Benarkah Sertifikat Vaksin Tertua Berasal dari Kekaisaran Turki Usmani? Ini Kata Filolog

Mohammad Adrianto S, Okezone · Sabtu 11 September 2021 06:22 WIB
https: img.okezone.com content 2021 09 11 337 2469638 benarkah-sertifikat-vaksin-tertua-berasal-dari-kekaisaran-turki-usmani-ini-kata-filolog-9adFWbQ7Tv.jpeg Foto: Istimewa

JAKARTA - Beredar potongan kertas yang dianggap sebagai sertifikat vaksin dari Turki yang diklaim terbit awal abad ke-18. Benarkah informasi yang beredar tersebut?

Guru Besar Filologi Fakultas Adab dan Humaniora Universitas Islam Negeri Jakarta Oman Fathurahman, menanggapi isu tersebut dalam sebuah live streaming Ngaji Manuskrip Kuno Nusantara (Ngariksa), di akun Twitter pribadinya (@ofathurahman) Jumat (10/9/21).

Oman memaparkan, kertas vaksin tersebut benar dari Turki. Namun, terdapat kesalahan dalam penulisan tahun dalam sertifikat tersebut.

"Kalau kita mau mencermati sedikit saja di bagian penulisan tahun, itu sudah jelas tahunnya bukan 1721," tutur Oman.

"Kertas vaksin ini benar adanya dari Turki Usmani, tapi kalau yang tertua wallahualam," lanjutnya.

Baca juga: Youtuber Terkenal Aceh Tepergok Mesum Dalam Mobil Bareng Anak di Bawah Umur

Lebih lanjut, cikal bakal vaksinasi sudah ada sejak abad ke-9, ditemukan oleh Abu Bakar Muhammad bin Zakaria ar-Razi ketika mendiagnosis penyakit cacar pertama. Catatan miliknya diterapkan oleh berbagai ilmuwan di berbagai belahan dunia.

Selain itu, teknik vaksinasi macam variolasi dan inokulasi sudah dilakukan oleh negara Tiongkok pada tahun 1549 serta India di tahun 1580. Turki sendiri baru mengadopsi teknik tersebut saat memasuki tahun 1670. 

Oman melanjutkan, bahwa vaksinasi merupakan cara tertua manusia untuk menghentikan pandemi. 

"Proses agar manusia untuk keluar dari pandemi sudah terjadi berulang kali dalam sejarah. Vaksinasi sudah menjadi cara bagi manusia agar bisa terbebas dari pandemi," jelas Oman.

Oman berpesar agar masyarakat tidak mudah termakan hoaks dan selalu memastikan sesuatu terlebih dahulu sebelum mempercayai suatu informasi. "Selalu menelusuri sumber awal informasi, selalu merujuk sumber otoritatif, selalu memahami informasi dalam konteksnya yang benar," kata Oman.

"Dunia digital menjembatani akses informasi dan pengetahuan tak terbatas. Berselancarlah!" tegasnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini