Ketua DPD Geram, Pelaku yang Jadikan Anak Tumbal Pesugihan Harus Dihukum Berat

Tim Okezone, Okezone · Senin 06 September 2021 14:36 WIB
https: img.okezone.com content 2021 09 06 337 2466896 ketua-dpd-geram-pelaku-yang-jadikan-anak-tumbal-pesugihan-harus-dihukum-berat-hYreD7ZhS4.jpg Ketua DPD RI Lanyalla Mattalitti (Foto: Dok DPD RI)

LAMPUNG - Ketua DPD RI, AA LaNyalla Mahmud Mattalitti geram dengan peristiwa anak yang dijadikan korban tumbal pesugihan di Lembang Panai, Kelurahan Gantarang, Kecamatan Tinggimoncong, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan. Korban yang masih berusia enam tahun harus menjalani operasi mata pada bagian kanan.

"Kasus yang terjadi ini tidak masuk akal. Demi pesugihan, orangtua tega melakukan kekerasan secara bengis dan tidak berperikemanusiaan, yakni mencungkil mata anaknya sendiri yang baru berusia enam tahun," kata LaNyalla di sela kunjungan kerjanya ke Lampung melalui keterangan tertulis, Senin (6/9/2021).

Baca Juga:  Ketua DPD Apresiasi Penanganan Anak Yatim Korban Covid-19

LaNyalla meminta agar para pelaku yang terlibat dalam kejahatan tersebut diberikan hukuman yang berat. Tentu saja hal ini agar menjadi pembelajaran untuk menekan perlakuan keji kepada anak sendiri.

Senator asal Jawa Timur itu juga mengingatkan agar perlindungan anak dari kekerasan yang dilakukan oleh orang terdekat harus diperketat. LaNyalla meminta kepada Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA) untuk memberikan pendampingan dan perawatan serta pemulihan trauma psikologi korban.

LaNyalla pun menilai peristiwa ini harus menjadi pembelajaran semua pihak untuk merumuskan perlindungan terhadap anak dari lingkungan terdekat mereka. "Negara harus mempunyai solusi jangka panjang untuk anak-anak dengan kasus tersebut. Dikhawatirkan jika orangtuanya memang memiliki masalah kejiwaan hingga melakukan tindak penganiayaan, suatu saat bisa terulang kembali," ujarnya.

LaNyalla juga meminta Majelis Ulama Indonesia (MUI) untuk turun tangan mengedukasi masyarakat yang masih percaya dengan hal-hal mistis yang tidak dibenarkan dalam agama dan seringkali memakan korban jiwa.

"Kasus ini juga menjadi pekerjaan rumah bagi MUI dan Kementerian Agama untuk memberikan penerangan masalah klenik atau pesugihan kepada masyarakat," katanya.

Baca Juga:  Ketua DPD Tegaskan Sinergi dan Kerja Sama Kunci Keluar dari Krisis Akibat Covid-19

Dalam kasus ini, pihak kepolisian telah menetapkan dua orang tersangka. Kedua tersangka kasus kekerasan tersebut merupakan kakek dan paman korban sendiri yakni, US (44) dan BAR (70), sementara orang tua korban HAS (43), TAU (47) masih menjalani pemeriksaan di Rumah Sakit Jiwa Dadi Makassar.

(Ari)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini