Kisah Perjuangan Dengungkan Proklamasi Kemerdekaan di Jawa Tengah

Mohammad Adrianto S, Okezone · Selasa 14 September 2021 07:25 WIB
https: img.okezone.com content 2021 09 13 337 2470746 kisah-perjuangan-dengungkan-proklamasi-kemerdekaan-di-jawa-tengah-6Q7nYzND33.jpg Ilustrasi (Foto: Kopassus.mil.id)

JAKARTA – Dalam memproklamasikan kemerdekaan RI butuh perjuangan. Begitu juga dalam mendengungkannya di berbagai daerah.

Menyadur buku Masalah Internal TNI-AD 1945-2000, berbagai elemen pertahanan harus kembali berjibaku dengan tentara Jepang agar proklamasi bisa terdengar di Jawa Tengah.

Badan Keamanan Rakyat (BKR), Tentara Keamanan Rakyat (TKR), Tentara Republik Indonesia (TRI) merupakan cikal bakal terbentuknya TNI. Dibentuknya TNI sendiri bentuk kekhawatiran Presiden Soekarno atas kemarahan sekutu dan keinginannya mempertahankan Indonesia.

Baca Juga: Tangkap KKB Tanpa Korban Jiwa, 10 Prajurit Kodam Cendrawasih Naik Pangkat

Namun, itu semua merupakan awal dari kurangnya integrasi internal dan menyebabkan konflik di tubuh TNI. Ini menyebabkan keterlambatan dalam pembentukan tentara dan membuat banyak lembaga pertahanan baru di seluruh penjuru Indonesia.

Soekarno meminta prajurit yang pernah bergabung ke dalam PETA, Heiho, Keibodan, maupun prajurit yang pernah berlatih di masa pendudukan Belanda untuk membantu BKR. Pengendalian BKR sendiri tidak dilakukan secara terpusat, melainkan daerah per daerah.

Keterlambatan Indonesia dalam mengendalikan rakyat Indonesia, membuat NICA bergerak dan menyertakan orang-orang Indo dan keturunan Ambon ke dalam pasukan militer Indonesia pada 19 September 1945.

Terdapat beberapa oknum tidak menyukai persekutuan dengan NICA. Meletuslah konflik antara kelompok pemuda Menteng yang banyak berasal dari Ambon keturunan Indo dengan barisan pelopor.

Untuk mempersiapkan proklamasi di daerah Jawa Tengah, dibentuklah Angkatan Muda Republik Indonesia (AMRI) yang berhasil merebut persenjataan tentara Jepang. Tidak hanya itu, mereka juga berhasil menyerang patrol Jepang dan membunuh 150 orang Jepang di penjara Bulu. 

Pasca peristiwa tersebut, Jepang kedatangan sekutu yang mendarat di Semarang pada Oktober 1945. Kejadian ini membangkitkan kepercayaan diri tentara Jepang.

Baca Juga: Viral TNI AD-US Army Sholat Berjamaah saat Latihan Perang di Hutan

Pasukan sekutu bertujuan untuk membebaskan tawanan perang Belanda, membentuk Release Allied Prisoner of War in Indonesia (RAWPI). Keberadaan RAWPI diketahui oleh NICA sehingga banyak dari mereka menyusup masuk ke dalam.

Tetapi, ini diketahui oleh pemuda. Insiden ini dimanfaatkan Jepang untuk membalas pembunuhan 150 orang Jepang. Tanpa ampun, mereka menyerang desa-desa di Semarang yang saat itu kekurangan senjata dan tidak bisa membela diri. Pertempuran BKR dan pemuda melawan Jepang bersama sekutu, bermuara ke peristiwa Ambarawa pada 19 Desember 1945.

(Ari)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini