Kopassus dalam Penyamaran, Diuji Kesetiaan oleh Musuh dan Ditembaki Teman Sendiri

Tim Okezone, Okezone · Minggu 05 September 2021 07:43 WIB
https: img.okezone.com content 2021 09 04 337 2466239 kopassus-dalam-penyamaran-diuji-kesetiaan-oleh-musuh-dan-ditembaki-teman-sendiri-9iCRZjk0T5.jpg Ilustrasi Kopassus (Foto: Kopassus.mil.id)

JAKARTA - Sersan Badri (bukan nama sebenarnya), anggota Sandi Yudha Komando Pasukan Khusus (Kopassus) berhasil menyusup ke lingkaran pusat Gerakan Aceh Merdeka (GAM). Dirinya memposisikan dirinya sebagai petinggi TNI yang menjadi "pejuang" GAM. 

Selama dalam penyamaran, Badri banyak melewati berbagai rintangan. Dilansir dari Buku Kopassus untuk Indonesia karya Iwan Santosa E.A Natanegara, Badri berulangkali diuji kesetiaannya oleh petinggi GAM dengan berbagai tugas yang diberikan.

Petinggi GAM pernah mengujinya meminta untuk menyembunyikan sanak keluarga mereka. Istri Panglima GAM yang sedang hamil delapan bulan disembunyikan di Kota Lhokseumawe oleh aparat demi memaksanya turun dari persembunyian, adalah salah satu anggota keluarga GAM yang dilindungi Badri.

Baca Juga: Kisah Kopassus Menyamar Jadi Tukang Durian Rela Ditempeleng

Badri yang diuji kesetiaannya untuk melindungi anggota keluarga GAM melobi pimpinan TNI dan mengamankan istri Panglima GAM tersebut selama tiga bulan di kos yang disewanya Rp600 ribu per bulan. Bahkan, untuk memastikan aman, dirinya menyewa tiga tempat kos yang tersebar di Lhokseumawe. Operasi tersebut dilakoni Badri demi memelihara jaringan intelijen berjalan sukses.

Bukan hanya itu, Badri pernah diminta untuk memasok beras dan berhasil mengantarnya masuk ke Markas GAM; lalu meloloskan anggota GAM ke Malaysia lantaran posisi mereka akan sangat terdesak saat Darurat Militer diberlakukan.

Tugas intelijen Badri tak sia-sia, tim ilntelijen Kopassus itu akhirnya mendapati bongkar muat 125 pucuk senapan milik GAM yang diselundupkan dari Thailand dan Malaysia. Badri yang datang ke markas GAM di Blang Ngara, Aceh Utara, saat pasokan senjata baru tiba, diminta melatih. Meski menyamar, Badri menggunakan kesempatan itu untuk menyabot senapan senapan GAM.

Baca Juga: Kisah Idjon Djanbi, Pendiri Kopassus yang Lihai Pisahkan Dunia Sipil dan Militer

Alat pembidik pada senapan-senapan GAM sengaja digeser agar tembakan mereka tidak tepat sasaran. Badri juga pernah harus mengecoh patroli TNI agar tidak bisa menyergap GAM dengan memberi bocoran tentang gerakan TNI agar supaya GAM bisa mengindar. Semua itu dilakukan Badri demi penyamarannya sempurna.

Badri pun kerap kali ditembaki oleh TNI saat GAM dikepung. Hal itu terjadi karena penyamaran yang dilakukan Badri tertutup atau rahasia, sehingga rekan-rekannya di TNI, terutama di Lhokseumawe tak mengetahuinya. Penyamarannya hanya diketahui di level pimpinan TNI.

Hal lainnya yang berhasil ditemukan dalam operasi intelijen itu adalah sumber keuangan GAM. Mulai dari perdagangan ganja kering yang dikirim melalui jalur laut dengan kapal-kapal kecil ke Malaysia. Kemudian, pemerintah setempat dan perusahan besar seperti Exxon Mobil, Pupuk Iskandar Muda, Asean Fertilizer dan seluruh warga Aceh juga diwajibkan memberi dana perjuangan GAM.

Bahkan, hewan ternak sapi, kambing, sawah dan kebun tak luput dari Pajak Nanggroe yang dirasa sangat memberatkan rakyat. Namun, setelah pemberlakuan Darurat Militer tahun 2003, ruang gerak GAM semakin sempit. Amunini dan logistik GAM juga sudah sangat menipis.

Pada 2004, turun perintah untuk menangkap hidup atau mati tiga tokoh kunci GAM yaitu, Muzakir Manaf, Sofyan Dawood dan Said Adnan. Badri pun mendapat perintah untuk kembali ke Jakarta.

"Semua tokoh kunci yang menjadi sasaran berada di Cot Girek. Hingga saya pamit meninggalkan mereka pukul 15.00, Said Adnan, Muzakir Manaf dan Sofyan Dawood masih ada di sana. Saya pun masih sempat memberi informasi terakhir kepada induk pasukan. Hari H dan Jam J serangan ditetapkan," kata Badri.

Markas GAM diserbu Kopassus dari semua arah. Namun ternyata Muzakir dan Sofyan Dawood sudah menyingkir malam sebelumnya. Sementara Gubernur GAM Said Adnan dan ajudannya yang seorang desersi TNI meninggal akibat luka tembak di dada dan perut. Muzakir dan Sofyan Dawood yang lolos menyingkir ke kawasan Nisam. 

Di akhir 2004, tsunami mengantam Aceh. Kekerasan pun berangsur surut. Seiring waktu berjalan, perjanjian Helsinski antara Pemerintah Republik Indonesia dan GAM akhirnya ditandatangani.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini