Menkes Ungkap Skenario Ubah Pandemi Covid-19 Jadi Endemi

Kiswondari, Sindonews · Senin 13 September 2021 12:56 WIB
https: img.okezone.com content 2021 09 13 337 2470491 menkes-ungkap-skenario-pandemi-covid-19-jadi-endemi-eOKu4rkmrx.jpg Menkes Budi Gunadi Sadikin (Foto: KBUMN)

JAKARTA - Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin memaparkan mengenai dua skenario penanganan pandemi Covid-19 di Tanah Air. Salah satunya mengenai skenario pandemi menjadi endemi.

"Kami di Kementerian Kesehatan memiliki 2 skenario. Skenario pertama adalah skenario normal, di mana tidak ada lonjakan lagi, pandemi menjadi endemi," kata Budi secara virtual dalam Raker Bersama Komisi IX DPR dan Kemenkeu di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Senin (13/9/2021).

"Sedangkan skenario kedua bila ada lonjakan lagi kita perlu antisipasi, dengan adanya varian baru," sambungnya.

Baca Juga:  Tinjau Vaksinasi Door to Door, Jokowi Ingin Pastikan Masyarakat Dapat Akses

Menkes Budi menjelaskan, pada skenario kondisi endemi, pihaknya memperkirakan bahwa kasus positif dalam setahun ada 1,9 juta. Sebagai informasi, jumlah kasus yang berjalan sejak Maret 2020 hingga sekarang itu sudah ada 4 juta kasus.

"Jadi, kita untuk skenario A bahwa ini kondisinya membaik terus atau rata dengan kondisi sekarang ada 1,9 juta kasus," terangnya.

Lalu skenario B, Budi melanjutkan, jika terjadi lonjakan varian baru yang mengakibatkan adanya lonjakan kasus, pihaknya mengestimasi akan ada 3,9 kasus atau 2 juta kasus lebih tinggi dibandingkan skenario normal atau skenario tidak ada lonjakan.

"Skenario ini akan mempengaruhi dari testing, perawatan dan isolasi," imbuh mantan Wakil Menteri BUMN ini.

Baca Juga: Angka Kesembuhan Covid-19 di DKI 98%, Positivity Rate 1,8%

Tapi, dia menegaskan, dari sisi vaksinasi tidak berubah karena untuk vaksinasi nanti baik skenario endemi maupun skenario ada lonjakan kasus, pemerintah akan tetap menjalankan vaksinasi dengan dosis ketiga dan juga vaksinasi untuk anak yang barus memasuki usia 12 tahun.

"Tapi untuk skenario testing, perawatan dan isolasi itu akan berubah. tergantung dari berapa jumlah kasus aktifnya. misalnya skenario A, testing 28 juta, kalau skenario B 58 juta testing," paparnya.

Menurut Budi, untuk perawatan juga sama, untuk skenario A, ada 20% dari 1,9 juta, kalau skenario B 20% dari 3,9 juta. Demikian juga dengan isolasi.

Pihaknya juga akan membenahi laboratorium, sehingga jumlah kapasitas seluruh laboratorium di Indonesia bisa merilis hasil pengetesan kurang dari 2 hari. Serta mempersiapkan jaringan whole genome sequence untuk memastikan seluruh Indonesia kita bisa teracak kalau ada varian baru.

"Testingnya juga akan kita rapikan, seluruh puskesmas akan kita latih kembali akan kita pastikan sistemnya diserdaharakan agar pelaporan bisa lengkap. Kemudian, juga tracingnya yang sekarang sudah mulai membaik akan kita pastikan terus kita jalankan, termasuk juga aplikasi yang akan kita sederhanakan," terang Budi.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini