Varian Mu Covid-19 Patut Diwaspadai, Tapi Tak Perlu Panik

Binti Mufarida, Sindonews · Minggu 12 September 2021 08:06 WIB
https: img.okezone.com content 2021 09 12 337 2470011 varian-mu-covid-19-patut-diwaspadai-tapi-tak-perlu-panik-9fPmipF3OJ.jpg Ilustrasi (Foto : Reuters)

JAKARTA - Virus Covid-19 varian Mu yang saat ini menyebar di beberapa negara di dunia terutama di Kolombia, Ekuador, Spanyol, juga Amerika Serikat dikabarkan dapat menyebabkan gelombang baru akibat virus tersebut. Benarkah demikian?

Ketua Satuan Tugas Covid-19 Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI), Zubairi Djoerban mengatakan pun menjelaskan bahwa varian Mu ini sudah ditemukan sejak Januari 2021.

“Sebetulnya varian itu sudah ditemukan lama jadi Januari 2021 dari sudah 8, 9 bulan yang lalu mula-mula ditemukan di Kolombia, kemudian di Ekuador, kemudian ada di Spanyol, di Amerika,” ungkapnya dalam keterangannya lewat video dari media sosial pribadinya, dikutip Minggu (12/9/2021).

Zubairi mengatakan bahwa total kasus dari varian Mu ini masih di angka 0,1%. “Namun sebetulnya jumlah diluar dua negara tersebut di luar Kolombia dan Ekuador sama sekali tidak bermakna. Bayangin dari total seluruh dunia ini, hanya 0,1% itu yang varian Mu.”

Baca Juga : Jelang PON Papua, Mahfud MD Minta Aparat Mantapkan Rencana Pengamanan

Lalu, kenapa khawatir dengan varian Mu ini? Zubairi pun menjelaskan bahwa hal ini melihat dari sejarah varian Delta yang meningkatkan kasus secara drastis bahkan membuat angka kematian tinggi di sejumlah negara.

“Karena sejarah dari varian Delta kan amat menakutkan, yang tadinya bayangin Amerika tadi sudah dari 4.000 kematian di awal Januari, sudah turun drastis sampai di bawah 400 turun pelan-pelan, sekarang naik ke puncak lagi sampai di atas 1.000 dalam berapa hari ini. Jadi jumlah kematian per Minggunya bahkan lebih dari 6.000 orang. Jadi puncak pertama yang akibat Delta di Amerika, kemudian baru yang lain,” papar Zubairi.

Zubairi menegaskan agar masyarakat tetap waspada namun tidak perlu panik menyikapi adanya varian Mu ini. “Jadi varian Mu sekali lagi mungkin sekali tidak akan menjadi masalah jangka panjang. Kita memang perlu antisipasi, namun tidak perlu panik,” tegasnya.

Lalu, apakah benar varian Mu bisa menembus barier antibodi? “Iya, jadi kalau seseorang sudah terinfeksi kemudian timbul kekebalan atau seorang dari vaksin kemudian jadi kebal begitu kena varian Mu memang tetap bisa menyerang orang tersebut yang relatif seharusnya terlindung,” kata Zubairi.

“Tetapi sekali lagi masalahnya ternyata memang lebih katanya lebih serius dari varian Alfa dan Gamma, namun tidak seserius varian Delta,” tegasnya.

Jadi sekali lagi varian Mu, bukti sampai sekarang pertama prevalensinya rendah sekitar 0,1% untuk dunia. Yang kedua tidak ada bukti bahwa dia lebih serius lebih gawat dibandingkan dengan varian Delta. Tang ketiga, namun kita tetap harus waspada kali ini karena masih 0,1% jadi kita belajarnya tentu data Indonesia virus-virus yang diperiksa, apakah ada varian Mu itu boleh.

Namun, kata Zubairi, pemerintah saat ini harus lebih prioritas untuk bagaimana mempelajari perkembangan varian Mu di banyak negara lain khususnya perkembangan di Kolombia, Ekuador, kemudian di Amerika. “Walaupun Amerika baru sekitar 2 ribuan masih amat sangat sedikit banget, kemudian juga di Spanyol dan Meksiko itu kita perlu memantau, monitor bagaimana perkembangan varian Mu di sana.”

Apalagi, Zubairi mengatakan saat ini kasus Covid-19 di Tanah Air sudah mengalami penurunan drastis.

“Jadi sementara itu kita di Indonesia kan sudah turun banget luar biasa anjlok kita, positivity rate dari 44%, Jakarta bahkan kurang dari 4%, amat sangat rendah. Risiko penularan di Jakarta amat sangat rendah, untuk provinsi lain masih agak tinggi namun tidak tinggi dulu dari 44% sudah turun ke sekitar 15%,” ujarnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini