Pelaku Sate Sianida Mulai Disidang, Ini 5 Fakta Kasus Takjil Beracun Tewaskan Bocah

Lutfia Dwi Kurniasih, Okezone · Kamis 16 September 2021 18:02 WIB
https: img.okezone.com content 2021 09 16 337 2472279 pelaku-sate-sianida-mulai-disidang-ini-5-fakta-kasus-takjil-beracun-tewaskan-bocah-XqlUjhGIB7.jpg Nani Apriliani. (Foto: Istimewa)

YOGYAKARTA – Kasus sate sianida yang menewaskan bocah bernama Naba Faiz Prasetya (9), warga Salakan, Kalurahan Bangunharjo, Kapanewon Sewon, anak dari Bandiman seorang pengemudi ojek online (ojol) pada Minggu (25/4/2021), memasuki babak baru. 

Sidang perdana terhadap pelaku, Nani Apriliani digelar pada Kamis (16/9/2021) di Pengadilan Negeri (PN) Bantul dengan agenda sidang pembacaan surat dakwaan oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU).

Berikut ini fakta-fakta kasus yang menghebohkan publik ini:

1. Mulai Disidang

Sidang Nani Apriliani Nurjaman, digelar secara daring atau online. Nani akan menjalani sidang di Rutan Wanita Wonosari, sedangkan penasehat hukum, penuntut umum dan hakim akan menjalani sidang di PN Bantul. 

Penasehat Hukum Nani, R Ary Widodo, memastikan kondisi kliennya sehat dan siap menjalani sidang perdana.

2. Imbauan JPW

Sementara itu, Jogja Police Watch (JPW) ingin agar sidang tersebut bisa mereka pantau. Untuk itu, mereka mengirimkan surat permohonan kepada Ketua Komisi Yudisial (KY) dengan tembusan Ketua PN Bantul, Rabu. 

Isi surat tersebut perihal permohonan pemantauan persidangan kasus paket dengan tersangka/terdakwa Nani Aprilliani Nurjaman. 

Baca juga: Kasus Sate Sianida Akan Disidangkan, Komisi Yudisial Diminta Mengawasi

Perkara kasus tersebut tercatat di PN Bantul dengan Nomor Perkara 224/Pid B/2021/Pn. Btl tertanggal 9 September 2021.

3. KY Perlu Turun Tangan

Kadiv Humas JPW, Baharuddin Kamba mengatakan setidaknya ada tiga alasan urgensi mengapa KY Republik Indonesia perlu melakukan pemantauan terkait persidangan perkara sate beracun ini. 

“Pertama, kasus ini menjadi perhatian publik DIY karena mengakibatkan seorang anak dari pengemudi ojek online bernama Naba Faiz Prasetya meninggal dunia. Kita tahu dia korban salah sasaran karena diduga target sate beracun tersebut adalah seorang polisi bernama Tomi Astanto,” ungkap Kamba dalam pernyataan tertulis.

JPW juga memandang, perlunya KY turun langsung memantau agar tidak ada lagi hakim yang melakukan pelanggaran Kode Etik dan Pedoman Perilaku Hakim (KEPPH). Selain itu, KY juga harus memastikan peradilan semakin bersih dan baik.

“Terakhir, kami berpandangan bahwa independensi hakim dalam perkara ini harus tetap terjaga. Kasus ini perlu kemudian tuntas dengan baik,” ucap dia.

4. Kronologi Perkara

Kasus takjil beracun berisi sate sianida menimpa keluarga Bandiman seorang pengemudi ojek online pada Minggu 25 April 2021, selepas Ashar. Saat itu Bandiman baru selesai menunaikan sholat di Masjid Noor Islam, hingga kemudian seorang perempuan muda berusia antara 20-25 tahun menghampiri.

“Saat itu saya habis sholat Ashar istirahat di samping masjid, motor diparkir depan masjid. Ada cewek umur sekitar 20-25 tahun menghampiri dan tanya motor saya bukan. Dia bilang mau antar paket tapi jauh banget, minta tolong saya bisa atau tidak. Saya jawab bisa. Tapi dia bilang tidak punya aplikasi, dia bilang offline saja. Saya bilang ya saya mau membantu, ketika itu ongkosnya Rp 25 ribu dan dia memberi Rp 30 ribu, saya tidak punya kembalian lalu kata dia buat saya,” ucap Bandiman pada wartawan. 

Paket tersebut diketahui berisi sate lontong yang ditujukan untuk pria bernama Tomi yang tinggal di Vila Griya Asri Kasihan Bantul. Perempuan itu berpesan pada Bandiman bahwa paket berasal dari Pak Hamid. Bandiman kala itu tidak memiliki kecurigaan karena nama pengirim, alamat rumah dan nomor handphone yang dituju benar-benar ada. 

Ia bahkan sempat menelpon Tomi tersebut saat berada di depan kediaman nomor FF 01 itu. Namun, saat itu menurut Bandiman, rumah dalam kondisi sepi dan Tomi sedang berada di luar kota.

“Bapak itu sempat telpon ibunya (istri) juga karena posisinya di luar kota. Saya tanya paketnya bagaimana. Lha paket sudah jelas nomor rumahnya, telponnya jelas, namanya jelas. Saya tanya paket mau saya kemanakan. Lalu dia bilang, yasudah buat bapak saja buat buka puasa, ya saya bawa balik,” sambung dia. 

Usai azan Magrib berkumandang, Bandiman yang sudah tiba di rumah lantas berniat memakan sate lontong yang dibawanya. Sang anak yakni Naba Faiz baru tiba pula dari TPA dan membawa makan buka berupa gudeg. 

Saat dibuka, bungkusan sate itu memang terpisah antara bumbu, lontong dan tusuk sate ayamnya. Diakui Bandiman, sang putra baru memakan sedikit, setengah sendok saja sebelum akhirnya muntah-muntah dan tak sadarkan diri di dapur. 

“Saya makan dua tusuk saat itu. Adiknya makan baru setengah sendok katanya rasanya itu pahit, dia sempat minum lalu ke dapur sudah tidak sadar langsung ngglethak gitu. Ibunya makan dikit, tapi respon langsung muntah, nah anak saya minum dulu mungkin itu membuat menyebar. Di rumah sakit dokter bilang positif keracunan. Ibunya saat itu masih dirawat,” pungkasnya dengan berusaha tegar. 

5. Pelaku Ditangkap 

Polisi berhasil menangkap Nani awal Mei 2021. Terungkapnya kasus tersebut berkat pendalaman dari saksi-saksi dan alat pendukung lain seperti rekaman CCTV ketika memberikan order takjil kepada Bandiman.

Dalam mengungkap takjil maut itu, Polres Bantul juga bekerja sama dengan Polresta Yogyakarta, mengingat peristiwa itu terjadi di wilayah Kota Yogyakarta.

6. Hasil Laboratorium

Hasil uji laboratorium sampel bumbu sate ayam dan lontong diketahui mengandung racun jenis C yang diduga disantap korban. Sebagaimana diketahui, peristiwa yang menimpa siswa kelas 4 SD Muhammadiyah Karangkajen 4 terjadi Minggu lalu ketika menyantap sate beracun yang diberikan seorang perempuan tidak dikenal.

“Hasilnya positif, makanan yang disantap mengandung racun jenis C. Racunnya ditemukan dalam bumbu sate ayam yang di makan korban. Intinya pada bumbunya,” ucapnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini