Share

7 Alasan Mengapa PTM Penting Digelar di Tengah Pandemi

Bima Setiyadi, MNC Portal · Rabu 08 September 2021 17:58 WIB
https: img.okezone.com content 2021 09 08 337 2468268 7-alasan-mengapa-ptm-penting-digelar-di-tengah-pandemi-8sCfuUjMB8.jpg Pembelajaran tatap muka di SMAN 77 Jakarta. (Foto : MNC Portal/Jonathan Nalom)

KEBIJAKAN pembelajaran tatap muka (PTM) di tengah pandemi mendapat respons positif dari sejumlah pihak. Banyak orangtua setuju dengan kebijakan tersebut dan mendukung anaknya belajar di sekolah.

PTM dinilai dapat membuat anak-anak bisa belajar secara optimal. Mereka akan lebih berkonsentrasi belajar sehingga tidak akan tertinggal pendidikannya.

Menurut pengamat pendidikan dari Universitas Brawijaya (UB), Aulia Luqman Aziz, profesi guru tidak akan tergantikan oleh teknologi selamanya. Dalam proses belajar mengajar secara tatap muka, ada nilai-nilai yang bisa diambil oleh siswa seperti proses pendewasaan sosial, budaya, etika dan moral. Ini hanya bisa didapatkan dengan interaksi sosial di dalam lingkungan pendidikan.

Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Mendikbud) Nadiem Makarim sebelumnya menyampaikan keprihatinannya mengenai kegiatan belajar mengajar (KBM) daring saat ini. Salah satunya mengenai kemungkinan adanya lost generation.

Menurut Nadiem, kondisi ini cukup menyeramkan karena anak akan ketinggalan belajar. Ini dialami bukan hanya oleh satu atau dua anak, tapi oleh satu generasi.

Dia menegaskan, dampak lost generation tidak dapat langsung dirasakan. Ini baru terasa ketika generasi ini tumbuh dewasa pada satu hingga dua dekade yang akan datang.

“Tidak pernah ada yang membicarakan risiko satu generasi masyarakat Indonesia yang akan tertinggal dalam pembelajarannya. Dampak dari lost generation ini akan kita ketahui setelah bertahun-tahun yang akan datang. Yang pasti ada risiko sangat besar dan ini disebut oleh semua badan riset," ucap Nadiem Makarim.

Berikut tujuh alasan mengapa pembelajaran tatap muka lebih ideal digelar, meski pandemi Covid-19 masih melanda:

1. Interaksi dan Komunikasi Lebih Mudah

Selama KBM daring, komunikasi dan interaksi antara guru dengan murid maupun antara sesama murid menjadi terhambat dan tidak berjalan dengan optimal.

Hal ini karena saat KBM daring berlangsung, proses komunikasi hanya terjalin melalui video call atau chat saja. Tentu saja ini dapat menghilangkan kedekatan dan proses komunikasi alami antara guru dan murid, terutama berkaitan dengan proses penyampaian materi.

Proses komunikasi jarak jauh dianggap belum sepenuhnya efektif karena rentan dengan kekeliruan dalam menerima dan mencerna informasi. Artinya, informasi yang disampaikan guru belum tentu akan dicerna sama oleh peserta. Hal ini mungkin karena suara yang kurang jelas atau instruksi yang kurang lengkap serta faktor lainnya.

Baca Juga : Wapres dan Gubernur DKI Keliling Sekolah Tinjau Pembelajaran Tatap Muka

KBM tatap muka masih dianggap paling ideal karena proses komunikasi dan sosialisasi akan terjalin secara langsung. Informasi dan materi yang diberikan juga akan lebih mudah dicerna dan dipahami oleh murid.

Follow Berita Okezone di Google News

2. Sumber dan Media Pembelajaran Lebih Familiar

Salah satu kendala utama yang dihadapi guru maupun murid selama menjalani PJJ berkaitan dengan pemanfaatan dan pengelolaan sumber maupun media pembelajaran daring. Sumber belajar daring sejauh ini belum begitu familiar dan mudah dipahami oleh para guru juga para murid, terutama yang berada di wilayah 3T.

Sumber belajar dan portal daring sudah banyak disediakan oleh Kemdikbud dan lembaga pendidikan lainnya secara gratis, seperti rumah belajar, guru berbagi, sumber belajar seamolec, dan lainnya. Akan tetapi dengan proses adaptasi yang begitu cepat dan tanpa proses persiapan dan pelatihan sebelumnya, para guru masih banyak mengalami kesulitan dalam memanfaatkan dan mengelola berbagai sumber dan media pembelajaran online. Begitu pun yang dialami murid dan para orang tua.

Karena itu, dari beberapa survei terakhir yang dilakukan Mendikbud, sebagian besar guru, murid, dan orang tua lebih menghendaki kembali diadakannya KBM tatap muka.

3. Tidak Harus Terhubung dengan Internet

Salah satu keuntungan dari KBM tatap muka adalah tidak membutuhkan koneksi internet dan gawai. Guru maupun murid bisa langsung berinteraksi dan berkomunikasi dalam aktivitas pembelajaran.

Hal ini sangat membantu bagi para guru dan murid yang berada di wilayah 3T atau belum terjangkau jaringan internet. Kendala gawai juga bisa teratasi dengan memanfaatkan sumber belajar konvensional seperti buku, LKPD, dan APE yang lebih mudah dan terjangkau untuk dimanfaatkan.

Meskipun saat ini proses pembelajaran ideal harusnya sudah mengoptimalkan blended learning dengan mengombinasikan anatara daring dan konvensional, dengan keterbatasan infrastruktur dan kemampuan dalam mengelola KBM daring, pembelajaran tatap muka masih dianggap paling baik dan ideal.

4. Mudah dalam Penilaian Karakter

Salah satu aspek yang sulit diajarkan dan diidentifikasi ketika pelaksanaan KBM daring adalah berkaitan dengan pendidikan karakter dan moral. Idealnya untuk mengukur karakter siswa, harus dengan berinteraksi dan menganalisis secara langsung.

Selain itu, hal paling penting dari pendidikan karakter berkaitan dengan keteladanan. Karena itu, perlu adanya praktik dan analisis secara langsung dari guru agar benar-benar memahami karakter dan sikap setiap siswa. Model pembelajaran yang paling memungkinkan untuk penerapan nilai-nilai karakter secara optimal adalah dengan jalur tatap muka (konvensional).

5. Tidak Gampang Stres dan Lebih Fokus

KBM daring yang sudah berjalan beberapa bulan ini semakin dikeluhkan oleh para siswa, orang tua maupun para guru. Pasalnya, KBM daring yang dilakukan dari rumah ternyata membuat para siswa dan orang tua cepat menjadi stres.

Hal ini terjadi karena para siswa tidak bisa berinteraksi dengan teman temannya dan bermain di lingkungan sekolah. Aktivitas tiap hari dilakukan dari rumah sehingga membuat kondisi psikologis setiap anak menjadi tertekan dan bosan yang berujung pada kondisi stres.

Hal yang sama juga dialami guru dan orang tua yang mana. Mereka perlu dan harus bisa membagi waktu dan prioritas antara mengajar dan mengurusi rumah tangga.

Selain itu, dalam KBM daring akan selalu menggunakan gawai dan koneksi internet yang tentu saja akan sangat rentan membuat para siswa menjadi tidak fokus. Misalnya jika tidak ada yang mengawasi, si anak akan bermain game, menonton YouTube dan aktivitas lain yang tidak berkaitan dengan pembelajaran.

Apabila nilai-nilai kemandirian dan tanggung jawab belum dimiliki anak, akan sulit untuk bisa berfokus pada pembelajaran saja yang cenderung membosankan.

Selain itu, belajar dari rumah juga akan memecah konsentrasi anak karena rentan mengalami gangguan dari anggota keluarga lain. Sejauh ini, tempat dan kondisi yang paling ideal untuk pelaksanaan KBM masih tetap di sekolah yang memang dikhususkan untuk tempat belajar.

6. Lebih Terkontrol

KBM daring atau belajar online banyak sekali membuat siswa menjadi stres dan sulit fokus. Selain itu, anak yang tidak sepenuhnya diawasi orang tua akan rentan untuk tidak benar-benar belajar dengan serius.

KBM daring yang selalu menggunakan gawai dan koneksi internet membuat anak dengan mudah mengakses fitur lain di luar topik pembelajaran, seperti bermain game. Namun, apabila orang tua benar-benar mendampingi dan mengawasi anaknya saat belajar daring, kemungkinan anak untuk melakukan aktivitas lain dapat diminimalisasi.

Sementara dengan PTM atau KBM tatap muka, guru memiliki akses untuk mengawasi para siswa secara langsung. Para siswa pun bisa lebih mudah dipantau dan dikontrol.

7. Praktikum Lebih Gampang dan Efektif

KBM daring yang dilakukan secara jarak jauh menuntut para guru agar bisa memberikan penugasan yang bisa mengukur setiap kompetensi secara optimal. Hal ini juga saat guru harus memberikan tugas praktikum dan proyek. Guru harus memastikan bahwa apa yang dibuat atau hasil praktikum yang dikerjakan merupakan hasil karya para siswa.

Selain itu karena sulit diawasi maka untuk melakukan penilaian kinerja dan unjuk kerja kepada setiap siswa akan menjadi sulit, karena penugasan yang bersifat mandiri.

Berbeda ketika model pembelajaran dilakukan dengan tatap muka (konvensional). Proses praktikum dan penugasan juga lebih mudah disiapkan, diatur, dan dinilai karena dilihat langsung oleh guru.

Pada akhirnya, proses penilaian yang dilakukan juga lebih terukur dan efektif. Sebab, penilaian menyangkut seluruh aspek, termasuk kinerja, keaktifan, kreativitas, serta hasil karya atau praktik setiap siswa.

Baca pembahasan mengenai Pembelajaran Tatap Muka selengkapnya di iNews.id melalui link berikut https://www.inews.id/tag/ptm

1
3

Berita Terkait

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini