Hubungan 2 Petinggi Kerajaan Mataram Islam 'Retak' Gegara Wanita

Avirista Midaada, Okezone · Rabu 15 September 2021 08:01 WIB
https: img.okezone.com content 2021 09 15 337 2471429 hubungan-2-petinggi-kerajaan-mataram-islam-retak-gegara-wanita-L3kKWfUcQ9.png Penembahan Senopati (foto: wikipedia)

KENDATI merupakan wilayah kekuasaan Kerajaan Mataram Islam, nyatanya Pati pernah membangkang. Pati yang kala itu dipimpin oleh Adipati Pragola yang bernama asli Wasis Jayakusuma, adalah saudara ipar dari Panembahan Senapati yang bertahta di Kerajaan Mataram Islam.

Dikisahkan dalam buku "Hitam Putih Kekuasaan Raja - Raja Jawa Intrik, Konspirasi Perebutan Harta, Tahta dan Wanita" karya Sri Wintala Achmad. Ketika menjabat sebagai adipati penguasa Pati. Pragola mengabdi dengan pada Mataram.

Baca juga:  Kisah Skandal Raja Amangkurat I, Gemar Rebut Wanita dan Membunuh

Konon keduanya memiliki hubungan yang sangat erat, tetapi hubungan itu menjadi retak sesudah Panembahan Senapati jatuh hati dan menikahi Retna Dumilah, putri Rangga Jumena dari Madiun. Hal ini membuat Retna Dumilah akhirnya diposisikan sebagai permaisuri usai bersedia menikahi Panembahan Senapati.

Hal ini membuat Adipati Pragola memastikan Wastikajawi bisa tergusur kedudukannya karena merasa kecewa. Akibat kekecewaan itu Adipati Pragola kemudian mencanangkan pemberontakan. Melalui seorang utusan bernama Patradita, Pragola menyampaikan permohonan pada Panembahan Senapati untuk meminta wilayah - wilayah di sebelah utara Gunung Kendeng.

Baca juga:  Kisah Eyang Bintulu Aji, sang Pamomong Wahyu Keraton Mataram

Permohonan Adipati Pragola pun dikabulkan oleh Panembahan Senapati. Hal ini membuat sejumlah wilayah di utara Gunung Kendeng, seperti Warung Blora, Grobogan, dan Jipang, menjadi kekuasaan Pati.

Belum puas dengan permohonan pertama, Adipati Pragola pun kembali mengutus Patradita untuk meminta tombak dan batangnya pada Panembahan Senapati. Alasannya karena wilayah bang wetan menyerbu Pati, tapi Panembahan Senapati menyadari itu merupakan penentangan secara halus dari Pragola. Ia pun akhirnya memberikan tombak tanpa batangnya kepada Patradita.

Selepas Patradita, Adipati Demak yang bernama Mas Sori menghadap ke Panembahan Senapati. Ia melaporkan sejumlah wilayah seperti Warung, Blora, Grobogan, dan Jipang, telah tunduk pada Pati. Di sisi lain, Adipati Pragola I yang kian mendapat angin telah menyatakan membangkang terhadap Mataram.

Melihat hal tersebut, Panembahan Senapati memerintahkan pasukan Mataram untuk menghadapi pasukan Pati. Sementara pasukan Pati sendiri dipimpin Adipati Pragola dan melibatkan para tamtama, seperti Mangunjaya, Arya Sindurraja, Rajamanggala, Sawunggaling, Tohpati, Binorong, dan Surengpati. Selanjutnya juga ada Pecatanda, Kanduruhan, dan Wilatikta bergerak menuju Mataram.

Mendengar Adipati Pragola beserta pasukannya datang ke Mataram, Mataram pun bersiap. Panembahan Senapati memutuskan Adipati Anom Mataram atau Raden Mas Jolang sebagai panglima perang.

Selanjutnya, pasukan Mataram di bawah komando Adipati Anom Mataram pun berangkat menghadapi pasukan Pati. Mereka membangun kemah dan kekuatan di Prambanan. Pertarungan pasukan Mataram dan Pati pun tak dapat dihindari.

Pertarungan sengit tersaji antara Adipati Anom Mataram dengan Adipati Pragola I. Namun karena kesaktiannya, Adipati Anom Mataram pun dipukul mundur dari Palagan oleh Adipati Pragola. Pasukan Adipati Anom Mataram sempat kalah dan dibuat kocar-kacir.

Namun Panembahan Senapati telah menyiapkan skenario kedua, ia yang turun langsung ke medan perang bersama Adipati Mondaraka akhirnya berhasil membuat pasukan Pati kalang kabut, dan banyak yang terluka serta tewas.

Sekalipun telah menang, Panembahan Senapati terus memburu Adipati Pragola dan pasukannya. Di Sungai Sampang, konon banyak prajurit Pati menjadi tumbal dan mayatnya mengapung di permukaan air.

Sementara, Adipati Pragola seperti hilang ditelan bumi. Sesudah berhasil menghancurkan pasukan musuh, Panembahan Senapati pulang ke Mataram dengan kemenangan.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini