung efektivitas proses evakuasi, maka jalur evakuasi harus sudah disiapkan, rambu evakuasi sudah terpasang secara permanen.

"Adanya kelengkapan fasilitas ini membuat masyarakat yang melakukan evakuasi akan dengan segera mencapai titik kumpul di tempat evakuasi sementara di daerah yang aman," katanya.

Baca juga: Indonesia Diguncang 5 Kali Gempa Kurang dari 12 Jam

Mantan pengurus Ikatan Mahasiswa dan Pemuda Aceh (IMAPA) menerangkan smong merupakan kearifan lokal masyarakat Simeulue yang terbukti telah menyelamatkan mereka dari tsunami dan juga gempa-gempa besar pascatsunami.

Pada saat gempa dan tsunami Aceh pada 2004 lalu di seluruh wilayah Kabupaten Simeulue lebih dari 1.700 rumah hancur tersapu tsunami, akan tetapi jumlah korban jiwa yang meninggal adalah 6 jiwa.

Masyarakat dunia yang juga mengetahui lemahnya sistem peringatan dini tsunami di sepanjang pantai barat Sumatera takjub melihat keajaiban yang terjadi di Pulau Simeulue.

Istilah smong dikenal masyarakat Simeulue setelah tragedi tsunami pada hari Jumat, 4 Januari 1907 silam. Gempa disertai tsunami dahsyat yang terjadi di wilayah perairan Simeulue masih pada zaman penjajahan Hindia Belanda. Kejadian tsunami ini tercatat dalam buku Belanda S-GRAVENHAGE, MARTINUSNIJHOF, tahun 1916 yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.

Baca juga: Daftar Wilayah Jawa Timur yang Berpotensi Tsunami Setinggi 28 Meter

Ditinjau dari sisi linguistik, terbentuknya kata smong cukup dekat dengan bunyi yang mendengung saat ombak menyerang bergulung-gulung. Di masyarakat Simeulue, smong berarti ombak besar yang datang bergulung-gulung yang didahului oleh gempa yang sangat besar.

"Fenomena yang dikenal masyarakat dunia dengan istilah tsunami. Pemahaman tentang smöng ini tertanam kuat dalam memori masyarakat Simeulue dari anak-anak sampai orangtua," tulis dia dalam Opini Okezone yang terbit pada Jumat 20 April 2021 silam.

Baca juga: Selain Pacitan, Ini Daerah di Jatim Berpotensi Diterjang Tsunami Setinggi 29 Meter

Kuatnya penanaman smong dalam ingatan masyarakat Simeulue menunjukkan bahwa smong telah mengalami proses pengendapan yang lama sehingga lambat laun menjadi memori kolektif dalam bentuk sistem nilai masyarakat. Dalam sistem masyarakat Simeulue, penyampaian sebuah pesan sampai tertanam menjadi memori kolektif masyarakat hanya bisa dilakukan melalui media lisan.

Baca juga: Antisipasi Potensi Tsunami Dahsyat di Pacitan, Ketua DPD: Pemerintah Harus Siapkan Skenario Penyelamatan

Berikut bunyi senandung Smong sebagai peringatan dini tsunami yang telah turun temurun menjadi kearifan lokal warga Simeulu:

Enggel mon sao curito (dengarlah sebuah kisah)

Inang maso semonan (pada zaman dahulu kala)

Manoknop sao fano (tenggelam sebuah desa)

Uwi lah da sesewan (begitulah dituturkan)

Unen ne alek linon (Diawali oleh gempa)

Fesang bakat ne mali (disusul ombak raksasa)

Manoknop sao hampong (tenggelam seluruh negeri)

Tibo-tibo mawi (secara tiba-tiba)

Angalinon ne mali (Jika gempanya kuat)

uwek suruik sahuli (disusul air yang surut)

Maheya mihawali (segeralah cari tempat)

Fano me singa tenggi (dataran tinggi agar selamat)

Ede smong kahanne (Itulah smong namanya)

Turiang da nenekta (sejarah nenek moyang kita)

Miredem teher ere (Ingatlah ini semua)

Pesan da navi da (pesan dan nasihatnya)

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini