Share

Candi Borobudur Konon Dibangun Syailendra dengan Meratakan Puncak Bukit

Avirista Midaada, Okezone · Senin 06 September 2021 06:31 WIB
https: img.okezone.com content 2021 09 05 337 2466560 candi-borobudur-konon-dibangun-syailendra-dengan-meratakan-puncak-bukit-EWDljSy3Rm.jpg Candi Borobudur (foto: Dok Sindo)

CANDI BOROBUDUR menjadi salah satu bangunan yang ditetapkan sebagai cagar budaya. Bahkan Candi Borobudur merupakan salah satu dari beberapa bangunan keajaiban dunia. Namun tahukah bila proses pembuatan candi termegah di Indonesia ini sampai harus meratakan bukit.

Sebagaimana dikisahkan dalam buku "Nusantara Sejarah Indonesia" karya Bernard H. M. Vlekke, Candi Borobudur dibangun oleh Raja Syailendra yang dijuluki sebagai Raja Pegunungan. Tak ada yang tahu kenapa sebutan raja pegunungan disematkan kepada Syailendra. Namun karya - karya bangunan candi dan tempat suci yang dibangun di tempat - tempat tinggi atau perbukitan, konon menjadi penyebabnya.

 Baca juga: Kisah Bilik Gundik Perempuan dalam Kapal-Kapal di Zaman Kerajaan Sriwijaya

Syailendra dengan kesaktian dan kekuatannya berhasil membuat sebuah monumen kala itu yang terletak di utara Yogyakarta. Ia membangun sebuah bangunan yang menutupi bagian atas sebuah bukit yang telah dibentuk menjadi serangkaian teras. Lantai dan dinding penahannya ditutup dengan batu.

Menariknya dituliskan Vlekke, puncak bukit tersebut sengaja diratakan dan dengan demikian dibuat terlihat seperti atap rata sebuah bangunan besar. Di pusat atap ini berdiri sebuah stupa yang berisi, atau dikira berisi, satu patung Buddha. Di sekeliling stupa inti ini ada banyak stupa batu kecil berhias yang ada di dalamnya berisi patung - patung Dhyani - Buddha. Dinding - dinding teras tertutup dengan pahatan.

 Baca juga: Berikut Daftar Kerajaan di Jateng, Termasuk yang Bangun Candi Prambanan dan Borobudur

Bangunannya yang begitu besar membuat sehingga konstruksinya diperkirakan menghabiskan waktu paling tidak 10 tahun pembuatan. Di bangunan candi juga terdapat relief ukiran - ukiran, yang sangat jelas mengikuti model tertentu yang dibawa dari India.

Setiap set relief itu menggambarkan cerita yang berkaitan dengan tradisi Buddha, dan sumber - sumber literer, yang juga datang dari India. Tak kurang dari 400 patung dan 1.400 pahatan relief menghiasi dinding - dinding teras.

Pahatan - pahatan itu adalah buku teks mengenai ajaran Mahayana yang tertulis di batu. Dinding terbawah candi itu menggambarkan cerita - cerita mengerikan tentang neraka, dan penderitaan hidup di luar keselamatan. Selanjutnya, Buddha datang sebagai juru selamat dan dalam bentuk seekor gajah putih mendekati calon ibunya.

Ia dilahirkan sebagai Pangeran Siddharta yang juga disebutkan Gautama. Dia adalah anak Ratu Maya dan sejak lahir sudah punya kemampuan seperti orang dewasa.

Sementara ada satu gambar di Candi Borobudur hamba menggambarkan Ratu Maya mencekal ekor gajah mati, dan melemparkan badan raksasa itu melewati tujuh tembok.

Singkat cerita, Borobudur ini menggambar keutamaan yang dipraktekkan Bodhisattwa dalam kehidupan - kehidupan sebelumnya dan yang akan dipraktekkan oleh Bodhisatwa - Bodhisatwa di masa depan. Teras - teras candi diisi beragam pahatan dan dekorasi yang menunjukkan kenikmatan hidup dunia.

Dari kemegahan bangunan Candi Borobudur terlihat jelas bagaimana Raja Syailendra, pastilah penguasa yang sangat kaya dan kuat, sehingga mereka bisa membangun monumen sebesar dan sempurna layaknya Candi Borobudur. Apalagi dengan pernikahan putra Syailendra bernama Samaragrawira dengan putri pewaris Kerajaan Sriwijaya, kian menguatkan dari sisi perekonomian.

Alhasil dari penggabungan kekayaan Jawa dan Sumatera inilah membuat Syailendra tak kesulitan membangun sebuah bangunan yang begitu besar dan megah saat itu, bahkan hingga kini.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini