Share

Ketika Jenderal Nasution Pimpin Pasukan Berangus Pemberontakan PKI

Mohammad Adrianto S, Okezone · Rabu 08 September 2021 07:35 WIB
https: img.okezone.com content 2021 09 08 337 2467777 ketika-jenderal-nasution-pimpin-pasukan-berangus-pemberontakan-pki-WaAAAgl2pa.jpg Jenderal AH Nasution (Foto: Ist)

JAKARTA – Jenderal Besar TNI Abdul Harris Nasution merupakan salah satu tokoh pejuang yang berhasil selamat dari sasaran G30SPKI, 1965 silam.

Tidak hanya peristiwa tersebut, Jenderal Nasution juga menyaksikan pemberontakan PKI di Madiun. Mengutip dari buku 80 Tahun Bung Karno, Jenderal Nasution memimpin langsung dalam menangani PKI. 

Pada 18 September 1948, terjadi pemberontakan PKI di Madiun. Sore harinya, Nasution diminta menemui Soekarno, dan diperintahkan untuk menuliskan tindakan ke depannya.

Baca Juga: Kisah Tentara Tidur di Rumah Rakyat Bikin Ciut Penjarah

Setelah membuat surat, Presiden Soekarno serta Wakil Presiden Moh. Hatta mengadakan sidang dengan menteri-menteri serta panglima besar, membahas apa langkah pemerintah untuk menyelesaikan masalah ini.

Dalam sidang tersebut, dibacakan juga Surat Perintah Presiden, yang nantinya ditandatangani Soekarno sendiri.

Usai sidang, Nasution diminta oleh Jenderal Sudirman untuk ke rumahnya. “Nas, besok pagi datang ke rumah saya. Bawa juga komandan setempat Letkol. Suharto!” perintah Sudirman.

Nasution lalu pergi menuju Markas Besar menemui 3 orang perwira. Dia menjelaskan isi perintah Presiden Soekarno dan membagi 3 sektor untuk masing-masing perwira, yaitu melucuti Brigade Joko Untung dari Pemuda Sosialis Indonesia (Pesindo), dan akan dilaksanakan secepatnya karena saat itu tokoh PKI/Sobsi sedang mengadakan rapat di Hotel Tugu.

Malam itu, operasi penangkapan-penangkapan berjalan dengan lancar. Nasution hendak mengabari Sudirman terkait berita penangkapan tersebut.

Namun, saat itu Sudirman mendadak jatuh sakit. Alhasil, Nasution mendapat kepercayaan penuh untuk menjalankan operasi pembersihan PKI.

Baca Juga:  3 Kisah Inspiratif Prajurit TNI yang Bertugas di Perbatasan

Malamnya, Soekarno membacakan sebuah pidato yang saat itu begitu historis. Tidak lama setelah pidato, Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP) memberi Soekarno waktu 3 bulan untuk menyelesaikan pemberontakan, yang dirinya berhasil lakukan sebelum akhrinya Belanda kembali menyerang Indonesia 2 bulan setelah peristiwa tersebut.

Baca Juga: Salurkan BLT BBM kepada 20,65 Juta KPM, Ini Strategi Pos Indonesia

(Ari)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini