TNI AL Temukan Bangkai Kapal Tenggelam 13 Tahun Lalu, Ini Penampakannya

Muhammad Refi Sandi, MNC Media · Kamis 16 September 2021 09:18 WIB
https: img.okezone.com content 2021 09 16 337 2472140 tni-al-temukan-bangkai-kapal-tenggelam-13-tahun-lalu-ini-penampakannya-Uwoxa6F6Tl.jpg Penemuan kerangka kapal. (Foto: Istimewa)

JAKARTA - Pusat Hidro-Oseanografi Angkatan Laut (Pushidrosal) baru saja mengumumkan penemuan titik bangkai atau kerangka kapal yang diperkirakan tenggelam 13 tahun lalu, di Selat Bangka. 

Komandan Pushidrosal, Laksamana Madya TNI Agung Prasetiawan menjelaskan, penemuan kerangka kapal berawal dari laporan dari United Kingdom Hydrographic Office (UKHO) Inggris tentang adanya dua kapal berbendera asing melintasi Selat Bangka mengalami gesekan dengan dasar laut atau touching bottom/grounding pada kedalaman kurang lebih 8,6 meter.  

"Dua kapal yaitu MV Hyundai Anterp berbendera Marshall Island (IMO 9469912) dengan panjang 192,88 meter, debar 27,87 meter draught 10,65 meter; pada posisi 02° 16.225 S - 105° 17.395 E dan MV Posidana berbendera Norway (IMO : 9371086) dengan panjang 212,5 meter, lebar 32,29 meter, draught 12,9 meter pada posisi 02° 16.239 S - 105° 17.476 E," jelas Agung kepada awak media di Dermaga JICT 2, Tanjung Priok, Jakarta Utara, Rabu (15/9/2021).  

Foto: TNI AL

Langkah awal atas laporan tersebut, Pushidrosal segera menindaklanjuti dengan melaksanakan penerbitan Berita Pelaut Indonesia Nomor 18 pada 30 April 2021, berisi tentang pemberitahuan adanya kedangkalan yang berpotensi membahayakan keselamatan pelayaran dengan kedangkalan baru yaitu 8.6 meter.

“Di mana semula data yang tercantum pada lokasi di perairan tersebut pada Peta Laut Indonesia adalah kedalaman 22 meter yaitu pada posisi 02° 16’13.5” S - 105° 17’ 23.7” E," sambungnya. 

Baca juga: Kapal Tongkang Kandas di Pantai Pangandaran

Kemudian, Agung menyebut jajarannya langsung bergerak untuk melakukan investigasi melalui survei Hidro-Oseanografi. Sesuai dengan tugas dan fungsi sebagai Lembaga Hidrografi Nasional, yang bertanggung jawab atas publikasi untuk keselamatan navigasi dan pelayaran, Pushidrosal secara serius menangani adanya pengaduan dari pengguna laut dengan segera mengirimkan unit survei tanggap segera untuk melaksanakan kegiatan investigasi survei hidro-oseanografi pada lokasi tersebut. Survei dilakukan terdiri dari KRI Pollux 935 pada tanggal 8 sampai dengan 12 September 2021 dan unit survei  pesisir sejak tanggal 24 Juli 2021 sampai dengan 21 September 2021. 

"Temuan Bahaya Navigasi-Kerangka Kapal. Dari kegiatan Investigasi tim unit survei pada lokasi tersebut, telah menemukan adanya kerangka kapal yang sampai dengan saat ini belum diketahui pemiliknya pada posisi  2° 16’ 14.75” S – 105 ° 17’ 26.10” E, dengan dimensi ukuran kapal panjang : ±132 m; lebar haluan: ± 32 m; lebar buritan: 15 meter; dan kedalaman terdangkal: 7,5 m, dimana kedalaman laut rata-rata di sekitar kerangka tersebut adalah 20 – 35 meter telah ditumbuhi terumbu karang," jelasnya.

Selanjutnya, Agung menambahkan investigasi pada lokasi diyakinkan kembali oleh KRI Pollux-935 dengan menurunkan Remotely Operated Vehicle (ROV) dan Side Scan Sonar (SSS). Dengan hasil memperoleh konfirmasi visual atas adanya kerangka kapal tenggelam pada lokasi tersebut. Penemuan kerangka tersebut, kemudian segera dipublikasikan oleh Pushidrosal melalui BPI minggu ke 34 nomor 449 tahun 2021, agar kapal yang melintas pada perairan tersebut menghindari lokasi temuan kerangka kapal.

Dari hasil investigasi dengan menggunakan peralatan ROV dan Side Scan Sonar, terkonfirmasi data yang diperoleh dengan Multibeam Echosounder sebelumnya. Proses yang dilakukan cukup panjang dan cukup keras, mengingat ketebalan karang yang menempel cukup padat dan tebal serta banyaknya jaring nelayan yang tersangkut di kerangka kapa.

“Hal itu menyulitkan pengoperasian ROV, melalui pengoperasian ROV oleh KRI Pollux-935 telah ditemukan bukti visual yaitu adanya tulisan PAGAR disisi buritan kapal tersebut sehingga dapat diindikasikan bahwa kapal tersebut adalah MV Pagaruyung 05 yang telah dibertakan tenggelam pada bulan September tahun 2003 lalu atau 13 tahun silam," tuturnya. 

Lebih lanjut, Danpushidrosal memberi rekomendasi keselamatan navigasi dan pelayaran, sehubungan dengan posisi lokasi kerangka kapal tersebut tepat berada pada recommended track yaitu track/lajur arah yang direkomendasikan kepada kapal – kapal ketika berlayar di perairan Selat Bangka. Sehingga keberadaan kerangka kapal tersebut sangat membahayakan bagi kapal-kapal yang berlayar melintasi perairan Selat Bangka. 

"Atas pertimbangan keselamatan navigasi dan pelayaran, kami merekomendasikan kepada pihak terkait agar kerangka kapal tersebut segera disingkirkan/dipindahkan dari lokasi alur pelayaran atau diberikan tanda dengan pelampung suar  “bahaya terpencil” atau “Isolated Danger Buoy” -  Black Red Black, dengan top mark 2 bola hitam sebagai tanda adanya bahaya yang tersembunyi/berada dibawahnya,” ujarnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini