Pembangunan Pusat Roket Tahap I Butuh Anggaran Rp1,170 Triliun

Kiswondari, Sindonews · Selasa 14 September 2021 16:06 WIB
https: img.okezone.com content 2021 09 14 337 2471209 pembangunan-pusat-roket-tahap-i-butuh-anggaran-rp1-170-triliun-yaA4jPTujT.jpeg Kepala BRIN Laksana Tri Handoko (Foto: Tangkapan layar)

JAKARTA – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) tengah membangun bandar antariksa atau pusat roket Indonesia. Pilihan lokasinya yakni di Pulau Morotai dan Pulau Biak.

Kedua daerah tersebut dipilih karena memenuhi berbagai persyaratan untuk dibangun bandar antariksa. Proyek ini membutuhkan anggaran sekitar Rp1,170 triliun untuk tahap I dalam kurun 5 tahun.

Hal ini disampaikan oleh Kepala BRIN, Laksana Tri Handoko dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Komisi VII DPR di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Selasa (14/9/2021).

“Berikutnya, perlu kami sampaikan kebutuhan pembiayaan untuk bandar antariksa, jadi secara umum kebutuhan anggaran sudah direncanakan sejak beberapa tahun yang lalu, untuk 5 tahun pertama sebagaimana yang tertulis, baik untuk persiapan, AMDAL, land clearing, penyediaan utilitas dan infrastruktur minimal untuk mendukung bandar antariksa,” papar Laksana.

Baca Juga: Indonesia Bangun Pusat Roket, Morotai dan Biak Jadi Pilihan Lokasi

Meskipun Laksana tidak menyebut jumlah detail anggaran, namun dalam bahan presentasinya, tertulis bahwa kebutuhan anggaran tahap I sebanyak Rp1,170 triliun, dengan rincian di 2020 Rp20 miliar untuk AMDAL, detil desain, FS (feasibility studies) Bandar Antariksa dan masterplan; 2021 Rp100 miliar untuk land clearing, jalan akses, pagar, launch pad, jaringan listrik dan air, dan pos keamanan; 2022 Rp200 miliar untuk pembangunan kantor; 2023 Rp800 miliar untuk pembangunan infrastruktur pendukung; dan 2024 Rp50 miliar untuk pengoperasian awal bandar antariksa.

Sementara alokasi anggaran baru Rp0,28 miliar untuk pembangunan gapura dan uji masalah sosial. Dan Rp5 miliar untuk detail desain, FS Bandar Antariksa dan Masterplan.

Baca Juga: Datangi PTSP Kanwil Bali, Menag Beri Respons Tidak Terduga

Kemudian, Laksana melanjutkan, pada saat ini proses yang telah dilakukan yakni, kajian pembuatan naskah urgensi, penentuan lokasi dan committed user. Committed user ini jadi poin penting ini yang akan menentukan sejauh mana bandar antariksa ini memiliki potensi bisnis dan potensi ekonomi yang memadai, sehingga bisa dioperasikan secara berkesinambungan secara jangka panjang.

“Kemudian, dilanjutkan feasibillity studies, pengoperasian, secara bersamaan dilakukan pembangunan setelah diperoleh amdal dan dibuat masterplannya. Semua proses tersebut sedang kami lakukan, kami carry over dari LAPAN untuk dieksekusi di BRIN,” ujar Laksana.

Menurut Laksana, kajian awal proses saat ini penentuan lokasi khususnya di daerah Biak, telah dilakukan survei lokasi, dan di situlah diperoleh beberapa lokasi alternatif di daerah yang menjadi bahan pertimbangan tim teknis sejak saat itu. “Naskah urgensi sudah diselesaikan pada 2019,” tandas Laksana.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini