Gagalnya Pernikahan Hayam Wuruk dan Putri Sunda Akibat Ulah Gajah Mada

Avirista Midaada, Okezone · Selasa 07 September 2021 08:19 WIB
https: img.okezone.com content 2021 09 07 337 2467234 gagalnya-pernikahan-hayam-wuruk-dan-putri-sunda-akibat-ulah-gajah-mada-BoIfQVcjMc.jfif Mahapatih Gajah Mada (foto: ist)

GAJAH MADA terkenal dengan sumpah palapa-nya berhasil menyatukan nusantara. Bahkan berkat kemampuan Gajah Mada pula Kerajaan Majapahit terkenal memiliki wilayah penguasaan begitu luas. Tapi bukan berarti ada program politik Gajah Mada yang tak berhasil.

Dikisahkan pada buku "Gajah Mada Sistem Politik dan Kepemimpinan" karya Enung Haryati, ada satu kegagalan yang membuat Gajah Mada seolah frustasi dan merasa menjadi pecundang seumur hidupnya. Salah satu kejadian Pasundan - Bubat disinyalir amat mempengaruhi posisi Kerajaan Majapahit, dan menjadi salah satu kegagalan Gajah Mada.

Baca juga: Mitos Air Terjun Madakaripura, Konon Dijaga Siluman Harimau Putih Khodam Gajah Mada

Pasundan-Bubat sendiri adalah usaha Majapahit untuk menundukkan Sunda. Usaha penaklukan Sunda termasuk upaya sumpah palapa yang merupakan manifestasi politik Gajah Mada, menyatukan nusantara.

Konon saat itu Raja Hayam Wuruk yang berusia 23 tahun hendak mengambil putri Sunda Dyah Pitaloka sebagai permaisuri, yang otomatis menjadi istrinya karena kecantikannya yang luar biasa. Memang dari sekian wilayah nusantara yang dikuasai dan disatukan Kerajaan Majapahit, hanya daerah Sunda di Jawa bagian barat yang sulit dikuasai.

Baca juga:  3 Wanita Dalam Pusaran Mahapatih Gajah Mada

Ada beberapa sebab mengapa wilayah Kerajaan Sunda sulit diserang oleh tentara dari Kerajaan Majapahit. Salah satunya karena Sunda tidak mempunyai alasan untuk diajak perang. Hal ini berbeda saat Kerajaan Majapahit menyerang Kerajaan Bali, yang terkenal rajanya bertindak kejam.

Intinya hubungan politik antara Kerajaan Majapahit dan Sunda baik - baik saja, tapi para penguasa Sunda tak pernah mengakui Majapahit sebagai penguasa yang harus dipertuankan. Kemudian muncullah keinginan Raja Majapahit Hayam Wuruk untuk menikahi Putri Sunda Dyah Pitaloka.

Raja Hayam Wuruk yang jatuh cinta kepada putri Sunda ini membicarakan hal tersebut ke Gajah Mada dan ke pihak Kerajaan Sunda juga. Tapi entah bagaimana kisah cintanya yang tulus, kemudian ditafsirkan sebagai sebuah strategi politik ala Gajah Mada.

Konon saat itu Raja Sunda dan rombongannya termasuk Putri Sunda Dyah Pitaloka telah berangkat menuju ke Majapahit. Keberangkatan mereka untuk menikahkan putrinya dengan Hayam Wuruk.

 Baca juga: Ketika Gadjah Mada 'Gempur' Kerajaan Samudera Pasai

Tetapi dikisahkan dalam Serat Pararaton dan Kidung Sunda, pernikahan keduanya gagal. Hal ini karena cita - cita Gajah Mada yang ingin menaklukkan Sunda di bawah panji - panji kebesaran Kerajaan Majapahit.

Gajah Mada mempunyai rencana lain saat Raja Sunda dan rombongannya tiba di Majapahit. Gajah Mada memberi tekanan kepada Sunda, supaya takluk kepada kekuasaan Kerajaan Majapahit, akan tetapi rencana ini tak berhasil.

Orang - orang Sunda menolak perintah supaya Putri Sunda Dyah Pitaloka dibawa ke istana Majapahit untuk diserahkan ke Hayam Wuruk. Raja Sunda beranggapan kedatangan mereka di Majapahit, bukan untuk menyerahkan putri sebagai upeti dan tanda takluk ke Majapahit. Namun untuk mengantarkan putrinya menikah dengan Raja Hayam Wuruk.

Pada Kidung Sunda diceritakan kedua pihak bertemu di sebuah wilayah bernama Bubat. Di sinilah segala persiapan penyambutan rombongan mempelai dari Kerajaan Sunda dilakukan. Namun dikisahkan Raja Majapahit mengingkari janjinya, hal ini membuat Patih Kerajaan Sunda bersama tiga pejabat tinggi lainnya, serta 300 prajurit bersenjata lengkap diutus ke ibu kota untuk berunding dengan Kerajaan Majapahit.

Saat berunding inilah konon Gajah Mada memberikan jawaban yang menyakiti hati orang-orang Sunda. Gajah Mada menginginkan agar Raja Sunda datang menyerahkan sembahannya, sebagai tanda dia tunduk kepada Raja Majapahit, yang kemudian bersedia menerima sang putri sebagai persembahan - persembahan orang - orang Sunda.

Singkat cerita di Bubat inilah terjadi peperangan antara pasukan Kerajaan Sunda dan Majapahit. Setelah Majapahit berhasil mengalahkan dan memukul mundur pasukan Kerajaan Sunda, Dyah Pitaloka yang telah berada di pesanggrahan Majapahit akan ditemui oleh Raja Hayam Wuruk.

Tapi ternyata putri raja itu diceritakan telah mati dengan posisi bersandar pada bantal. Hayam Wuruk pun begitu terpukul melihat kematian sang pujaan hati Dyah Pitaloka. Selanjutnya segala upacara dilakukan, pembesar Kerajaan Majapahit pun hadir.

Namun ada dua versi kematian Dyah Pitaloka, selain versi di atas ada versi bahwa Dyah Pitaloka bunuh diri usai terjadi peperangan antara Kerajaan Sunda dan Majapahit. Tapi tentang kematian Raja Hayam Wuruk sama - sama dikisahkan karena sakit.

Raja Hayam Wuruk yang mendapati pujaan hatinya wafat, pulang ke pura Majapahit. Hari - hari Hayam Wuruk menjadi murung, kurang tidur, kurang makan, hingga akhirnya jatuh singkat. Kondisi inilah yang akhirnya membuat Hayam Wuruk meninggal dunia.

Akibatnya penerus tahta dari Kerajaan Sunda Prabu Niskalawastu pun akhirnya memutuskan hubungan diplomatik dengan Kerajaan Majapahit. Konon dari sinilah akhirnya larangan 'estri ti luaran' atau larangan menikahi dari luar Sunda muncul.

Ada beberapa sumber yang menyebut larangan ini berkaitan pernikahan antara orang Sunda dan Jawa, namun ada yang menyebut spesifik larangan orang Sunda menikah dengan orang - orang dari Majapahit.

Alhasil pembesar - pembesar Kerajaan Majapahit menyalahkan Gajah Mada, sebagai penyebabnya. Mereka pun akhirnya mengepung rumah Patih Amangkubhumi Gajah Mada dan merusak pagar pekarangan.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini