5 Hal Mengerikan jika Terjadi Tsunami Dahsyat 28 Meter di Pacitan

Fahmi Firdaus , Okezone · Senin 13 September 2021 07:59 WIB
https: img.okezone.com content 2021 09 13 337 2470347 5-hal-mengerikan-jika-terjadi-tsunami-dahsyat-28-meter-di-pacitan-c3iza5V7Fv.jpg ilustrasi: Okezone

JAKARTA - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), mengimbau masyarakat dan pemerintah daerah waspada jika terjadi gempa dan tsunami di Pacitan, Jawa Timur.

(Baca juga: Jakarta Berpotensi Tenggelam, 14 Persen Wilayah Pesisir Ibu Kota di Bawah Laut)

Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Dwikorita Karnawati mengatakan, hal tersebut dilakukan untuk menghindari dan mengurangi risiko bencana gempa dan tsunami yang mengintai pesisir selatan jawa akibat pergerakan lempeng tektonik Indo-Australia dan Eurasia.

Okezone merangkum 5 hal yang kemungkinan bisa terjadi jika terjadi tsunami dahsyat di Pacitan, yang dirangkum Senin, 13 September 2021.

1. Estimasi Waktu Datangnya Tsunami di Pacitan Diprediksi 29 Menit

Berdasarkan hasil penelitian, di Pantai Pacitan memiliki potensi tsunami setinggi 28 meter dengan estimasi waktu tiba sekitar 29 menit. Adapun tinggi genangan di darat berkisar sekitar 15-16 meter dengan potensi jarak genangan mencapai 4 - 6 kilometer dari bibir pantai.

(Baca juga: UNS Teken Kerja Sama dengan Solo Techno Park)

2. Evakuasi Jalur Bencana

Kepala BMKG Dwikorita bersama Menteri Sosial Tri Rismaharini dan Bupati Pacitan Indrata Nur Bayuaji melakukan simulasi dan verifikasi zona bahaya dan menyusuri jalur evakuasi bencana.

Dwikorita menyebut, dengan skenario tersebut maka masyarakat yang berada di zona bahaya perlu berlatih rutin utk melakukan langkah evakuasi mandiri bila mendapatkan Peringatan Dini Tsunami maksimum 5 menit setelah gempa terjadi.

3. Masyarakat Mengungsi ke Dataran Tinggi

Masyarakat, khususnya yang berada di wilayah pesisir pantai harus segera mengungsi ke dataran yang lebih tinggi jika merasakan goncangan gempa yang besar.

“Untuk masyarakat yang berada di pantai, tidak perlu menunggu perintah, aba-aba, atau sirine, segera lari karena waktu yang dimiliki hanya sekitar 29 menit, sedangkan jarak tempat yang aman yang lebih tinggi cukup jauh,” ujar Kepala BMKG Dwikorita.

4. Tidak Ada Teknologi yang Bisa Memprediksi Gempa

Kepala BMKG Dwikorita menegaskan, hingga saat ini belum ada teknologi atau satu pun negara di dunia yang bisa memprediksi kapan terjadinya gempa dan tsunami secara tepat dan akurat. Lengkap dengan perkiraan tanggal, jam, lokasi, dan magnitudo gempa. Semua masih sebatas kajian yang didasarkan pada salah satunya adalah sejarah gempa di wilayah tersebut.

5. Luasnya Zona Bahaya di Pemukiman Padat Penduduk

BMKG memberi rekomendasi kepada pemerintah daerah untuk menyiapkan dan menambah jalur-jalur evakuasi lengkap dengan rambu-rambu di zona merah menuju zona hijau. Karena luasnya zona bahaya (zona merah) dan padatnya pemukiman penduduk, maka Pemerintah Daerah harus lebih cermat dan tepat dalam memperhitungkan jumlah dan lokasi jalur evakuasi yang diperlukan.

Pertimbangannya adalah jarak lokasi tempat evakuasi, waktu datangnya gelombang genangan tsunami, kelayakan jalur, serta menyiapkan mekanisme dan sarana prasarana evakuasi secara tepat.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini